
Lucy menangis sejadinya di ruangan khusus pelayan wanita menyimpan barang-barang nya. Dia ingin sekali berlari memeluk laki-laki yang saat ini bahkan masih sangat ia cintai. Tapi bagaimana kalau laki-laki itu ternyata sudah bahagia dengan wanita lain, dan bagaimana kalau kehadirannya justru membuat keadaan tuan Sam memburuk lagi.
Dia teringat anak-anaknya, mereka yang selalu menanyakan papi mereka. Mereka yang selalu berdoa agar papi mereka segera pulang dan menjemput mereka. Lucy terisak dengan tubuh bergetar, bagaimana bisa dia mewujudkan keinginan anak-anaknya.
Apalagi anak keduanya yang sama sekali belum pernah bertemu dengan Daren. Dia seorang putri, sangat cantik dan pintar. Lucy selalu merasa bersalah pada putri kecilnya. Dia harus merasakan apa yang kakaknya rasakan dulu, tidak diinginkan dan tidak diakui.
"Lucy!! Kenapa kau malah enak-enakkan disini, teman-teman mu masih sibuk bekerja kau malah bersantai disini. Apa kau mau kau potong gajimu."
Lucy buru-buru menghapus air matanya. Lalu berdiri dan menundukkan kepalanya. "Maaf senior, tadi kepalaku agak pusing jadi beristirahat sebentar disini."
"Apa kau sakit?"
"Tidak, hanya sedikit pusing saja."
"Ya sudah kau makan siang saja dulu, dari pada kau pingsan dan menyusahkan orang. Nih ambillah milikku, cepat makan dan kembali bekerja." Menyerahkan satu kotak makanan dan minuman.
"Tidak perlu senior, saya bisa mengambilnya sendiri." Lucy menolak.
"Ini perintah dan apa kau tau kalau di sana sangat mengantri. Kau bisa pingsan di sana karena menunggu terlalu lama."
"Hmm baiklah, terimakasih senior." Lucy pun menerima niat baik senior nya. Dia juga malas untuk keluar dan mengantri untuk mengambil makanan. Setiap kali dia melihat jejeran makanan lezat, Lucy akan teringat anak-anaknya dan pada akhirnya dia hanya akan mengambil lauk sederhana.
Mungkin karena terlalu lelah dan banyak menangis membuat Lucy menghabiskan makanannya. Dia juga merasa harus punya banyak tenaga karena pesta ini pasti masih sangat lama. Bisa jadi sampai dini hari. Dia tidak ingin jatuh sakit dan malah tidak bisa bekerja, lebih baik dia makan yang banyak agar mempunyai cukup tenaga.
Sekarang tinggal sebuah teh susu hangat yang akan dia habiskan juga. Lucy membereskan sisa-sisa makanan nya, kenyang sudah perutnya. Sekarang saatnya dia kembali bekerja.
Baru saja Lucy keluar dari ruang istirahat, seseorang memanggilnya.
"Lucy, tunggu. Kau tolong antarkan minuman ini ke kamar nomor 166. Jangan pakai lama, ingat kau sudah melakukan kesalahan sekali. Kali ini kau tidak boleh teledor lagi." Ternyata seniornya yang memanggil dan menyerahkan satu nampan berisi minuman kepadanya.
"Tapi senior?? bukannya ini tugasnya pelayan hotel?" tanya Lucy.
"Sama saja, mereka tamu dari pesta pernikahan. Berarti tugas kita juga. Cepat sana, jangan sampai membuat orang penting menunggu lama."
Sementara sebuah senyuman menyeringai tercetak di bibir wanita tak berperasaan itu. "Heh... Makanya jangan sok jual mahal jadi wanita. Kau juga sudah membuat kekasih ku berpaling, sekarang nikmati malammu bersama tua bangka itu."
Daren masih terus mencari, sekarang target nya adalah wanita dan pria yang tadi terlibat percakapan di lorong. Daren baru saja mendapatkan informasi kalau wanita itu ada di suatu tempat. Cepat-cepat Daren kesana.
"Itu dia! Tangkap dan ikat dia." Daren memerintah anak buahnya.
Tentu saja wanita itu memberontak dan terkejut dibuatnya. "Hai... apa-apaan ini? Kalian siapa? kenapa menangkap ku?!" "Lepaskan aku!! Siapa kalian?!"
Wanita itu sudah ada di hadapan Daren. Dipaksa berlutut dengan tangan yang terikat. Dia terkejut saat melihat Daren ada di sana. "Tuan Daren? Kenapa anda melakukan ini pada saya? Apa salah saya tuan?"
"Kau tidak usah pura-pura lagi. Cepat katakan dimana letak kamar laki-laki brengseek itu!!" Sentak Daren dengan emosi.
Wanita itu membulatkan matanya, apa maksud dari pertanyaan laki-laki di depannya. Apa mungkin rencananya sudah diketahui. "A--apa maksud anda taun? Kamar apa? laki-laki siapa? Saya sama sekali tidak mengerti." Dia tentu saja takut. Sekarang saja lututnya terasa lemas saat melihat berapa banyak orang ajudan dengan bertubuh besar yang bisa saja menghabisi nya.
"Kau masih mau mengelak hah!! Kau mau mengatakannya atau aku akan menyuruh mereka menikmati tubuhmu secara bergilir!" ancam Daren. Dia mungkin tidak sungguh-sungguh akan hal itu, tapi hanya dengan ancaman maka wanita itu akan takut. Wanita pasti akan lebih memilih mati dari pada digilir. Jadi ancaman menghabisi tidak akan mempan.
Terbukti saat ini wanita itu langsung berubah ketakutan dan berusaha memegangi kancing kemejanya.
"Baiklah kalau kau tidak mau bicara juga. Aku bisa mencari tau sendiri. Tapi kau! silahkan nikmati malammu dengan mereka." Daren memberi kode pada anak buahnya untuk menggertak wanita itu .
"Ayo nona, biarkan kami memuaskan mu. hahaha..."
"Kemari lah nona..."
"Aaaa... tidak!! Kalian jangan mendekat!!"
"Berteriaklah sekerasnya, karena tidak akan ada yang menolong mu nona. Tenang saja, kami akan pelan-pelan."
Wanita itu jelas saja ketakutan, melihat jumlah mereka yang begitu banyak.