Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
43. Mantan Yang Mengesalkan


°°°


Mia datang ke kantor atasannya setelah mendapatkan telepon.


"Coba kau tanyakan ke devisi pemasaran, kenapa bisa ada masalah seperti ini," titah tuan Alex pada Mia.


"Baik Tuan akan saya tanyakan sekarang juga." Mia pun menerima berkas yang bermasalah tadi.


"Satu lagi, sebenarnya aku tidak ingin memaksa kamu untuk menikah dengan putraku tapi coba kau pikirkan baik-baik sebelum menolaknya," ujar tuan Alex lagi.


"Saya mengerti Tuan, saya permisi." Mia pun segera pergi dari sana.


Sebenarnya aku sangat berharap Mia mau menikah dengan Daniel. Semoga saja Daniel berhasil membujuk Mia.


,,,


Mia kembali ke meja kerjanya.


Wajahnya tiba-tiba muram setelah kembali dari ruangan tuan Alex. Bukan karena masalah pernikahan tapi karena masalah perusahaan yang barusan ia terima. Dimana itu berhubungan dengan devisi pemasaran yang dipimpin oleh mantan tunangannya.


Padahal dia ingin menghindar tapi justru terus terhubung dengan mereka. Mau tidak mau dia tetap harus datang untuk bertanya. Bagaimanapun dia akan bersikap profesional dalam pekerjaannya.


Huft... sudahlah. Jangan pedulikan apapun Mia. Fokuslah dalam bekerja.


"Mia, kamu mau kemana?" tanya Catty saat berpapasan dengan temannya.


"Bertemu mantan," jawab Mia dengan asal.


"Hai tunggu! Jangan bilang kau mau balikan dengannya!" pekik Catty yang sudah was-was.


Sementara Mia hanya tersenyum geli di dalam lift.


Sampailah Mia di lantai 10, di mana devisi pemasaran bekerja. Kedatangan Mia di sana tentu membuat seseorang meradang, siapa lagi kalau bukan Laura yang merupakan staf bagian pemasaran.


Mau apa wanita itu ke ruangan suamiku. Batin Laura saat melihat langkah Mia menuju ruangan Justin.


"Ra, itu bukannya nona sekretaris itu. Mau apa dia ke ruangan pak Justin," bisik teman Laura.


"Jangan-jangan mereka diam-diam menjalin hubungan di belakang kamu, Ra. Sepertinya dia sudah tidak laku lagi, sampai mengemis pada pak Justin untuk kembali."


Mereka mencibir Mia seenaknya.


Sementara di ruangan Justin.


"Cepat katakan apa yang terjadi, tuan Alex butuh penjelasan," tukas Mia.


"Duduklah dulu, mau minum apa?" tanya Justin dengan ramah tapi justru membuat Mia muak.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi. Cepat aku mau penjelasan dan data yang benar." Mia melipat kedua tangannya.


"Kita bisa mengurus masalah ini nanti, ada hal yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Justin dengan tidak tau malu.


"Cihhh...," Mia hanya menanggapi dingin.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus masalah pribadi dan masalah di antara kita juga sudah selesai sejak lama. Jadi tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


"Sekarang aku minta data satu bulan ini kirimkan ke ruangan ku hari ini juga, lalu segera selesaikan masalah yang devisi kalian buat." Mia tidak ingin berlama-lama di sana.


"Dan satu hal lagi, tolong peringatkan istri mu agar tidak mengganggu ku lagi. Jangan khawatir aku tidak akan mungkin merebutmu kembali karena barang yang sudah aku buang tidak mungkin aku pungut lagi."


Justin mere maas kertas yang ada di mejanya lalu mengumpat dengan kasar, "Shittt... kenapa wanita itu jadi dingin begitu. Sepertinya akan sulit untuk mendekati nya lagi."


Mia keluar dari ruangan itu dengan kesal, bukannya menyelesaikan pekerjaan malah membahas masalah yang tidak penting. Kalau begini dia jadi harus kerja dua kali untuk memeriksa sendiri permasalahan ini karena dia malas untuk berdiskusi dengan kepala devisi pemasaran itu.


Dia kira siapa seenaknya mau bicara hubungan dengan ku. Membuatku kesal saja.


Ya tentu saja dia dulu merebut Justin agar terlihat lebih hebat dan disegani oleh rekannya. Jadi dia tak mungkin membiarkan suaminya itu lepas darinya.


Awas saja kau di rumah nanti, Justin.


,,,


Mia kembali ke rumah sakit setelah pulang bekerja.


"Aku pulang," ujarnya.


"Mah... Felice... kenapa tidak ada orang?" bingungnya karena tak menemukan siapapun di ruangan ini.


Mia pun kembali keluar untuk mengecek no kamar nya.


"Ini benar no 116 tapi kenapa mereka tidak ada di dalam."


Mia pun mulai panik, dia mencoba menelpon adiknya tapi tidak ada jawaban. "Kemana perginya mereka?" Dengan tubuh yang lelah, Mia mencari keberadaan mamah dan adiknya. Dia pun bertanya pada petugas pendaftaran, dia khawatir kalau mamah dan adiknya pergi tanpa memberitahu nya.


"Sus, pasien atas nama Emma di mana? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?" tanya Mia dengan panik.


"Sebentar saya cari dulu." Perawat itu pun mulai mencari nama pasien itu. "Pasien yang sebelumnya di kamar 116 sudah dipindahkan ke kamar 05 di lantai dua," terang perawat itu.


"Apa dipindahkan?? Siapa yang memindahkan mereka tanpa ijin diriku. Saya ini putrinya sus, seharusnya ijin dulu padaku." Kepala Mia terasa mau pecah karena terlalu banyak permasalahan yang datang tiba-tiba.


"Maaf Nona, sebaiknya anda tanyakan langsung pada yang bersangkutan karena kami telah memindahkan pasien sesuai prosedur dari rumah sakit."


Kenapa mereka tidak bilang apa-apa padaku.


"Di mana kamarnya tadi sus?" tanya Mia lagi.


" Kamar VIP 05."


Mia melotot mendengarnya, bagaimana mamahnya bisa dipindahkan ke ruangan VIP. Lantas bagaimana dengan biayanya nanti, di kamar kelas bawah saja tagihannya sudah membengkak. Bukan Mia pelit karena tidak mau memberikan kamar yang nyaman untuk mamahnya tapi dia hanya memikirkan berbagai biaya dan printilannya.


Mia pun pergi ke lantai dua dan mencari keberadaan mamahnya. Dari luar saja kamar-kamar pasien di lantai itu memang sangat luas dibandingkan dengan kamar kelas bawah.


Itu dia kamar 05.


Sebelumnya Mia mengetuk pintu karena masih tidak percaya kalau mamahnya dipindahkan disana. Kalau pun memang sang mamah yang meminta, dia tidak akan melarangnya. Soal biaya nanti bisa dicari.


Tok tok tok.


Tidak lama seseorang membukakan pintu untuk Mia.


"Kak Mia, sini masuk." Felice dengan wajah sumringahnya menarik sang kakak untuk masuk.


"Mah... kak Mia sudah datang," ujar Felice pada sang mamah yang berbaring di ranjang pasien yang pastinya lebih besar dari sebelumnya.


"Sayang, kau sudah pulang. Bagaimana kamar ini, bagus kan, luas dan nyaman lagi," ujar mamah Emma sama sumringahnya. "Baik sekali rumah sakit ini memberikan diskon 90% untuk kita, kita jadi bisa pindah kesini," ujarnya lagi.


Mia pun menaikan alisnya. "Diskon?? Kamar VIP? Apa mungkin ada program seperti itu?" batin Mia yang merasa janggal.


"Disini juga ada kulkas Kak, sudah ada isinya lagi. Sofanya juga empuk. Tubuhku tidak akan sakit-sakit lagi kalau tidur disini." Felice menjajal semua fasilitas yang ada disana.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo 🤗🤗🤗