Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
145. Kabar Kepulangan


Tiga minggu sudah Daniel berada di kota A. Perasaan rindunya semakin hari semakin besar pada sang istri. Panggilan vidio saja tidak cukup mengobati rasa rindu yang sudah membuncah itu. Sementara keadaan disana sudah sedikit lebih baik, korban yang kemarin luka-luka cukup parah pun keadaannya sudah lebih baik.


Pemerintah juga sudah menurunkan status siaga darurat. Pembenahan kota A juga sudah mulai dilakukan, seperti pembangunan rumah-rumah untuk warga, perbaikan fasilitas umum juga, lalu bantuan berupa uang untuk para korban untuk membangun usaha juga sudah mulai dibagikan. Sepertinya memang keadaannya sudah lebih kondusif.


"Bagaimana? Apa sudah ada keputusan dari atasan kapan kita bisa pulang?" tanya Daniel pada sepupunya. Semenjak di sana kedua saudara itu memang menjadi lebih dekat. Daren juga banyak membantu Daniel selama di sana.


"Katanya tunggu tiga hari lagi, kalau tidak ada gempa susulan lagi maka para relawan yang berasal dari luar pulau sudah bisa kembali," ujar Daren. Dia sambil menyeruput kopinya. Di sana memang cuacanya lumayan dingin karena terletak di daerah pegunungan. Jadi kalau pagi juga sangat berkabut.


"Jadi harus menunggu lagi?" Menghembuskan nafasnya kasar.


"Kenapa? Apa kau sudah ingin pulang. kalau begitu pulang saja dulu. Sudah tidak ada pasien yang terluka parah kami bisa menangi mereka tanpamu."


"Tidak bisa seperti itu. Kita berangkat bersama jadi harus pulang bersama juga. Mereka semua juga pasti merindukan keluarga, tidak hanya aku."


Daren hanya tersenyum tipis, sepupunya itu memang terlalu peduli pada orang lain. "Baiklah terserah kau saja."


"Bagaimana, apa kau sudah berhasil  mendapatkan nona itu?" ejek Daniel, karena sepupunya amat sangat tergila-gila pada wanita yang bernama Mishel itu.


"Apa kau sedang mengejekku?! Kau tau dia itu mengejarmu, sungguh wanita yang malang. Kau sudah punya istri sesempurna Mia, mana mungkin tertarik padanya. Aku juga malas, dia terlalu sombong, merasa sangat cantik dan suka memerintah orang lain di tenda. Mentang-mentang dia anak pengusaha disini, bahkan dia minta tendanya yang eksklusif hanya untuk dia sendiri. Padahal disini kita semua sedang kesusahan." Daren curhat panjang lebar. Tidak biasanya dia seperti itu pada wanita cantik.


"Jadi kau sudah sadar sekarang?"


"Tidak juga, lagian buang waktu kalau hanya mengejar satu wanita saja, sedangkan kita disini tidak punya banyak waktu. Lebih baik aku bersama para gadis yang dengan suka rela mau denganku saja."


Daniel geleng-geleng kepala, barusan ia kagum karena ia kira sepupunya sudah berubah, nyatanya sama sekali belum terobati penyakit nya yang suka bermain para wanita. Ya tapi setidaknya dia masih bisa berpikir waras tentang wanita yang bernama Mishel.


,,,


Di tempat lain.


Mia sekarang benar-benar sangat dimanjakan oleh mertuanya. Di rumahnya apa-apa serba ada, setiap hari Mia juga selalu ditanya maunya apa. Ibu hamil yang satu ini benar-benar sangat beruntung tiada tara.


Dia masih libur bekerja, hanya bedrest di rumah dan itu sungguh membuatnya bosan. Sesekali di temani Lucy atau Felice kalau tidak kuliah. Lucy yang memang umurnya masih muda akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan Felice. Kebetulan di sana sedang ada program beasiswa untuk yang berpotensi dan kebetulan Lucy lulus saat mengikuti ujian.


Kembali ke Mia. Dia sedang memakan cemilan yang baru saja mamahnya antarkan. Untunglah berat badannya tidak mudah naik kalau makan banyak, kalau tidak pasti dia sudah seperti ikan buntal karena kegiatannya cuma makan, tidur, rebahan dan menonton tv.


Tiba-tiba ponselnya  berdering, Daniel melakukan panggilan vidio.


*Hah Daniel? Bagaimana ini, kenapa juga dia siang-siang begini menelepon. Aku alasan apa sekarang kalau ada di rumah. *Mia panik.


📞"Hallo sayang.. kau sedang apa? Kata daddy kau tidak berangkat ke kantor? Kau tidak enak badan, apa sudah periksa ke dokter?"


Mia menggeleng, "Belum, dokternya saja jauh, bagaimana mau periksa."


📞"Sayang... kan ada dokter lain. Bagaimana kalau semakin parah. Kamu periksa ya..."


Mia tersenyum senang. "Tidak apa-apa Niel, aku sudah lebih baik. Hanya saja daddy belum mengijinkanku bekerja."


📞"Kalau aku di rumah juga akan melakukan hal yang sama seperti daddy. Jadi apa kata dokter? Kau kenapa sayang?"


"Tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Apa kau masih lama di sana ?" tanya Mia.


📞"Oh ya hampir lupa, aku mau mengabari kalau mungkin tiga hari lagi aku bisa pulang."


"Benarkah?" Mia senang mendengarnya, dia sudah tidak sabar untuk memberitahu Daniel tentang kehamilannya. Entah bagaimana reaksi laki-laki itu.


📞"Iya, semoga saja tidak ada gempa lagi dalam tiga hari ke depan agar kami semua bisa pulang."


Mereka pun melanjutkan obrolan, lumayan lama dan bisa mengobati rasa bosan Mia.


,,,


Tiga hari kemudian.


Berita gempar dimana-mana, televisi, media sosial dan media lainnya.


Mia yang kebetulan saat itu sedang menonton TV pun melihat apa yang terjadi. Mulutnya menganga, jantungnya seperti berhenti berdetak saat itu juga. Nafasnya juga terasa sesak, gelas yang tadi ia pegang pun terjatuh begitu saja.


Praaanggg!!!!!


Pecahan gelas berhamburan kemana-mana.


"Tidak mungkin!!"


to be continue...