
°°°
Di sebuah ruangan rawat sedang terjadi keributan karena seorang pasien telah kabur dari atas ranjangnya. Lepas dari pengawasan beberapa bodyguard dan pengasuh yang menjaganya.
"Kalian ini bagaimana! Mengawasi satu anak kecil saja tidak becus!" Seorang ibu dengan pakaian dinasnya marah-marah.
"Percuma menggaji kalian dengan mahal kalau tidak sanggup menjaga satu anak kecil saja!" Si suami yang berpakaian rapi pun sama marahnya.
"Maaf Tuan, kamu akan berusaha mencari keberadaan nona muda sampai ketemu." Hanya maaf yang bisa mereka katakan saat ini, memang benar mereka hanya menjaga anak kecil saja tapi anak itu gesitnya minta ampun. Lengah sedikit saja langsung kabur dan sialnya anak itu bukan anak sembarangan melainkan putri dari salah satu pejabat di negara S itu. Yang tentunya punya kuasa dan pengaruh yang besar.
Mereka hanya bisa saling menyalahkan, bukannya mencari malah sibuk sendiri.
"Tunggu apalagi, kenapa kalian masih disini. Kalau sampai ada apa-apa dengan putriku, kalian lihat saja apa yang akan kalian terima!" Sebuah peringatan yang pastinya tidak main-main dan membuat mereka langsung kocar-kacir berusaha mencari nona muda.
Keributan itupun sampai di telinga pihak rumah sakit. Awalnya karena menggangu kenyamanan pasien lain tapi setelah tau siapa orangnya mereka pun tidak berani menegur. Kecuali Daniel yang merasa kenyamanan pasien nya nomor satu. Dia pun menghampiri pasangan suami istri yang sedang marah-marah para petugas medis.
"Kalian bagaimana si! Kami sudah membayar biaya kamar yang sangat mahal tapi menjaga satu pasien saja tidak becus! Rumah sakit macam apa ini, pelayanan nya buruk sekali." Si ibu meluapkan emosi nya dan menjadi pusat perhatian para pengunjung rumah sakit.
Daniel bergegas ke sana, "Permisi... maaf Nyonya apa yang bisa saya bantu? Apa ada masalah dengan pelayanan kami." Daniel berkata dengan sopan.
"Apa anda penanggung jawab disini. Lihatlah kerja bawahan Anda, putri saya yang di rawat di kamar ini hilang dan tidak ada yang tau kemana perginya. Aku bisa menuntut rumah sakit ini karena teledor menjaga pasien," ujarnya masih marah.
"Begini nyonya, sebaiknya anda tenang dulu. Kalau anda marah-marah begini apa putri anda akan kembali sendiri, bukannya lebih baik kita mencarinya sekarang," saran Daniel.
"Ya benar, bukannya dicari putrinya malah marah-marah disini," cibir salah satu pengunjung yang sejak tadi menyimak keributan. Begitu pun dengan yang lain.
Pasutri itu tampak malu mendapatkan cibiran dari orang-orang, tapi bukannya segera pergi dan mencari anaknya malah marah-marah lagi. "Itu tugas kalian yang sudah lalai!! Kalau sampai putriku tidak ditemukan saya pastikan rumah sakit ini tidak akan bisa beroperasi lagi. Apa kalian tidak tau siapa saya ha?!" sombong ibu itu. Sementara si bapak lebih diam sekarang.
Daniel pun lebih memilih pergi dari sana untuk mencari keberadaan anak itu. Bisa saja saat ini dia dalam bahaya karena anak itu salah satu pasiennya yang pasti penyakitnya bukan sakit biasa.
,,,
Mia masih menggandeng gadis kecil itu. Gadis yang tampak sangat cantik dan ceria hanya saja wajahnya sedikit pucat dan rambutnya sepertinya rontok karena dia memakai penutup di kepalanya. Dia menatap iba pada gadis kecil itu, diumur nya yang masih sangat mudah dia sepertinya sakit parah.
"Apa kamar Yiyi masih jauh?" tanya Mia. Sudah beberapa kali ia bertanya tapi gadis itu hanya mengatakan belok kiri, kanan, lurus dengan asal.
"Sayang, apa Yiyi tidak ingin bertemu dengan mommy dan Daddy. Mereka pasti saat ini sedang mencari kamu sayang." Mia mencoba berbicara selembut mungkin agar gadis itu tidak takut dan kabur lagi.
Gadis itu tetap menggeleng. "Mommy dan Daddy tidak sayang dengan Yiyi. Mereka lebih suka sibuk dengan pekerjaan mereka," katanya. Sepertinya Mia cukup paham, anak seusia Yiyi pasti sangat membutuhkan orangtuanya dan mungkin orangtua Yiyi sibuk bekerja sampai gadis itu mengatakan hal itu.
"Mana mungkin mereka tidak sayang pada Yiyi, mereka bekerja agar Yiyi bisa bahagia. Bisa membelikan pakaian yang bagus, mainan dan banyak lagi."
"Tapi Yiyi tidak suka, Yiyi mau mainan dengan mommy dan Daddy tapi mereka tidak pernah mau." Menunduk sedih.
Para pengawal yang sedang berusaha mencari nona mudanya tak sengaja melihat Yiyi dengan seorang wanita. Mereka pun menghampiri gadis kecil yang sudah membuat mereka dimarahi.
"Nona muda akhirnya kami menemukan anda," ujar pengawal bertubuh besar itu.
Namun, Yiyi justru bersembunyi dibelakang tubuh Mia tampak seperti ketakutan.
"Mari Nona, nyonya dan tuan sudah menunggu anda kembali." pengawal itu berusaha mengajak Yiyi.
"Yiyi tidak mau, kalian jahat," tolak Yiyi.
"Maaf Tuan, apa anda mengenal gadis kecil ini?" tanya Mia sopan.
"Dia adalah putri majikan saya Nona, dia mengehilang dan kabur dari kamarnya. Membuat semua orang dimarahi karena hal itu," curhat laki-laki itu.
Mia tampak menimbang, apakah dia percaya dan menyerahkan Yiyi pada laki-laki itu begitu saja. Tapi kalau melihat Yiyi yang ketakutan membuat Mia tak tega melakukan itu.
"Begini saja Tuan, tolong anda tunjukkan dimana orangtuanya. Biar saya yang akan mengantarkannya, karena dia tadi tidak sengaja muncul dihadapanku. Sepertinya Yiyi juga tidak akan mau ikut dengan anda," ujar Mia sambil menenangkan Yiyi.
"Baiklah, mari ikut saya nona." Pengawal itu menunjukkan jalan.
"Sayang, ayo aunty antarkan. Jangan takut, ada aunty disini." Gadis itu menurut dan menerima uluran tangan Mia.
,,,
Sementara kepanikan masih terjadi di ruangan tadi. Daniel dan perawat serta dokter lainnya belum berhasil menemukan gadis itu. Mereka juga sudah memeriksa cctv, tapi gadis kecil itu sangat pandai menyelinap di antara para pengunjung rumah sakit yang didominasi oleh orang dewasa.
"Bagaimana, apa belum terlihat juga?" tanya Daniel pada petugas pemantaua cctv.
"Belum Tuan, ehhh tunggu... Anda lihat itu. Gadis itu seperti yang ada di foto." Petugas itu menunjuk salah satu layar dimana ada seorang gadis yang dituntut seorang wanita.
Kenapa sepertinya wanita itu familiar. Daniel dalam hatinya menebak.
"Dok, bagaimana ini gadis yang sama kan. Sepertinya mereka sedang kembali ke arah ruangan gadis itu."
"Ohh iya benar, aku akan melihatnya kesana. Terimakasih atas kerja keras kalian." Setelah itu Daniel bergegas melihat keadaan gadis itu.
,,,
Mia sudah menuntun gadis kecil itu sampai di depan orangtuanya. Tampak wanita dan pria yang mungkin adalah orangtua Yiyi duduk menunggu.
Yiyi...