Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
51. Setuju


°°°


Hari ini Emma akan di operasi. Mia pun ijin tidak masuk kerja demi untuk menemani sang mamah sebelum masuk ruangan operasi. Walaupun Daniel termasuk dokter yang hebat tapi kecemasan tetap masih ada dalam hati Mia dan Felice. Bagaimanapun operasi di bagian kepala pasti sang beresiko.


"Kalian tidak usah cemas, mamah saja tidak takut," ujar Emma yang menyadari bagaimana kekhawatiran putri-putrinya.


"Mamah harus bertahan, mamah pasti sembuh." Mia menggenggam tangan mamahnya, berharap setelah ini mamahnya bisa mendapatkan kebahagiaannya. Sungguh malang nasibnya, saat masih bersama sang suami dulu tak pernah bahagia. Setelah terbebas dari pria itu pun harus melawan sakit.


Emma membalas genggaman tangan putrinya, tersenyum lembut yang menyiratkan kalau dia baik-baik saja. "Sebenarnya kalau mamah bisa melihat kamu menikah pun sudah cukup, tidak perlu melakukan operasi. Melihat putri-putri mamah bahagia saja sudah cukup."


"Mamah tidak boleh bicara seperti itu, mamah pasti sembuh. Bukannya mamah ingin melihat ku menikah dan menemani ku di altar nanti, jadi mamah harus sembuh," ungkap Mia, berharap keputusannya sudah benar. Setidaknya ada yang membuat mamahnya bersemangat untuk kembali sehat.


"Nak... jadi kau mau menerima dokter Daniel?" tanya Emma dengan mata berkaca-kaca, baginya ini adalah kabar yang sangat menggembirakan dan ia tunggu-tunggu sejak lama.


"Benarkah Kak??" Felice ikut senang mendengarnya.


"Iya asal mamah sehat lagi dan bisa menemani ku di hari pernikahan nanti," ujar Mia bersungguh-sungguh. Semalam ia berbicara lagi dengan Daniel, ya walaupun mungkin tidak ada cinta di antara mereka tapi sikap dan kesungguhan Daniel membuatnya mau menikah dengannya. Sebelum itu Mia juga menekankan agar Daniel berusaha untuk menyembuhkan mamahnya.


"Mamah akan berjuang untuk sembuh nak, mamah sangat ingin melihat hari itu tiba." Emma tidak bisa lagi menahan harunya.


"Mamah jangan menangis lagi, bukankah seharusnya mamah bahagia," ujar Mia seraya mengusap air mata mamahnya.


"Aku ikut bahagia Kak, dokter Daniel memang pria yang tepat untuk kak Mia."


"Bagaimana kamu tau, apa kau mengenalnya?" goda Mia pada sang adik.


"Tidak bukan itu Kak, tapi dokter Daniel memang baik dan sering datang kemari untuk memeriksa mamah secara khusus," terang Felice.


"Ohh ya, kakak kira ada satu dokter lagi yang sering datang kemari selain dia. Entah tujuannya memeriksa mamah atau apa, sedangkan mamah sudah pasti di periksa dokter Daniel. Lalu apa tujuan dokter satunya lagi yang sering datang," goda Mia yang menyadari kalau akhir-akhir ia ini ada seorang dokter laki-laki yang datang berkunjung itu ternyata sedang mencoba mendekati adiknya.


"Apa kau suka juga dengan dokter itu nak??" tanya Emma yang juga terkejut. Sebenarnya tidak aneh karena dia juga merasakan hal yang sama seperti putrinya.


"Tidak Mah, Kak Mia hanya mengarang. Aku tidak punya hubungan seperti itu dengan dokter Daren," bantah Felice, ya dia juga merasa kalau perhatian dokter Daren bermaksud tertentu padanya tadi untuk saat ini dia masih terlalu takut untuk berhubungan dengan pria. Dan dia juga ingin mengabdikan dirinya untuk sang mamah seperti sang kakak.


Mereka pun saling melempar candaan membuat Emma terus tersenyum bahagia. Bisa melihat kedua putrinya akur dan saling menyayangi adalah hal yang sangat ia syukuri. Walaupun mungkin kehidupan mereka tidak mudah awalnya, mempunyai ayah yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Mereka tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya semasa masih tinggal bersama dan saat ini kehidupan mereka jauh lebih bahagia saat sudah terlepas dari laki-laki itu.


,,,


Mia dan Felice mengantarkan mamahnya menuju ruang operasi. Takut dan khawatir tentunya mereka rasakan. Setiap langkah kaki mereka terasa sangat berat apalagi saat papan yang bertuliskan ruang operasi semakin dekat terlihat.


Emma yang paham akan hal itu pun menggenggam tangan kedua putrinya.


"Silahkan kalian menunggu disini nona," perintah perawat yang tadi membantu mendorong brangkar. Perintahnya menandakan kalau dua wanita itu tak bisa mengantar lebih jauh lagi.


"Kalian tenang saja, hanya perlu berdoa untuk mamah." Emma tersenyum teduh,


"Mamah harus sembuh," ujar Felice yang matanya kini sudah berkaca-kaca. Ibunya menempati posisi yang paling berharga dalam hatinya, bagaimana ia bisa tahan untuk tidak menangis.


"Kau itu cengeng sekali, kita akan bertemu lagi dengan mamah setelah ini." Mia mengacak rambut adiknya, berusaha mengalihkan perasaannya agar tidak menangis.


"Apa ka kakak tidak cemas, lihat kan Mah. Kak kak Mia sama sekali tidak mencemaskan ma mah." Felice bahkan mengatakan hal itu dengan tersedu-sedu, mengejek kakaknya dan membuktikan diri kalau dirinya lebih sayang pada sang mamah.


"Iya iya... kau memang yang paling Sayang pada mamah." Mia mengalah, tak apa selama bisa membuat mamahnya tersenyum.


"Kita harus masuk sekarang Nyonya," ujar perawat tadi yang masih di sana menunggu keluarga kecil itu saling memberi dukungan. Baginya pemandangan itu tidaklah asing karena memang seperti itu setiap kali ada yang mau melakukan operasi. Justru itu membuatnya selalu bersyukur karena anggota keluarga nya sehat dan tak perlu melakukan operasi. Entah apa ia akan tegar seperti dua wanita itu.


Mia dan Felice saling memeluk saat tubuh sang mamah semakin menghilang. Memasuki lebih dalam, ruangan yang mungkin banyak terjadi pertumpahan darah di dalamnya. Bukan karena perang tapi mereka bertarung nyawa melawan penyakit. Yang pasti adalah setiap orang yang memasuki ruangan itu pasti punya harapan yang sama, yaitu bisa keluar dan melihat kembali keluarganya.


Mia masih setia memeluk adiknya, hal yang jarang mereka lakukan. Tapi kini mereka saling rangkul dan menguatkan.


"Apa kau akan menangis terus sampai mamah selesai operasi," ujar Mia. Ya operasi mungkin akan selesai dalam beberapa jam dan tidak mungkin kalau Felice akan menangis selama itu.


"Aku harus bagaimana Kak, aku tidak tega membiarkan mamah sendirian di dalam sana. Bagaimana kalau setelah ini mungkin keadaan semakin parah, bagaimana kalau mamah jadi lupa pada kita." Felice tidak bisa berbohong kalau saat ini dia begitu takut. Orang tuanya hanya tinggal sang mamah yang ia punya, bagaimana kalau terjadi sesuatu dan dia tidak punya kesempatan untuk melihat mamahnya lagi.


"Kenapa kau bicara seperti itu, yakinlah kalau mamah pasti sembuh. Kita akan berkumpul lagi seperti kemarin, aku akan membawa kalian jalan-jalan setelah ini," ujar Mia.


Beberapa saat kemudian, Daniel pun datang menuju ruang operasi. melewati Mia dan Felice.


Sebelum masuk, Daniel menatap Mia dan menganggukkan kepalanya. Begitu pun dengan Mia yang mengangguk, dia menyerahkan mamahnya pada Daniel dan berharap pria itu menepati janjinya untuk menyembuhkan mamahnya.


Sementara laki-laki di belakang Daniel pun memandang Felice penuh harap. Berharap gadis itu memberikan senyum penyemangat tapi sayangnya Felice justru membuang mukanya.


Ishhh gadis itu, Daren mendesis.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗🤗