Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
140. Tetap Tahan Godaan


°°°


Epilog di tempat lain juga.


Hari-hari Daniel sungguh tersiksa karena hampir setiap malam saat ia menelfon istrinya selalu bertingkah seperti waktu itu. Menggodanya dari kejauhan. Kalau sudah begitu bagaimana mi-liknya bisa tahan, mau tidak mau dia harus menuntaskannya sendiri dengan lima jari.


Kalau saja sudah tidak ada korban lagi akibat bencana, pasti dia sudah langsung melesat pulang ke rumah.


Daniel mengusap wajahnya kasar, anehnya di tempat itu juga gempa bumi susulan terus terjadi. Meski kekuatannya tidak sebesar yang pertama tapi kalau tanah di sana terus dihantam gempa bumi dikhawatirkan kota A yang terletak di pulau yang tidak terlalu besar itu bisa saja terjadi tanah bergerak.


Bukan hanya para dokter dan relawan yang bosan akan bencana alam yang sedang terjadi. Para penduduk asli kota itu juga. Meski di pengungsian segala kebutuhan terjamin tapi tetap saja berbeda. Duka dan derita juga menyelimuti mereka, dimana bukan hanya kehilangan tempat tinggal tapi juga sanak saudara bahkan orang terkasih.


Kalau masalah tempat tinggal, kabarnya pemerintah akan membangunkan rumah anti gempa untuk para korban. Dad Alex juga akan ikut mendanainya. Tapi kalau nyawa yang hilang, mereka hanya bisa mengenang mereka.


"Selamat siang dokter," sapa seseorang menghampiri Daniel.


Daniel menoleh, kebetulan dia sedang di luar tenda untuk melihat kegiatan para pengungsi.


"Ini saya bawakan makan siang untuk dokter. Ini saya masak sendiri untuk dokter." Ternyata Mishel, wanita itu masih belum menyerah juga. Berharap punya suami tampan seperti Daniel, apalagi kabarnya dokter Daniel juga putra salah satu konglomerat di negara ini.


"Terimakasih Nona, tapi saya baru saja makan."


Tampak sekali wanita itu sangat kecewa. Segala usaha sudah dia jalankan tapi tetap tidak berhasil. Padahal dia lumayan cantik menurut nya tapi kenapa dokter Daniel tidak tertarik juga padanya. Sementara dia sudah mencoba kalau dia menggoda pria lain dengan mudahnya mereka akan langsung menyukainya.


"Oh sayang sekali, saya kira dokter belum makan siang tadi."


Mishel merutuki orang suruhannya, apa informasi yang dia dapat salah. Dia tadi sudah menyuruh orang untuk mengawasi Daniel dan katanya pria itu belum makan.


Mishel memang salah satu putri pengusaha di sana. Jadi punya banyak uang dari orangtuanya. Sementara dari mana dia dapat uang itu saat terjadi musibah seperti itu di kota A. Tentu dari orangtuanya yang pergi ke kota tetangga, rumahnya banyak jadi tidak bingung. Kalau Mishel, wanita itu tetap bertahan di sana jelas karena Daniel.


"Dok, apa anda bisa memeriksa kakiku. Entah kenapa masih terasa nyeri." Memasang wajah memelas.


"Apa kaki anda belum sembuh juga nona?" Aneh harusnya sudah sembuh, tapi hampir setiap hari wanita itu datang dan minta diperiksa.


"I-ya Dok, rasanya masih nyeri. Kemarin juga sempat berdarah lagi." Pura-pura kesakitan, meringis sambil memegangi kakinya.


"Baiklah, coba saya lihat dulu."


Mereka sudah ada di tenda untuk periksa. Mishel sudah duduk dengan pinggir ranjang, dia yang menggunakan gaun selutut menaikkan sedikit gaunnya. Sengaja, untuk menggoda Daniel. Bodohnya kalau dia pikir laki-laki seperti Daniel akan tergoda. Daniel sendiri sangat membenci yang namanya perselingkuhan, jadi mana mungkin dia akan mengkhianati pasangannya. Terlebih lagi, tidak akan ada yang bisa menandingi istrinya yang begitu sek-si dan menggoda di rumah.


"Aaww...." Mishel mengaduh kesakitan saat Daniel melepaskan perban yang membalut lukanya.


Anehnya luka itu tampak masih menganga dan belum juga mengering.


"Nona, apa anda tidak menjaga luka anda. Kenapa masih seperti ini. Kalau seperti ini terus harus dilakukan tindakan khusus," ujar Daniel tampak serius.


"Saya juga tidak tau Dok. Saya hanya melakukan kegiatan seperti biasa lalu tiba-tiba saja lukanya kembali mengeluarkan darah," jawab Mishel.


Daniel tampak berpikir dan curiga, seharusnya itu luka yang tidak terlalu parah tapi mengapa lama sembuhnya. Bahkan luka bekas operasi saja akan mudah mengering. Tiba-tiba saja dia punya ide.


"Sepertinya ini gawat Nona," panik Daniel sambil mengamati luka itu.


"A-ada apa Dok?" Mishel tampak takut.


"Sepertinya lukanya infeksi dan kalau dibiarkan akan terus melebar dan busuk. Sepertinya jalan satu-satunya adalah amputasi."


"A- amputasi?? Apa kaki saya akan di po-tong?" Beneran takut, raut wajah Mishel bahkan mulai pucat. Tidak bisa, ia tidak bisa kehilangan kakinya.


"Ya, kalau lukanya tidak sembuh juga harus dipotong agar tidak melebar dan busuk."


Mishel buru-buru turun dari ranjang, bahkan perbannya juga belum di pasang lagi. Dia menggigil ketakutan, membayangkan kakinya di potong. Itu sangat menakutkan, dia tidak mau.


"Kau mau kemana, Nona? Saya belum selesai mengobati nya." Daniel tersenyum puas karena wanita itu percaya pada apa yang ia katanya. Dari caranya yang buru-buru turun dan tampak ketakutan.


"Sudah tidak apa-apa, biar begini saja Dok. Mungkin akan cepat kering kalau terbuka seperti ini," elaknya, padahal aslinya ketakutan. "Kalau begitu saya permisi dulu dokter. Terimakasih."


"Baiklah kalau itu mau anda, dua hari lagi silahkan kembali kesini. Kalau masih seperti itu, kita akan langsung melakukan tindakan operasi."


Wajah Mishel tampak tegang mendengar kata operasi. Dia seperti mendapatkan mimpi buruk.


Segera ia pergi dari sana.


"Tunggu nona, makanan mu tertinggal," teriak Daniel sambil tersenyum puas karena rencananya berhasil.


Wanita itu tak peduli dengan teriakkan Daniel, dia terus berjalan dengan cepat.


"Bukannya itu Mishel?" heran Daren, karena sering sekali dia melihat wanita itu ada di sana.


"Ya kau benar."


"Kenapa dia seperti buru-buru sekali? Eh apa makanan itu darinya?"


"Ya tadi tertinggal disini, kalau kau mau makan saja." Daniel menyerahkan kotak makanan itu pada Daren.


"Waahh terimakasih bro." Daren tersenyum senang karena sebentar lagi dia bisa merasakan masakan buatan wanita cantik.


to be continue...