Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
129. Selalu Mengagumi Bulatan itu


°°°


"Danieell !!" Mia tersentak ketika tiba-tiba mendengar suara yang amat dia kenali. Dia berbalik dan mendapati suaminya sedang duduk di sofa dan memandangi tubuhnya tanpa berkedip.


Sedikit kemudian Mia pun tersadar kalau dia tak mengenakan apapun. Pantas saja jakun suaminya naik turun. Buru-buru Mia menggapai handuk yang tadi ia jatuhkan asal.


"Niel... apa kau sudah lama di sana?" tanya Mia malu, walaupun pria itu suaminya tapi tetap saja malu.


"Ehemm... cukup lama dari saat kamu masih di kamar mandi." Daniel membuka kancing atas kemejanya. Rasanya tubuhnya semakin memanas saja.


"Ohh... la-lalu kenapa kau tidak bersuara dan tidak menyalakan lampu." Pipi Mia sudah memerah menahan malu, pasti suaminya tadi melihatnya ber-te-lan-jang.


"Kenapa...?" tanya Daniel, lalu dia berdiri dan berjalan mendekati istrinya. "Kalau aku bersuara, aku tidak akan mendapatkan pemandangan indah seperti tadi." Bisiknya dengan nada sen-sual tepat di telinga Mia.


Sontak saja Mia langsung mundur, hembusan nafas Daniel seperti menggelitik telinganya dan hampir membuatnya me-remang.


"Kalau begitu aku pakai baju dulu, setelah itu kita turun untuk makan malam." Mia harus segera pergi kalau tidak ingin menjadi santapan lezat suaminya. Lihat tatapan mata pria itu saja sudah bikin merinding.


"Kenapa buru-buru, aku belum mendapatkan makanan pembuka." Bisik Daniel tepat di belakang istrinya yang saat ini sedang mengambil pakaian ganti.


"Aakkhh... Daniel... jangan begini." Tubuh Mia menegang saat tangan Daniel meraih bu-kit kem-barnya dan memberikan re-masan lembut.


"Biarkan aku mendapatkan makanan pembuka ku..." Daniel mengecupi tengkuk istrinya dan pundak sang istri yang terbuka. Tangannya juga masih bekerja di depan sana.


Mia yang tidak kuat menahan sen-sasi dari ulah tangan dan bi-bir suaminya pun berpegang pada lemari pakaian. Suaminya begitu pandai membuat dirinya lemas, kakinya saja sudah bergetar hebat.


Dalam sekejap Daniel berhasil membalikkan tubuh istrinya dan segera menyingkirkan handuk sialan itu. Ditatapnya benda bulat kesukaannya, yang selalu menggantung indah pada tempatnya.


"Bukannya kau yang menggodaku tadi... kalian nakal..." PLAK... Daniel menampar pelan da-da Mia dan membuat benda itu bergoyang mengikuti tangannya.


"Uhhh... aku tidak menggoda mu, Niel. Aku hanya sedang mengoleskan krim. Itu karena kau tidak bersuara tadi... akhh... " Lagi pria itu mempermainkan pa-yu-da-ra nya. PLAK !! PLAK !!


Mia menggigit bibir bawahnya, bukannya kesakitan tapi apa yang Daniel buat malah membuatnya semakin terpancing gai-rah.


"Ti-dak... itu hanya krim pelembab. Sudah aku bilang kalau aku juga tidak tau kenapa bisa sebesar itu."


Apapun penyebabnya, yang pasti ukuran da-da Mia sungguh membuat Daniel puas saat me-re-mas dan me-nyu-su. PLOP!! Daniel meng-hi-sap kuat dan melepaskan nya begitu saja sampai menimbulkan suara.


Mia sudah pasrah, membiarkan suaminya bermain-main dengan benda kesukaannya. Dia seperti punya bayi besar kalau seperti ini. Sudah pasti setelah ini, da-da nya akan terasa perih setelahnya.


Puas me-nyu-su, Daniel mengangkat tubuh polos istrinya dan ia turunkan dia atas ranjang. Tanpa basa-basi, dia pun menanggalkan pakaiannya dengan tidak sabaran sampai beberapa kancing kemejanya terlepas.


"Kau sudah sangat basah," ujar Daniel sambil tersenyum menyeringai, menyentuh bagian lipatan daging bagian bawah dengan jarinya. Baru juga bagian atasnya yang ia ja-mah tapi istrinya sudah sebasah itu.


Mia hanya tersenyum malu, lalu memalingkan wajahnya yang sudah sangat merah.


Tapi hal itu tidak bertahan lama karena Daniel menyentuh dagunya dan menghadapkan wajahnya ke arahnya. Hingga tatapan mata mereka saling bertemu. Daniel menatap lekat wajah Mia, menatapnya penuh damba dan cinta. Entah sejak kapan, tapi ia yakin kalau perasaan itu adalah cinta. Hanya saja keduanya sama-sama belum menjabarkan hal itu secara lisan.


Dikecupnya kening, mata, hidung, pipi dan berakhir di bi-bir yang selalu terasa manis. Daniel me-lu-mat sebentar kemudian kembali menatap manik mata istrinya.


"Terimakasih sudah mau menikah denganku, kau wanita hebat dan aku selalu bangga padamu."


"Kenapa tiba-tiba berterimakasih?" Mia terpaku.


"Tidak apa-apa, hanya saja selama ini aku belum mengatakannya." Daniel tersenyum.


Entah kenapa tiba-tiba perasaan Mia tidak enak. Dia langsung mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan merapatkan tubuh mereka. Memeluknya begitu posesif .


"Niel, jangan membuat ku takut," lirih Mia.


"Hai... kenapa, apa ucapan terimakasih ku begitu menakutkan." Daniel menanggapi nya santai.


"Iya, itu terdengar aneh."


Daniel mendaratkan kecupan di kening istrinya bertubi-tubi. Mungkinkah perasaan wanita itu tau kalau dia akan pergi. Itu berarti posisi nya di dalam hati sang istri sudah berarti.