Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 23. Mengantar


Akhirnya Daren pun ikut mengantarkan Lucy dan Zoro menggunakan mobilnya. Sementara Mia, Daniel dan mamah Emma ada di mobil yang berbeda. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Lucy.


Tadi saat bertemu dengan Daren, Zoro begitu bahagia. Dia langsung menempel dan tidak mau lepas, seakan sangat takut tidak bisa bertemu lagi. Padahal Lucy sudah berusaha membujuk putranya, dia sungguh tidak enak pada Daren apalagi di sana banyak orang yang melihat dan pasti berpikir yang bukan-bukan karena ulah putranya. Sementara Daren itu masih lajang dan pasti akan mempengaruhi hidupnya kalau Zoro terlalu dekat dengannya.


"Apa Zo mau sesuatu, Zo ingin beli mainan atau ingin makan sesuatu? Nanti kita beli dulu sebelum pulang." Daren yang sedang menyetir sesekali berinteraksi dengan Zoro yang ada di sebelahnya duduk di pangkuan ibunya.


Zoro sedang memainkan mobil mainannya yang menurutnya sangat mirip dengan mobil Daren. Dia sangat senang karena baru pertama ia naik mobil bagus seperti itu. Matanya berbinar tak kala Daren menawarkan sesuatu padanya, mainan? tentu ia sangat mau namanya juga anak-anak. Makanan dia juga mau.


"Tidak perlu Dok, mainan Zoro sudah banyak," tolak Lucy, dia tidak ingin anaknya jadi manja dan nantinya akan selalu minta sesuatu padanya.


"Aku bertanya bada Zoro? Bagaimana jagoan, kau mau sesuatu?" tanya Daren, melihat bocah itu.


"Tapi dok...-" Lucy dilema, ingin sekali dia berkata agar Daren tidak terlalu perhatian pada putranya agar Zoro tidak terus salah paham nantinya. Sekarang ia hanya bisa berdoa agar putranya tidak menerima apapun lagi dari pria itu.


"Hai Zo, kenapa diam saja?" Daren mengusap lembut kepala Zoro yang masih bergeming.


Bocah itu seakan tau perasaan ibunya, dia pun menggeleng. Tadi dia sudah bertekad kalau ini adalah permintaan nya yang terakhir pada pria dewasa itu. Ya Zoro ingin merasakan lebih lama berdekatan dengan Daren terakhir kalinya, karena ia tau kalau dia mungkin tidak akan bertemu lagi dengannya. Ya mereka berbeda, bocah itu paham karena sudah sering mengalami nya.


"Benarkah kau tidak mau?" tanya Daren lagi.


"Iya angkel... Zo mau pulang aja." katanya sambil tersenyum.


"Baiklah, let's go..."


Lucy menghela nafasnya lega, tidak menyangka kalau sang putra bisa memahami nya.


Di mobil lain.


Mia senang melihat Zoro yang tadi begitu bahagia bertemu Daren. Ternyata kebahagiaan seorang anak kecil itu sangat simpel dan sangat sederhana. Siapa saja yang melihat bagaimana pertemuan mereka tadi pasti ikut terharu.


"Dad, kau lihat kan tadi. Mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia," ujar Mia pada suaminya. "Iya kan Mah, tadi mamah juga lihat kan?" Mia menoleh pada mamahnya yang duduk di bangku belakang.


"Iya nak, mamah juga melihat nya seperti itu. Tapi mamah rasa Lucy seperti nya tidak nyaman dengan kedekatan mereka, dia takut Zoro terlalu tergantung pada Daren ataupun orang lain juga yang nantinya mereka hanya akan mengabaikan Zoro setelahnya." Mamah Emma merasa kasihan.


"Begitu kah? Ya ampun ternyata ini yang Lucy takutkan, pantas saja dia seperti menghindar setiap kali Daren berinteraksi dengan putranya. Sebenarnya bagaimana perasaan Daren, Dad? Apa kau tau sesuatu?" tanya Mia pada suaminya.


"Kita berdoa saja agar Zoro bisa menemukan sosok ayah yang baik nantinya, kalau pun bukan Daren. Mungkin saja akan ada pria lain yang juga menyayangi nya, kamu tau sendiri kan kalau Daren punya banyak pacar dan penggemar."


"Kau benar Dad, aku hanya berharap Zoro bisa merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lainnya," harap Mia dan harapannya sama seperti yang lainnya.


...


Mobil mereka sudah memasuki kawasan rumah Lucy. Bukan di perumahan mewah apalagi elit, hanya kawasan padat penduduk di pinggiran kota. Jalanannya pun banyak yang berlubang dan digenangi air, bisa dibayangkan bagaimana kotornya mobil Daren dan Daniel saat ini. Hal itu tentu saja membuat Lucy tidak nyaman.


"Berhenti disini saja Dok," ujar Lucy tiba-tiba.


"Yang mana rumahnya?"


"Di dalam gang itu, mobil tidak bisa masuk Dok. Kami akan jalan kaki dari sini," jawab Lucy, dia bersiap turun dengan membuka sabuk pengaman nya. Dia juga perlu bicara pada majikannya agar tak perlu turun. Tempat itu sangat kotor dan tidak nyaman untuk ibu hamil.


"Tunggu, diam di situ!" titah Daren lalu kemudian dia turun lebih dulu, memutari mobil dan membuka pintu mobil di dekat Lucy. "Ayo boy, uncle akan menggendong mu," ujar Daren sembari mengulurkan tangannya.


Lucy semakin cemas, bagaimana kalau nantinya sang putra menahan laki-laki itu untuk pulang. Belum lagi tetangga dan ibunya pasti akan salah paham. Segera ia pun mencegahnya.


"Ehh tidak perlu Dok, sungguh tidak perlu. Kami akan pulang sendiri."


Zoro pun diam saja, dia tau kalau semuanya sudah berakhir dan dia tidak ingin berharap apapun lagi.


Daren tidak menghiraukan penolakan Lucy, dia melihat Zoro. "Zo, ayo... uncle ingin melihat rumah Zo dan bermain disana. Bolehkan?"


"Ayo angkel, Zo mau nan ama angkel... yeee..." Dengan senang hati bocah itu bergelayut di leher Daren, namanya anak siapa yang menolak diajak bermain.


Lucy pun menyerah lagi. Entah bagaimana nantinya dia pasrah.


Setelahnya mereka menghampiri mobil Daniel, mereka menyarankan agar Daniel dan yang lainnya tidak perlu mengantar lebih jauh. Terutama Mia, karena mungkin saja jalannya licin dan berbagai pertimbangan lainnya. Akhirnya mereka pun pamit pulang.


Hanya mengantar sampai disitu saja Lucy sudah sangat berterimakasih pada mereka.