Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
62. Bertemu Seseorang


°°°


Mommy Tania pasrah saat putranya menolak dengan tegas tawaran yang ia berikan. Memang salahnya yang keasyikan mengobrol sampai lupa dengan Mia. Tapi untungnya mereka telah memaafkan kesalahannya.


"Bagaimana jeng, apa Daniel marah?" tanya Rose yang sejak tadi menunggu bagaimana keputusan putra dari temannya.


"Ya dia selalu keras kepala, ini salahku yang tidak bisa menjaga calon menantu ku dengan baik sehingga memberikan kesempatan orang lain untuk merendahkannya ." Entah bagaimana perasaan Mia tadi, Tania merasa sangat bersalah.


"Maaf jeng, aku terlalu senang bertemu dengan mu lagi jadi melupakan masalah gaun. Aku juga tidak menyangka kalau wanita itu adalah calon istri Daniel, aku kira dia asisten mu," ujar Rose tanpa merasa bersalah.


Dia sempat berharap kalau putri satu-satunya bisa bersanding dengan Daniel, pewaris perusahaan Star company. Dia merasa kecolongan saat temannya mengatakan akan memesan gaun pengantin untuk calon istri putranya. Rose kira selama ini Daniel tidak pernah terdengar kabar sedang memiliki kekasih.


Seharusnya dia menyuruh Zoya untuk mendekati Daniel lebih awal. Tapi kalau dilihat dari penampilannya, calon istri Daniel itu pasti dari kalangan biasa. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan putrinya, Zoya.


Rose jadi berpikir apakah dia tetap akan mendekatkan Zoya pada Daniel, toh kalau nantinya mereka jatuh cinta. Daniel bisa menceraikan istrinya yang tidak selevel itu.


"Maaf jeng sebelumnya, apa benar Daniel mau menikahi wanita itu. Kelihatannya umurnya lebih tua dari Daniel dan juga bukan putri dari orang terpandang sepertinya," ujar Rose dengan sedikit mencari informasi. Siapa tau ada celah untuk putri nya memasuki kehidupan Daniel.


"Mungkin memang sudah jodohnya, umur tidak masalah yang penting mereka saling menyayangi dan melindungi. Kamu tau sendiri kalau Suamiku tidak pernah mempermasalahkan status sosial siapapun, bahkan aku yang dulu bukan siapa-siapa saja kini dijadikan ratu oleh suamiku."


Itulah yang akhirnya membuat mom Tania menerima Mia. Jika dulu mertuanya yang kaya raya bisa menerima nya yang hanya anak pembantu, kenapa sekarang dia harus merasa keberatan dengan Mia.


"Tapi kamu beda Nia, kamu dulu cantik masih muda dan di kampus banyak jadi rebutan. Wajar saja Alex jatuh cinta padamu," sanjung Rose yang dulu merupakan teman kuliahnya.


"Aku hanya beruntung saja, banyak wanita cantik yang lain juga." Mom Tania merogoh tasnya saat ponselnya berdering, ternyata sang suami yang meneleponnya.


Ya kau beruntung karena bisa mendapatkan Alex, padahal aku sudah menyukainya sejak SMA. Kalau tidak sekarang aku yang jadi Nyonya Starles. Aku tidak perlu susah-susah menjadi desainer ternama, dengan bantuan Alex aku pasti bisa mendapatkan apapun.


Siapa yang tau jika sebenarnya mereka menyukai laki-laki yang sama saat kuliah. Tapi sayangnya laki-laki itu lebih memilih Tania dan menjadikannya istrinya, sementara Rose sejak awal hanya dianggap adik katanya.


Rose yang dulu kesal karena kalah dari temannya sendiri yang tidak punya latar belakang apa-apa pun melampiaskan amarahnya dengan minum-minum, sampai ia bertemu dengan ayahnya Zoya dan melakukan hubungan satu malam lalu hamil. Untunglah ayahnya Zoya seorang pengusaha juga mesti tidak sekaya keluarga Starles.


Ini karena putrinya yang tidak mau pulang dari lama, dia sibuk mengurusi hobi barunya sebagai desainer juga seperti maminya. Jadilah Daniel sudah keburu memilih wanita lain.


,,,


Sementara kini mobil yang Daniel kendarai memasuki halaman sebuah butik kecil yang tempatnya pun bukan di tengah kota.


"Kita sampai, ayo turun," ajak Daniel dengan senyum bahagianya.


Mia jadi berpikir apakah kali ini pemilik butik ini adalah salah satu wanita masa lalu Daniel lagi.


Ia merasa akan banyak kejutan yang akan datang padanya nanti.


Butik itu terlihat jauh lebih kecil dibandingkan dengan butik yang tadi Mia datangi bersama mom Tania. Ukurannya hanya sebesar satu ruko pertokoan yang dijadikan butik. Dengan dinding kaca di bagian depan ciri khas toko pakaian.


Terlihat sepi tidak ada pengunjung lain selain mobil milik Daniel yang terparkir di sana. Bahkan mungkin jika ada pelanggan lain pun sudah tidak ada tempat parkir lagi karena hanya pas untuk satu mobi tempat parkirnya. Sepertinya mobil mahal itu terlalu egois karena bisa terparkir dengan nyaman dan tak kepanasan.


Ruko disekitarnya juga sepi, ya setidaknya kalau ada pelanggan bisa numpang parkir jadinya.


Aneh juga si kenapa ada banyak ruko di jalan yang sepi itu. Jelas sekali kalau jalan yang ada di depan bukan jalan raya, seperti jalanan di gang yang jarang orang lewat. Pantas saja sepi, mungkin karena tidak banyak yang tau.


Daniel membuka pintu yang bertuliskan dorong dan tarik di sisinya. Seperti dugaan Mia tadi kalau di dalam tidak ada pelanggan.


Sampai seseorang wanita yang seumuran dengan mamah Emma menampakkan diri, dengan meteran kain yang ia kalungkan di lehernya. Seperti tukang jahit di desa-desa.


"Selamat siang Nyonya Glace," sapa Daniel pada wanita itu.


Wanita itu tampak mengerutkan keningnya dan membuka kacamata yang ia pakai untuk lebih mengenali orang yang menyapanya tadi. Dia tampak berpikir sebelum akhirnya menyadari siapa yang bersuara tadi.


"Kau kah itu Niel?" tanya wanita itu sambil berjalan mendekat lalu menelisik wajah Daniel dari dekat.


"Iya ini Daniel, bibi," ujar Daniel seraya memegang tangan wanita yang tadi ia panggil bibi itu.


"Kau sudah setinggi ini Niel, bukankah kau dulu masih segini." Wanita itu memperagakan tinggi tubuh Daniel yang masih sepinggang nya.


"Itu dulu bi, berapa tahun yang lalu itu. Aku sudah dewasa sekarang dan sebentar lagi mau menikah," ujar Daniel, dia meraih salah satu tangan Lia lalu menggenggamnya.


"Dasar anak nakal!! Tidak pernah datang melihat bibi mu. Sekali datang mengatakan ingin menikah, siapa wanita yang bernasib sial itu. Biar bibi kasih tau agar tidak usah menikah dengan mu," ujar bibi Glace bercanda.


Tapi Daniel benar-benar terlihat panik saat mendengarnya. "Bibi, apa kau tega membuatku jadi bujang lapuk."


Tawa mereka pun memenuhi ruangan sempit itu. Daniel dan wanita itu terlihat begitu akrab dan saling menyayangi. Keakraban di antara mereka bahkan melebihi saat Daniel sedang bersama Mommy nya. Mia ikut merasakan bagaimana kedua orang berbeda generasi itu saling melepas rindu.


"Apa ini wanita yang akan menikah dengan mu Niel?" Bibi Glace menghampiri Mia yang sejak tadi diam memperhatikan mereka.


"Cantik sekali," pujinya pada Mia.


Mia hanya bisa merona mendengar nya, dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana dihadapan wanita itu.


"Apa kau tidak akan menyesal menikah dengan Daniel, kelihatannya saja tampan tapi dia manja dan banyak maunya," ujarnya yang mendapatkan protes keras dari Daniel.


"Bibi...."


to be continue...