
Tidak jauh beda dengan kehidupan Mia dan Felice yang bahagia dengan pasangan mereka. Lucy pun sama, kini dia hidup bahagia bersama keluarga kecilnya dan mereka juga sedang menantikan anak pertama mereka dari buah cinta mereka, ya Lucy sedang mengandung adiknya Zoro. Setelah dua tahun menunda akhirnya mereka memutuskan untuk program hamil dan langsung berhasil.
Kehidupan di awal pernikahan mereka begitu banyak masalah yang menerpa, dari mulai paman Sam yang memblokir semua kartu kredit milik Daren, mencabut semua fasilitas yang Daren pakai, termasuk mobil dan yang lainnya. Lucy dengan setia terus menenangkan suaminya agar mau bersabar, toh hidup mengandalkan gaji bulanan Daren sama sekali bukan masalah. Jarak rumah sakir dari apartemen juga tidak jauh, masih bisa jalan kaki.
Di beberapa bulan ke depan kehidupan mereka pun berjalan mulus walai tanpa uang dari ayahnya. Daren juga tidak pernah marah pada sang ayah, tentu karena Lucy yang dengan sabar menasehati suaminya. "Tidak apa sayang, kita harus belajar mandiri,. Begini malah bagus jadi bisa belajar menjalani kehidupan rumah tangga yang sebenarnya."
"Terimakasih sayang, maafkan ayah yang belum bisa menerima kamu dan Zoro. Aku yakin suatu saat pasti ayah akan menerima kalian." Daren sudah beberapa kali berbicara pada ayahnya tapi pria tua itu selalu beranggapan kalau Lucy itu hanya mau harta putranya saja. Sampai lelah Daren berbicara baik-baik pada ayahnya agar mau lebih mengenal Lucy dan Zoro. Setelah itu Dia pun menyerah, terserah ayahnya mau melakukan apa.
Puncaknya adalah saat ibu mertua Daren jatuh sakit, selama ini memang ibu Risa sudah sakit-sakitan harus rutin ke rumah sakit dan setelah Daren tidak punya uang hanya diperiksa seadanya olehnya sang menantu yang kebetulan dokter.Dan pagi itu tiba-tiba saja ibu Riza jatuh di kamar mandi, Lucy menemukan ibunya sudah tergeletak tidak sadarkan diri di lantai kamar mandi yang dingin.
"Mamah!!" betapa paniknya Lucy saat itu. Daren dan Zoro juga merasakan hal yang sama, akhirnya mereka membawa ibu Risa ke rumah sakit.
Di sana ternyata, nyawa ibu Risa tidak tertolong. Kondisinya drop, detak jantungnya melemah dan nafasnya sudah pendek. "Mamah... maafin Lucy yang tidak bisa menjaga mamah dengan baik." Lucy sungguh terpukul dan merasa bersalah, pasalnya akhir-akhir ini dia sedang sibuk bisnis olahan makanan sehat yang ia jual online dan ia tawarkan ke pengunjung rumah sakit. Bisnisnya sedang maju-majunya, banyak pesanan dan semua ia selesaikan sendiri. Rencana saat punya uang nanti dia ingin membawa mamahnya berobat tapi ternyata takdir berkata lain.
Saat itu Daren juga merasa sangat bersalah, anda saat itu sang ayah mau meminjamkannya uang mungkin saja ibu Risa tdak terlambat diobati. Daren sangat menghormati ibu Risa sepertti pada ibunya sendiri, ibu mertuanya itu begitu baik padanya. "Maafkan Daren Mah, maaf aku tidak bisa menjadi menantu yang berguna."
Sementara Paman Sam sama sekali tidak datang ke rumah duka maupun ke pamakaman, sama sekali tidak menunjukan rasa simpatiknya pada sang menantu yang baru saja kehilangan ibunya. Di saat sedang berduka juga, Lucy mendengar beberapa orang menggunjingnya karena ketidakhadiran ayah mertuanya. Orang bilang kasihan pada Daren karena istrinya hubungannya dan sang ayah pun renggang, dengan tega juga mereka bilang Lusy sama sekali tidak cocok untuk Daren.
"Sayang, maaf karena aku, kau jadi harus mendapatkan cibiran dari orang-orang."
"Tidak sayang, itu sama sekali tidak benar. Seharusnya akulah yang meminta maaf ayah sudah sangat keterlaluan." Rasanya Daren ingin memaki sang ayah tapi Lucy selalu menasehatinya.
Daren pun tertarik, dari pada di sana dimusuhi ayahnya sendiri dan sang istri pun banyak mendapat tekanan. Lebih baik dia memilih untuk menjauh sementara waktu. Keadaan Zoro juga sudah membaik, fisiknya sudah pulih sepenuhnya.
"Sayang, rumah sakit akan mengirim dokternya ke daerah selatan yang cukup terpencil selama dua lima tahun. Aku ingin mencobanya, apa kau dan Zoro mau ikut bersama ku?"
"Kemana pun kamu pergi dan dimana pun kamu berada, tentu aku dan Zoro harus ada disitu juga. Kalau kau sudah mengambil keputusan maka aku hanya bisa mendukungmu," ujar Lucy.
"Jadi kau setuju, baiklah aku akan mengurusnya besok."
Mereka pun sudah memutuskan untuk pergi sejenak, mungkin juga dengan ini Lucy jadi sedikit melupakan tentang ibunya. Sebelum pergi pun mereka pamit pada paman Sam. Zoro yang takut pada kakek tirinya itu hanya bisa bersembunyi di belakang ibunya. Daren sendiri heran kenapa sang ayah terlihat membenci Lucy dan Zoro, padahal mereka sama sekali tidak pernah merepotkannya.
"Hahaha kau yakin akan pergi ke sana, selama ini kamu selalu mengandalkan ayah dalam hal apapun. Apa kau bisa tanpa ayah di sana." Paman Sam menertawakan keputusan anaknya.
Daren geram, "Bahkan setelah menikah aku juga tidak pernah merepotkan ayah, apa ayah masih butuh bukti lagi. Kami akan menetap di sana selama lima tahun ke depan, aku harap selama itu ayah benar-benar terbuka pikirannya dan mau menerima menantu dan cucu ayah. Tapi kalau saat itu ayah masih sama, aku lebih memilih untuk menetap di sana dan memperpanjang kontrak."
Dan saat itulah terakhir Daren bertemu dengan ayahnya. Hampir satu tahun mereka di sana, tak pernah sekalipun pria tua itu menghubunginya, sedangkan Daren sendiri selalu menanyakan kabar ayahnya lewat sepupunya. Dia selalu bertanya apa sang ayah bertanya soal keadaannya pada Daniel mungkin tapi nihil, jawabannya sama sekali tidak.
Sementara yang rutin menanyakan kabar dan melakukan panggilan vidio justru Mia dan Felice, mereka sudah seperti saudara.