
°°°
Seketika rumor dan gosip menyebar di rumah sakit. Tentang dokter Daniel yang akan berhubungan dengan keluarga pasiennya. Dari grup chat para pegawai rumah sakit hingga dari mulut ke mulut, memang kejam omongan orang lebih kejam dari ibu tiri.(š)
Untungnya Daniel bukan tipe orang yang suka mendengarkan omongan orang, begitupun dengan Mia. Tapi justru mereka saling mencemaskan.
Brak!!
Seseorang datang dan menutup pintu dengan keras.
"Kau sudah membaca beritanya? Semua orang membicarakan tentang kamu dan keluarga pasien." Daren berbicara sambil mengatur nafasnya akibat berlari mencari keberadaan sepupunya.
"Lalu??"
Daren ingin sekali memukul wajah menyebalkan itu, bukannya panik malah tenang-tenang saja duduk di ruangannya.
"Kenapa kau tidak mengklarifikasi kebenarannya, apa kau akan membiarkan hal ini begitu saja?" Untung saja Daniel itu calon kakak ipar gadis yang ia sukai, kalau tidak mana mungkin ia peduli. Semua itu ia lakukan demi wanitanya.
"Klasifikasi untuk apa, yang mereka bicarakan semuanya sudah benar."
Gubrak!! sia-sia Daren panik sendiri kalau orang yang ia pikirkan malah tak ambil pusing.
"Apa kau tidak memikirkan wanita itu dan keluarganya?" aahh siapa namanya kemarin, ia lupa. Padahal mungkin wanita itu calon kakak iparnya, dalam mimpi!
"Kenapa dengan mereka?"
"Astaga Niel, kau bisa duduk tenang disini tanpa gangguan tapi bagaimana dengan mereka. Kau tau para penggemar fanatikmu pasti akan mencari masalah dengan wanita itu."
"Mia namanya Mia..." Daniel membenarkan.
"Iya itu maksudku. Apa kau memikirkan perasaannya saat orang-orang membicarakannya?" Kali ini ucapan Daren ada benarnya dan Daniel malah tidak kepikiran sampai kesana.
Daniel menyentuh kening Daren untuk mengecek suhu tubuhnya apakah normal atau tidak.
"Apa-apaan kau!" Daren menepis tangan sepupunya.
"Ku kira ada yang salah, tumben ucapanmu ada benarnya," ujar Daniel dengan melipat kedua tangannya.
"Tentu saja, aku lebih pengalaman tentang perempuan. Lebih peka dan lebih memahami perasaan mereka lebih dari siapapun." Begini baru benar, Daren sudah kembali seperti semula.
Daniel mulai mengotak-atik ponselnya dan menyuruh seseorang untuk menghapus semua berita. Tapi ia lupa sepertinya kalau ada grup chat. Tentu semua orang membicarakannya di sana.
"Kau mau kemana??" tanya Daren saat sepupunya beranjak dengan tergesa-gkesa.
"Apa lagi? tentu saja mau menemui nya." Daniel melanjutkan langkahnya.
"Tunggu!! Di luar suasananya benar-benar tidak kondusif. Kalau kau kesana sekarang bukankan akan memperburuk keadaan."
Daniel berhenti dan memutuskan untuk menghubungi Mia untuk menanyakan keadaannya.
"Hallo, ini aku."
š"Kau tau nomorku?"
Terdengar suara kekehan di seberang sana, membuat Daniel mengerutkan keningnya.
š"Apa kamu mengkhawatirkan ku? Tidak perlu karena aku sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Bahkan ucapan yang sangat buruk pun pernah aku dengar jadi kalau hanya seperti ini aku tidak apa-apa. Justru aku khawatir kalau hal ini mempengaruhi pekerjaan dokter di sini."
Kamu, aku... bukan saya dan anda lagi. Woooww!! Bukankah ini kemajuan.
"Sungguh tidak apa-apa?? Tapi sekarang ada aku yang akan melindungi mu dan keluarga mu. Jadi jika ada yang mengusik kalian, tidak akan aku biarkan."
Tiba-tiba saja Mia merasakan kehangatan mendengar perkataan Daniel. Dia pun tersipu, Untung saja itu bukan video call jadi tidak perlu lagi menutupi rasa malunya.
š"Terimakasih, terimakasih sudah menyelamatkan mamah. Terimakasih karena sudah banyak membantu, dan terimakasih..."
"Sssttt... kau mau berterimakasih sampai kapan?"
š"Maaf... aku hanya tidak tau bagaimana caranya membalas kebaikan dokter pada kami."
"Dengan menikah dengan ku."
Mungkin jika Mia masih berusia dua puluhan akan langsung terbang guling-guling mendengar kalimat seperti itu. Untunglah Mia hanya sedikit tersipu dan melengkungkan bibirnya keatas. Sudah lama rasanya dia tak pernah merasakan hal seperti itu. Saat bersama Justin dia terlalu sibuk bekerja dan tidak punya banyak waktu untuk berdua. Mungkin itulah yang membuat pria itu lebih nyaman dalam pelukan wanita lain.
š"Terimakasih..."
Siapa sangka kalau sejak tadi ada sang adik yang melihat gerak-gerik kakaknya dari pintu. Sang kakak memang berada di balkon kamar rawat mamahnya. Sedikit menghindar dari bisingnya suara manusia yang berdengung di telinganya, atau bisa dikatakan menyiapkan diri agar kebal menghadapi itu semua.
"Ciyeee... yang habis teleponan sama calon suami," ledek Felice dia mendekati kakaknya, berdiri di pinggir balkon.
"Kau menguping! Dasar anak nakal," ujar Mia tapi dia sama sekali tidak marah justru mengusap lembut kepala adiknya.
"Aku senang akhirnya kakak mendapatkan laki-laki yang tepat." Felice menengadahkan kepalanya melihat bintang yang berkelap-kelip di langit malam.
"Kenapa kau begitu yakin kalau dokter Daniel adalah orang yang tepat?"
"Karena perasaan ku kak, feeling ku mengatakan dokter Daniel adalah orang yang tepat untuk kakak. Walaupun mungkin kalian belum saling jatuh cinta sepertinya," ujar Felice tanpa beban.
Mia pun cukup terkejut mendengarnya, apa ada yang adiknya tau.
"Jangan kaget begitu Kak," seloroh Felice saat melihat kakak berwajah tegang. "Aku bukan anak kecil lagi, ingat umurku sudah dua puluh dua tahun. Sebentar lagi aku lulus kuliah." Felice Kembali menatap ke atas. Sambil menikmati semilir angin malam.
"Kakak tau, kau sudah dewasa sekarang." Mia pun mengikuti arah pandang adiknya, menunggu apalagi yang akan dikatakan sang adik.
"Malam itu, saat kak Mia tidak pulang ke rumah. Aku tidak sengaja terbangun tengah malam dan masuk ke kamar kakak untuk mencari obat sakit perut tapi kakak tidak ada di kamar dan paginya kakak pulang dengan menutupi beberapa tanda merah di leher kakak." Felice menjeda ucapannya.
"Aku tau ini urusan kalian orang dewasa, bahkan di negara ini tidak melarang pasangan yang bukan suami istri satu rumah. Jadi itu bukan masalah besar untukku dan aku memilih diam, malah aku bersyukur dan berharap kalau kakak sudah menemukan pria yang tepat. Ternyata itu dokter Daniel?? Apa dia kak yang membuat kakak tidak pulang malam itu?" Felice beralih pada kakaknya.
"Kau benar-benar sudah dewasa, Felice. Kau benar, dan kami memang belum punya perasaan apapun. Dan malam itu adalah kesalahan kami, tapi dokter Daniel baik dan ingin bertanggungjawab, walaupun awalnya aku menolak tapi melihat kesungguhannya aku mau mencoba. Kalian juga sepertinya menyukai nya."
"Aku paham Kak, terimakasih jawabannya. Ya aku paham kak Mia tidak mungkin menikah dengan pria asing kan, makanya perlu waktu untuk memikirkan banyak hal. Tapi aku yakin kalau dokter Daniel itu baik dan bisa membahagiakan kakak."
like komen dan bintang lima ššš