Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 33. Dua tahun


Dua tahun kemudian.


Kebahagiaan telah meliputi ketiga pasangan itu. Mia dan Daniel yang sudah dikaruniai putra yang tampan, lengkap sudah kehidupan mereka. Putra mereka membawa banyak kebahagiaan dalam kehidupan rumah tangga dan lingkungan mereka. Termasuk mom dan dad Alex yang sangat antusias pada cucunya.


Tentu saja granddad dan grandmom itu selalu membanggakan cucu pertama nya pada semua orang. Dan ajaibnya juga tingkah dad Alex yang selalu melarang apapun yang berbau medis agar tidak ada di dekat cucunya. Ini impiannya, mempunyai keturunan yang menyukai bisnis. Daniel hanya bisa pasrah kalau begitu, toh dia bisa buat anak lagi yang banyak.


"Sayang, sepertinya kita harus segera membuat adik untuk putra kita. Lihat saja dia selalu disabotase oleh kakek dan nenek nya. Kita sama sekali tidak punya kesempatan bersama putra kita." Daniel merajuk seperti bayi. Bahkan anak mereka yang masih kecil saja tidak seperti itu.


"Ya wajar lah Dad, putra kita kan cucu pertama. Jadi mom dan dad pasti sangat antusias padanya. Biarkan saja, bukannya kalau begini kita jadi punya waktu berdua." Mia mengerlingkan matanya menggoda, sambil satu tangannya bergerak menurunkan tali sepageti di bahunya dengan gerakan menggoda.


Glek


Kalau sudah seperti itu Daniel hanya bisa mengiyakan, mana kuat kalau digoda seperti itu oleh istrinya yang semakin hari semakin cantik. Mungkin perbedaan umur mereka memang jauh, tapi body Mia sama sekali tidak menunjukkan umurnya. Selalu kencang dan terawat, bagian da-danya juga sama sekali tidak mengendur walaupun sudah menyusui.


Mia benar-benar bisa menjaga tubuhnya agar sang suami tidak bisa larak-lirik sana sini. Ya kata orang kalau kebutuhan biologis suami selalu terpenuhi, maka dia tidak akan mendua, katanya ya.


"Kau selalu mempesona saat menggoda seperti ini." Daniel memejamkan matanya saat sang istri menggerakkan jari-jarinya merayapi da-da dan otot perut nya yang terbuka. "Sayang... kau nakal..."


"Jangan buru-buru, biarkan aku menjadikan mu raja malam ini." Bisik Mia sen-sual di telinga suaminya yang mampu membuat pria itu bergidik mendengarnya.


Segera Mia melucuti apa yang menempel di tubuh suaminya. Melakukan tugasnya sebagai istri. Membuat pria itu semakin menggila karena nya dan bertekuk lutut padanya. Ya kalau urusan ranjang, kemampuan Mia patut diacungi jempol. Wanita itu sudah pandai dalam berbagai gaya, tentu semua itu demi suaminya.


Tubuh polos Mia dengan indahnya meliuk-liuk diatas suami. Maju mundur berputar naik turun, semua nya dia bisa. Suaminya hanya perlu menikmati dibawah.


"Sekarang giliran ku sayang..." Dengan cepat Daniel membalikkan keadaan tanpa melepaskan tautan mereka.


"Aahh... Dad cepatlah..." "Iya seperti itu, lebih dalam lagi... akkhh..."


Daniel tersenyum melihat istrinya yang selalu men-de-sah di bawahnya. Kehidupan mereka benar-benar sempurna. Semuanya ada, kebutuhan apapun terpenuhi. Terlepas dari permasalahan-permasalahan kecil di setiap harinya sebagai suami istri. Tapi prinsip mereka kejujuran adalah yang terpenting, tiap malamnya mereka akan menceritakan apapun dan berkeluh kesah.


Tidak ada yang pernah mereka sembunyikan dari pasangan. Ya selama itu bukan kebohongan maka masih bisa dimaafkan.


Sedangkan Felice.


Dia baru saja menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang terbaik. Dihadiri Mia, mamah Emma, Daniel dan satu lagi orang yang dua tahun terakhir berperan penting dalam hidupnya. Siapa lagi kalau bukan sang kekasih yang setia menunggu nya menyelesaikan kuliah.


"Selamat Fel, sekarang siapkan dirimu untuk menghadapi dunia nyata." Mia memberi selamat sekaligus wejangan. Menyelesaikan kuliah bukanlah akhir, karena setelah itu barulah kehidupan yang sebenarnya di mulai.


"Pasti kak, aku sudah tidak sabar menghadapi dunia kerja." Mereka berpelukan.


Satu persatu dari mereka pun mengucapkan selamat. Sampai pada seseorang yang saat ini memenuhi hatinya.


"Selamat...," ujarnya sambil menyerahkan satu buket bunga mawar merah untuknya.


"Terimakasih pacar...," goda Felice. Ia memeluk bunga itu dan seketika aroma bunga memenuhi Indra penciuman nya.


Mereka yang menyaksikan sepasang kekasih itupun ikut senyum-senyum sendiri. Bagaimana romantis nya Calvin sudah bukan rahasia lagi, pria itu benar-benar memperlakukan Felice begitu istimewa. Kadang para mahasiswi yang melihat pun merasa iri dan mengingini pria itu.


"Kami pulang dulu. Vin, jaga Felice. Jangan terlalu malam pulangnya." Mia memperingati Calvin.


"Siap kak, aku akan mengembalikan Felice tanpa kurang suatu apapun."


Mereka berempat pun pulang, iya ada empat karena ada putra kecil mereka juga di sana. Dia tertidur di atas stroller yang didorong daddynya.


"Kita mau kemana Vin?" tanya Felice, dia tergopoh-gopoh mengikuti langkah Calvin yang lebar.


"Kau akan tau nanti." Pria itu memang suka sekali membuat kejutan.


Mereka baru resmi berpacaran beberapa hari yang lalu. Selama kenal kurang lebih dua tahun ini mereka hanya berteman dekat. Felice, gadis itu yang memang ingin jadi wanita sukses itu berasal ingin fokus pada kuliahnya terlebih dahulu. Dia sudah menyuruh pria itu untuk mencari wanita lain tapi ternyata selama dua tahun ini Calvin sangat setia menunggunya. Mereka juga kerap menghabiskan waktu berdua, meski hanya belajar.


Dan akhirnya Felice menerima Calvin sebagai kekasih. Setelah berpacaran tentu saja perlakuan pria itu semakin romantis.


"Sayang, ini... kau menyiapkan ini untuk ku?" Felice menganga saat melihat meja yang dihiasi lilin-lilin ada di pinggiran pantai. Sangat romantis seperti bayangannya saat melihat itu di dalam drama.


"Kau suka? ayo duduk," ujar Calvin.


Langit masih sore, sengaja agar mereka bisa sambil melihat sunset.


"Aku suka, terimakasih..." Ehh tapi tunggu, ini bukan karena dia ada rencana mau melamar ku kan. Batin Felice.


Masalah pernikahan, mereka sepakat untuk nanti saat Felice sudah siap dan mau berkarir lebih dulu katanya. Bagi Calvin juga tidak masalah, dia juga sedang sibuk-sibuknya membesarkan perusahaan yang saat ini kian melesat. Calvin juga dinobatkan menjadi pebisnis termurah dan sukses di negara itu.


"Terimakasih mau menerima ku menjadi kekasih mu," ujar Calvin.


"Ya ampun, seharusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau menunggu ku."


"Asal jangan terlalu lama saja." Calvin terkekeh sendiri. Dia mau saja menunggu bukan masalah umur tapi yang berat itu saat berjauhan. Apalagi di dunia kerja pasti nanti Felice bertemu banyak pria, tentu dia khawatir kalau wanita nya akan berpaling.


"Tidak perlu cemas, aku hanya melihat mu. Meski banyak pria di luaran sana tapi priaku hanya satu yaitu kamu, Calvin Squil."


"Kamu sudah pintar berbicara sekarang." Calvin mengusap pipi Felice dengan sangat lembut. "Aku punya sesuatu untuk mu," ujarnya lalu merogoh saku jasnya.


"Ehh tunggu, bukan cincin kan?" panik Felice.


Hal itu membuat Calvin ingin mengerjai kekasihnya. "Memang kenapa kalau cincin, bagus juga kan pakai cincin. Jadi tidak ada yang berani mendekati mu nanti."


"Tidak Vin, dibeberapa perusahaan menolak pelamar kerja hanya karena sudah menikah." Pasti kalian sering dengar kan, biasa perusahaan lebih mengutamakan yang masih single. Bagi mereka biasanya wanita yang sudah menikah itu akan banyak meminta ijin. Ya bisa jadi dengan alasan keluarga, anak sakit', suami sakit, mertua sakit, dan banyak lagi.


Calvin pun mengeluarkan sebuah kotak kecil. Memang itu adalah kotak perhiasan, membuat Felice berdebar-debar. Ya siapa yang tidak senang kalau pria yang dicintai melamar, tapi Felice justru takut karena belum siap.


"Bukalah..." menyerahkan kotak itu.


"Vin, kalau ini cincin aku belum bisa menerimanya sekarang."


"Buka dulu."


Dengan ragu Felice pun membukanya. Dilihatnya sebuah kalung yang sangat cantik dari merek ternama. "Ini... ini sangat cantik." Puji Felice suka.


Tak lama kalung cantik itu sudah terpasang di leher Felice. Terlihat sangat cantik ketika sudah terpasang.


"Cantik..."


"Aku memang cantik..." Felice menyombongkan diri. "Jahat sekali, apa kau baru sadar kalau aku cantik Atau kau hanya memuji kalung ini." Merajuk, entahlah aneh ya itulah wanita.


Mereka pun menghabiskan waktu hingga malam. Berdansa dibawah cahaya bulan juga, diiringi beberapa pemain biola yang tiba-tiba saja datang.