Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
19. Kabar Baik


°°°


Mia baru saja membersihkan diri dengan cukup lama. Dia berendam dan memakai wangi-wangian sangat banyak dengan berharap jejak laki-laki itu hilang dari tubuhnya.


Sekarang setelah selesai berendam, dia dibuat menganga lebar saat melihat pantulan tubuhnya sendiri di dalam cermin. Dimana dari leher hingga paha nya dipenuhi tanda merah.


"Ini... kenapa sebanyak ini!! Bagaimana aku menutupinya yang di bagian leher."


Mia berusaha mencari sesuatu untuk menutupi di bagian yang tidak tertutup pakaian. Dia menemukan sebuah concealer di tas makeup nya dan mencoba menggunakan itu. Membubuhkan di bagian leher secara merata.


"Kenapa masih jelas juga, bagaimana ini? Apa aku gunakan syal saja... Ya sepertinya tidak ada pilihan lain."


Mia keluar dari kamar mandi dan mencari pakaian yang akan ia gunakan hari ini. Dia menggunakan atasan yang menutupi sebagian lehernya ditambah dengan blazer di bagian luar. Dia juga menggunakan syal untuk menutupi sisanya.


"Semoga saja bisa cepat hilang," gumam Mia di depan meja riasnya.


Bunyi ponsel mengalihkan pandangan Mia. Nomor dokter yang biasa memeriksa penyakit mamahnya.


"Hallo dok, selamat pagi."


šŸ“ž"Pagi nona Mia, saya punya kabar baik untuk anda."


"Benarkah, apa itu Dok." Mia antusias mendengarkan perkataan dokter, kabar baik itu pasti berhubungan dengan penyakit mamahnya. Mia sudah lama menantikannya.


šŸ“ž"Jadi begini, saya dengar kalau di rumah sakit pusat dokter bedah ahli sudah datang ke negara S dan akan mulai bekerja di rumah sakit Star Medical center. Saya sudah membuatkan janji bertemu untuk kamu dan nyonya Emma. Besok kau bisa menemuinya di sana."


"Benarkah Dok, terimakasih banyak dokter. Anda sudah banyak menolong kami." Mia terharu, harapannya akan kesembuhan mamahnya bukan hanya angan lagi.


šŸ“ž"Sama-sama Nona Mia, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan. kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya kembali."


"Ohh iya Dok, terimakasih sekali lagi. Kalau anda punya waktu, kapan-kapan aku ingin mengundang dokter untuk makan malam di rumah sebagai tanda terimakasih," ujar Mia.


šŸ“ž"Baiklah, saya tidak akan menolak kalau begitu."


"Terimakasih Dok, selamat bekerja kembali." Mia memeluk ponselnya setelah panggilan itu berakhir. Dia sangat bahagia mendengarnya.


Aku yakin mamah pasti bisa sembuh.


Mia menyambar tas kerjanya dan segera keluar dari kamarnya untuk memberi tau kabar gembira ini pada mamahnya. Dia sudah tidak sabar melihat wajah mamahnya bahagia, pasti tidak jauh berbeda dengan ekspresi Mia tadi.


"Dimana mamah?" tanya nya bermonolog sendiri saat tidak mendapati sang mamah di dapur dan meja makan.


"Maahh... apa kau ada di kamar?" tanya Mia dari depan pintu kamar sang mamah.


"Iya nak, tunggu sebentar..." teriak mamah Emma.


"Cepatlah mah, aku punya kabar baik untuk mamah." Mia terus mengulum senyum bahagia.


Felice yang mendengar suara keributan pun mendekati kakaknya. "Kabar baik apa Kak?" tanyanya.


"Nanti kakak kasih tau, tapi tunggu mamah keluar," ujar Mia.


"Ihh, tinggal ngomong aja apa susahnya. Kan aku penasaran juga," kilah Felice, dia lalu berjalan ke meja makan.


"Kenapa kakak pakai syal, apa kak Mia sakit?" tanya Felice seraya melirik sekilas pada kakaknya.


Mia menunduk dan memegang syal yang ia pakai lalu sedikit membenarkan posisinya, saking senangnya dia lupa kalau dia harus menutupi jejak siaalan itu.


"Aahhh ini... iya aku sedikit merasa dingin jadi pakai ini."


"Ohh ya, tapi dahi kakak bahkan berkeringat. Apa tidak gerah sudah pakai pakaian tertutup masih di tambah dengan syal, aneh sekali," cibir Felice, ternyata dia cukup perhatian pada hal kecil walaupun kadang dia terlihat cuek.


Mia gelagapan sendiri, adiknya kalau sudah bertanya memang tidak cukup sekali. Dia pun mengusap keringat yang ada di sekitar wajahnya.


" Mungkin karena aku terlalu senang mendengar kabar baik itu jadi aku lompat-lompat dan berlari mencari mamah." Mia tersenyum kaku.


"Ada apa kamu mencari mamah?" tanya mamah Emma yang baru saja bergabung di meja makan.


"Apa mamah tau barusan dokter Jessie menelepon dan mengatakan kalau dokter bedah ahli yang bisa mengoperasi mamah sudah datang ke negara ini. Dia meminta kita untuk menemuinya besok."


"Benarkah itu, ya Tuhan terimakasih." Mamah Emma bahkan sangat terharu dia menitikkan air matanya. Selama ini ia pikir umurnya tidak akan lama lagi dan mungkin juga akan melupakan ingatannya secara perlahan. Tapi mendengar kabar baik dari putrinya dia seorang mendapatkan harapan untuk kembali hidup dari keputusasaan.


Mia bangun dari duduknya dan mendekati sang mamah yang berderai air mata, lalu ia memeluk wanita yang telah melahirkannya. Mia juga tidak bisa menahan air matanya.


"Mamah jangan khawatir lagi, mamah pasti sembuh," ujar Mia dalam pelukan sang mamah.


"Iya nak, mamah akan berjuang juga. Terimakasih kalian selalu memberikan mamah semangat. Kalian anak-anak yang luar biasa."


Felice juga merasa ikut senang mendengar berita itu, walaupun dia tidak ikut berpelukan tapi dia bisa merasakan kebahagiaan mereka juga. Felice juga sangat menyayangi mamahnya, selama ini dia juga suka bersedih sendiri saat mengingat keadaan mamahnya. Hanya saja dia pandai menutupi hal itu, dia lebih ingin terlihat baik-baik saja di depan kakak dan mamahnya.


"Sudah sudah, apa aku boleh sarapan sekarang, aku sudah lapar," ujar Felice.


Mia pun melepaskan pelukannya pada sang mamah dan mengusap air mata yang membasahi pipi wanita yang paling penting dalam kehidupan nya itu.


"Kita akan sama-sama terus sampai kapanpun, jadi mamah jangan pernah mengatakan akan meninggalkan kami lagi."


Mamah Emma mengangguk dan kemudian mereka sarapan pagi itu dengan perasaan lega sekaligus bahagia.


Keadaan mamah Emma saat ini memang terlihat biasa saja seperti tidak sakit. Hanya saja dia sering tiba-tiba sakit kepala yang awalnya ia kira itu hanya migrain tapi setelah di periksa lebih lanjut ternyata gejala alzheimer. Saat ini beliau juga sering melupakan hal-hal kecil seperti lupa menaruh sesuatu atau mengulang hal yang tadinya sudah ia kerjakan.


Selesai sarapan, Mia bergegas ke kantor. Dia terus memegangi syal yang ia pakai agar tidak ada yang bisa melihat tanda-tanda kepemilikan di lehernya.


Cihhh apanya tanda kepemilikan. Bagi Mia itu adalah sebagai bekas jejak terenggutnya hal yang sudah ia jaga selama ini. Mungkin bagi wanita di negara itu sudah biasa melakukan hal seperti itu sebelum menikah, tapi Mia selalu ingin memberikan kehormatannya untuk suaminya kelat. Tapi kini tidak ada lagi yang bisa ia banggakan.


to be continue...


°°°


Pagi... Selamat beraktifitas semua. Semoga hari kalian menyenangkan, yang sakit segera diangkat penyakitnya dan yang sehat dijauhkan dari segala macam penyakit.


šŸ¤—šŸ¤—


Like komen dan bintang lima šŸ˜šŸ˜


Gomawo ā¤ļøā¤ļø