Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 18. Kepekaan Zoro


Seminggu sudah Zoro dirawat di rumah sakit, bocah itu sekarang keadaannya semakin membaik. Selang infus dan beberapa alat medis lainnya juga sudah di lepas dari tubuhnya sejak kemarin. Hal itu tentu membuat Lucy bahagia melihat putra bisa sehat kembali dan kata Daniel juga kemungkinan kalau keadaan Zoro sudah benar-benar pulih akan bisa bermain seperti anak lainnya, tidak perlu lagi takut terlalu capek ataupun terjatuh.


Lucy sedang memandangi wajah putranya yang sedang tertidur pulas di pagi hari, tengah malam tadi dia sempat rewel tidak mau tidur dan terus memanggil dokter daren. Alhasil sudah jam 8 pagi belum bangun jadinya. Sebenarnya Lucy bisa saja mencari dokter daren dan meminta tolong agar mau menemani putranya tapi dia sungguh tidak ingin menyusahkan siapa-siapa lagi. Setiap harinya saja pria itu sering datang dan kalau datang pasti selalu tidak boleh pergi oleh Zoro. Lucy cemas kalau nantinya sang putra terlalu dekan dengan pria itu sedangkan mereka hanya bertemu di rumah sakit ini. Lucy harap setelah pulang nanti sang putra tidak akan mencari dokter itu lagi.


"Selamat pagi..." sapa Mia pelan, dia datang bersama mamah Emma.


Lucy pun langsung berdiri dan menyambut kedatangan mereka. "Nyonya, nona Mia..."


"Kau sudah sarapan? ini aku bawakan sarapan." Mia menyerahkan kotak makanan pada Lucy.


Lucy menerimanya, "Terimakasih nona, maaf aku jadi merepotkan kalian seperti ini," ujar Lucy, dia tidak tau lagi bagaimana caranya mengucapkan terimakasih pada Mia dan keluarga yang sudah begitu baik dan perhatian padanya dan Zoro.


"Nak kau tidak boleh merasa terbebani, kami semua tulus sayang pada Zoro dan kamu juga sudah mamah anggap seperti putri sendiri. Itu berarti Zoro juga cucu mamah." Mamah Emma mengusap lembut kepala Lucy yang saat ini matanya tampak berkaca-kaca.


"Benar kata mamah, oh iya apa kau sudah memutuskan akan tinggal dimana sementara ini? Aku rasa saran Daniel benar kalau kalian lebih baik tinggal bersama kami dulu agar Zoro bisa dalam pantauan Daniel sampai keadaannya benar-benar pulih." Mia saat ini sudah duduk di samping brangkar, perutnya yang semakin buncit membuatnya tak kuat berdiri lama. Sekarang dia juga jarang datang ke perusahaan dan hanya memantaunya dari rumah dibantu Dad Alex juga.


"Sekali lagi terimakasih atas tawaran anda nona, tapi sebaiknya  aku membawa Zoro ke rumah ibuku saja. Ibu juga sudah pasti rindu dengan dia." Sungguh bukan maksud Lucy lancang dengan menolak kebaikan Mia tapi dia tidak ingin nantinya sang putra terlalu nyaman di rumah itu dan tidak mau pulang. Lucy paham betul bagaimana putranya kalau sudah menyukai sesuatu.


"Tidak apa-apa nak, kami tidak akan memaksa. Tapi kalau kami mau main dan bertemu dengan Zoro boleh kan?" tanya mamah Emma.


"Tentu nyonya, kapanpun kalian datang pasti pintu rumah ibu selalu terbuka untuk kalian."


"Baiklah kalau memang keputusanmu seperti itu, nanti mamah dan aku akan mengantarkan kalian. Oh iya ada salam dari Felice, dia tidak bisa ikut mengantar tapi nanti kalau ada waktu pasti akan datang melihat Zoro." Mia menyampaikan pesan yang dititipkan adiknya. Lucy pun mengangguk mengerti, dia tau kalau majikannya yang satu itu memang sedang sibuk dengan urusan magangnya, dan seorang pria yang sedang mendekatinya katanya.


"Mungkin sebentar lagi nona, pasien dokter Daniel itu sangat banyak," ujar Lucy yang sedang duduk dan memakan sarapan yang Mia bawa tadi.


Tak lama kemudian ternyata Zoro sudah terbangun dari tidurnya, bocah itu sangat senang saat melihat Mia dan mamah Emma ada di sana karena sebenarnya dia tidak suka jika hanya berdua dengan mamahnya. Terasa begitu sepi.


"Sayangnya aunty sudah bangun sayang."


"Onty Mia..." Bocah itu langsung menghambur ke pelukan Mia yang ada di sebelahnya.


Mamah Emma dan Lucy pun langsung mendekat saat melihat Zoro sudah bangun. "Apa oma tidak dapat pelukan?" mamah Emma pura-pura merajuk.


"Omaa..." Zoro langsung beralih pada mamah Emma. Mereka pun bermain sebentar, sambil Lucy mengemas barang Zoro dan juga dirinya selama menginap di rumah sakit. Sebenarnya Lucy sedikit kesusahan karena banyaknya mainan sang putra yang juga harus dikemas tapi di tinggal pun nanti sang putra malah mencarinya.


Akhirnya dokter pun datang.


Daniel bersama para perawat dan beberapa dokter datang untuk memeriksa keadaan Zoro sebelum pulang. Ada Daren juga yang langsung menjadi pusat perhatian Zoro yang polos itu. Dia ingin sekali berlari ke arah pria itu seperti biasa tapi dia juga melihat ibunya dan teringat ucapan ibunya semalam.


'Zo sayang pada mami kan, kalau begitu Zo tidak boleh lagi menyusahkan orang lain.'


Mungkin dia hanya anak kecil yang haus kasih sayang orang tuanya, ayahnya tidak pernah datang sedangkan ibunya sibuk mencari uang untuk mengobatinya.


"Hai.. Zo, jagoan uncle," sapa Daren pada Zoro yang hanya dibalas senyuman tipis di bibir mungilnya.