
°°°
Daniel lebih memilih keluar dari ruangan pamannya daripada mendengarkan perdebatan antara ayah dan anak itu.
Mereka tidak berubah, masih suka bertengkar tapi aku iri pada mereka. Mereka bisa sesantai itu saat berinteraksi tidak seperti aku dan Daddy yang kaku. Daniel berkata dalam hati.
Daniel berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Tidak sulit mencari ruangannya karena ada papan petunjuk arah di mana-mana.
Bug!
"Maaf, saya tidak sengaja. Apa anda tidak apa-apa Nona?" Tidak sengaja Daniel menyenggol seseorang hingga sedikit terhuyung.
"Tidak apa-... Daniel... itu benar kau?" tanya wanita itu setelah mengangkat wajahnya hingga Daniel pun dapat melihat dengan jelas siapa dia. Wanita yang berhasil mematahkan hatinya saat pertama jatuh cinta.
"Jasmine...," gumam Daniel seraya tersenyum getir, tidak menyangka secepat itu bisa bertemu dengan orang paling tidak ingin dia temui.
"Kenapa kau ada disini, bukannya katanya kamu sudah jadi dokter yang hebat di negara K. Jangan bilang kalau kau..."
"Aku mau ada dimana itu bukan urusan kamu. Satu lagi, perlu kamu tau. Aku di negara ini bukan karena kamu, tapi memang keluarga ku ada disini. Jadi jangan terlalu percaya diri." Daniel berkata dengan tegas agar wanita itu tidak mengira kalau dia ada di negara S karena ingin menyusul wanita itu.
"Oh ya? Keluarga mu ada disini, kenapa aku baru tau. Lalu apa kamu akan bekerja di rumah sakit kecil ini sekarang? Apa tidak sayang dengan jabatan mu di luar negeri?" tanya Jasmine dengan senyum meremehkan.
"Aku tidak perlu memberitahu mu apa yang mau aku lakukan." Daniel sungguh muak dengan wanita itu. Tidak habis pikir kenapa dulu dia bisa jatuh cinta pada Jasmine. Padahal Jasmine tidak seperti itu dulu, saat bersamanya dia sangat lembut dan terlihat lugu.
"Kamu tidak perlu dingin seperti itu Niel, aku tau kamu masih belum bisa melupakan ku sampai sekarang. Maaf Niel, aku tidak bermaksud menyelingkuhi mu. Aku tidak bisa mencegah perasaan ku mau jatuh cinta pada siapa." Jasmine memasang wajah tak bersalah nya, yang terlihat lugu dan polos.
Kalau dulu, Daniel pasti langsung luluh melihatnya tapi sekarang itu sudah tidak mempan.
"Sayang, ternyata kau di sini." Seseorang datang, orang kedua yang juga tidak ingin Daniel temui. Dia memeluk pinggang Jasmine seolah sangat takut kehilangannya.
"Kak..., tadi aku ingin ke toilet tidak sengaja bertemu Daniel di sini." Jasmine berkata dengan manja pada suaminya.
"Daniel, apa kabar? Apa kau bekerja di sini sekarang?" Tanya Vino suami dari Jasmine yang dulu teman baik Daniel juga, tapi sayang hubungan mereka terpecah akibat cinta segitiga di antara mereka.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Ya aku bekerja disini sekarang agar lebih dekat dengan keluarga ku." Daniel sebenarnya tidak membenci Vino, hanya saja kenapa temannya tidak jujur saja kalau menyukai kekasihnya pada waktu itu.
"Keluarga mu ada disini? Berarti kita bisa sering bertemu lagi sekarang, bagaimana kalau kita makan siang bersama nanti," ajak Vino.
"Aku tidak bisa, ada banyak hal yang harus aku urus. Aku harus pergi sekarang," ujar Daniel yang ingin segera pergi dari sana.
"Tunggu Niel, aku senang bisa bertemu dengan mu lagi. Selama ini aku tidak mempunyai keberanian untuk datang ke negara K dan menemui mu. Aku ingin meminta maaf dengan benar, aku harap suatu saat kamu mau makan bersama kami." Terdengar tulus perkataan Vino.
Daniel hanya tersenyum tipis setelah itu dia berlalu meninggalkan sepasang suami-istri itu. Ya Vino mungkin tidak sepenuhnya salah, itu karena Jasmine yang lebih memilih nya karena status sosial nya pada saat itu. Padahal kalau saja Jasmine tau siapa sebenarnya Daniel pasti dia akan menyesal seumur hidup.
"Kak, kau tidak apa-apa. Semua ini karena aku, aku yang menyebabkan persahabatan kita jadi begini." Jasmine memasang wajah sedihnya, wajah yang paling membuat Vino jadi tidak tega.
"Kau tidak bersalah, aku yang sudah merebutmu darinya," Vino membawa Jasmine ke dalam pelukannya. "Daniel orang yang baik, dia pasti akan memaafkan kita dan kita bisa berteman seperti dulu."
Jasmine tersenyum menyeringai dalam pelukan suaminya, kalau bukan karena kekayaannya dia juga tidak akan memilih Vino. Apalagi saat melihat Daniel setelah sekian lama, mantan kekasihnya itu terlihat sangat tampan sekarang.
,,,
Daniel melonggarkan dasinya yang terasa mencekik lehernya. Dadanya masih terasa sesak setiap kali melihat mantan kekasihnya bersama suaminya.
Kenapa harus bertemu mereka secepat ini, kenapa dunia ini begitu sempit.
Sudahlah aku tidak mau hari-hari ku disini rusak karena mereka, lebih baik pergi mencari angin segar sebelum besok mulai bekerja.
Daniel memandangi ruangan barunya, dia sengaja meminta ruangan yang dulu ditempati oleh kakeknya semasa menjadi dokter di rumah sakit itu.
Kakek aku kembali, aku sudah menjadi dokter yang hebat seperti keinginan kakek. Aku pasti akan menolong banyak orang seperti kakek.
Setelah memeriksa ruangan itu dan mencatat apa saja yang kurang. Daniel memutuskan untuk pergi dari rumah sakit itu untuk menenangkan diri.
Tidak ada tempat yang ia tuju, dia juga belum ingin pulang ke rumah. Baru sehari di negara S, tapi berbagai masalah muncul dihadapannya. Belum selesai dengan masalah Daddy nya yang memintanya meneruskan perusahaan lalu meminta cucu trus datanglah dua manusia yang membuat moodnya semakin buruk.
Daniel menepikan mobilnya di pinggiran sungai, tempat itu sekarang sudah jauh lebih indah. Banyak lampu-lampu yang menghiasi di pagar pembatas dan banyak perahu-perahu wisata di tepiannya.
Indah juga, dulu tidak seperti ini.
Daniel teringat dulu saat dia sering kabur dari rumah saat Daddy nya menyuruhnya belajar bisnis. Dan dia pasti bermain di sekitar sungai itu sendirian. Sampai ada seorang gadis yang lebih besar sedikit dari Daniel datang mendekat dan mengajaknya bermain. Setelah hari itu, Daniel hampir setiap hari datang hanya untuk bermain bersama kakak itu.
Apa sekarang dia juga sudah besar, kalau dilihat dari umurnya dulu yang ada di atasku seharusnya dia sudah menikah dan mempunyai anak sekarang.
Daniel tersenyum sendiri.
,,,
Di saat yang sama. Mia melewati jalan jembatan sungai aster yang menjadi ikonik negara S. Sungai itu di jadikan tempat wisata yang banyak menarik wisatawan. Orang-orang bisa berwisata air dengan menaikkan perahu wisata untuk mengelilingi kota.
Konon sungai itu dinamai sungai aster karena dulunya dipinggiran sungai ditumbuhi banyak bunga aster. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi karena pesatnya perkembangan pembangunan.
Kini sungai itu berada di tengah-tengah kota dan diapit oleh bangunan-bangunan disekitarnya.
"Indahnya...." Mia memelankan laju mobilnya untuk menikmati suasana sore hari di tempat itu.
to be continue...
°°°
Minta Like nya dong BESTie... 😍😍😍
Gomawo ❤️❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang.