Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 28. Saya Mencintai Putra Anda.


"Apa kau mencintai putraku?" tanya paman Sam pada Lucy yang sejak tadi tidak berani mengangkat wajahnya.


"Tentu saja cinta, kalau tidak mana mungkin mau menikah," jawab Daren menyambar lebih dulu.


"Ayah tidak bertanya padamu!" Penuh penekannan. "Biarkan dia menjawab semua pertanyaan ayah dengan mulutnya sendiri. Ayah ingin dengar langsung."


"Dasar pria tua menyebalkan," cicit Daren mengejek. Langsung pria itu mendapatkan tatapan tajam dari sang ayah.


Lucy bergeming bukan karena dia tidak mencintai Daren tapi dia gugup sampai sulit mau membuka mulutnya.


"Sayang, ayo katakan padanya kalau kau sangat mencintaiku." Daren mendesak. Sambil menyombongkan diri karena akhirnya ada wanita yang mencintainya.


"Iya, pa-paman saya mencintai putra paman. Saya mencintai Daren, sangat mencintainya." Sangat yakin Lucy mengatakannya. Daren yang mendengarnya saja sampai terperangah, dia merasakan cinta yang begitu besar dari Lucy.


"Hmm... bahkan jika kau tau gajinya kecil sebagai dokter umum dan tidak mendapatkan fasilitas dari saya lagi?" tanya paman Sam serius.


Daren tersentak mendengar pertanyaan yang ayahnya lontarkan, bukan seharusnya pria tua itu tidak seperti ini. Seharusnya di pertemuan itu dia cukup memberikan restu dan semuanya selesai, lalu ada apa dengan pertanyaan jebakan seperti itu. "Apa maksud Ayah?!" Daren berdiri.


"Ayah tidak bicara dengan mu!"


"Tapi kata ayah sudah merestui kami dan bertemu karena ingin kenal dengan Lucy. Apa rencana ayah?" Daren ngotot.


Seharusnya tidak seperti itu, seharusnya pertemuan itu sang ayah akan merestui mereka karena selama ini Daren sudah bersikap baik seperti permintaannya. Tidak pernah menghamburkan uang juga dan sudah tidak pernah bermain wanita, lalu kenapa ada pertanyaan seperti itu?


Lucy pun berusaha menenangkan Daren yang mulai emosi. Dia tidak ingin karena dirinya malah membuat hubungan mereka jadi renggang. "Duduklah, aku tidak apa-apa," lirih Lucy sambil menarik tangan Daren agar duduk.


"Sayang maaf, aku memang tidak berguna. Seharusnya aku tau kalau pria tua ini tidak mungkin akan dengan mudah memberikan restunya." Daren merasa bersalah. "Kita pergi saja dari sini, tanpa restunya pun kita bisa menikah,' tegasnya. Lalu menarik tangan Lucy agar bangun.


"Tunggu." Lucy belum mau beranjak.


"Saya mencintai puntra anda paman, saya sangat mencintainya meski tanpa hartanya sekalipun." Lucy yakin dan berani mengangkat wajahnya.


Daren cukup terkejut sekaligus bahagia mendengar hal itu, dia merasa sangat di cintai oleh Lucy. Baru kali ini ada wanita yang mengatakan hal seperti itu.


Namun rupanya, Daren sang putra sangat bersikeras ingin menikahi wanita bernama Lucy yang jauh di bawahnya bahkan wanita itu janda beranak satu. Pada akhirnya paman Sam pun menyerah melihat keteguhan Daren dan atas saran dari Daniel juga. Tapi hal itu belum cukup, bukannya tidak adil kalau hanya Daren yang membuktikan diri tapi si wanita tidak. Jadilah ia merencanakan sesuatu.


"Baiklah kalian bisa menikah kapanpun mau kalian, tapi tidak ada pesta atau apapun. Kalian bisa mendaftarkan pernikahan kalian sediri dan mengurusnya." Paman Sam mengambil cangkir teh yang ada di depannya lalu meminumnya sambil tersenyum agar mereka tidak bisa melihatnya.


"Maksud ayah?!" tanya Daren terkejut. Lucy juga sama terkejutnya.


"Ayah merestui kalian, kalian bisa menikah dan urus sendiri semaunya."


"Jadi ayah merestui kami?" Masih syok tidak percaya. "Terimakasih ayah, aku tau ayah itu bukan orang yang suka ingkar janji," ujar Daren.


"Terimakasih paman," ujar Lucy juga, dia bahagia akhirnya bisa menikah dengan pria yang ia cintai dan diterima oleh putranya. Dia sampai menangis haru.


Ini hanya awal. Kita lihat nanti, apa kau akan tetap bertahan menjadi istri putraku setelah ini.


Mereka pun melanjutkan acara dengan makan malam, sesekali paman Sam bertanya seputar hidup Lucy. Wanita itu pun menjawab dengan jujur tanpa ada yang ia tutup-tutupi, meski kadang ia merasa kalau calon ayah mertuanya itu sedang menjebaknya dengan pertanyaan atau pun ucapan yang penuh sindiran. Untunglah Daren santai menanggapinya.


"Kau siap menikah besok?" tanya Daren.


"Tentu itu, Zoro pasti sangat bahagia karena akhinya bisa memiliki ayah sungguhana,' Jawab Lucy.


"Tapi maaf dengan sikap dan ucapan ayah, meski dia bilang tidak ada pesta. Aku bisa mengadakan pesta kalau kau mau."


Lucy menggeleng, "Bukan itu yang aku mau, Dicintai olehmu dan kau juga menyayangi Zoro sudah cukup untukku."


"Terimakasih sayang, seandainya ayah mengenalmu lebih dekat pasti dia tau seperti apa kamu sebenarnya." Daren memeluk tubuh Lucy erat dan menghadiahi ciuman di seluruh wajahnya.


"Sudah sudah, ayo turun. Aku tidak sabar ingin memberitahu mamah dan Zoro," ujar Lucy yang menerima serangan itu.


Mereka pun turu dari mobil yang sudah terparkir di basement, bergandengan tangan dengan perasaan bahagia.