Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
167. Daddy Sayang...


Dua hari kemudian,


Hari ini Mia sangat senang karena suaminya mau menuruti idenya tempo hari. Ya Daniel memesan langsung pada produsen parfum yang biasa ia pakai dan hari ini barang yang ia pesan sudah sampai, akan langsung dibagikan pada karyawan perusahaan star company. Tentu saja mereka sangat senang mendapatkan parfum mahal secara cuma-cuma. Jangan ditanya, berapa uang yang harus Daniel gelontorkan untuk membayar itu semua. Yang pasti hampir menguras isi ATM nya.


"Terimakasih Niel," ujar Mia sambil bergelayut manja lengan kekar suaminya. Saat ini mereka sedang melihat truk pengangkut barang sedang menurunkan apa yang mereka pesan.


"Sama-sama sayang." Daniel mengusap perut istrinya. Nak, kau hampir saja membuat daddymu ini miskin.


Dad Alex tentu saja sudah menarwarkan bantuan tapi Daniel enggan menerima bantuan itu. Menurutnya Mia dan anaknya adalah tanggung jawabnya, sebisa Daniel akan memenuhi kebutuhan orang yang dia cintai. Kecuali kalau dia sudah benar-benar bangkrut, barulah dia akan meminjam uang pada daddy Alex, ya dia tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma.


"Bisakah kau mengganti panggilanmu padaku," pinta Daniel ketika mendapatkan sebuah ide. Bukannya mereka sudah saling menyatakan perasaan, seharusnya memang memakai panggilan yang lebih mesra.


Mia nampak berpikir, "Bagaimana kalau Dad, tapi nanti seperti aku sedang memanggil dad mertua."


"Kalau begitu jika di depan mom dad Daddy kamu memanggilku Daddy sayang." Daniel terkekeh sendiri.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan?"


"Tidak, memang seharusnya seperti itu kan."


"Baiklah, Daddy..., terimakasih... cup." Pipi Mia memerah, malu-malu dengan apa yang barusan ia lakukan. Baru pernah dia berinisiatif mencium suaminya lebih dulu, apalagi di tempat umum seperti itu.


Sementara Daniel merasa cukup terkejut sekaligus senang mendapatkan ciuman dari sang istri. Dia pun senyum-senyum sendiri.


"Heemmm... apa hanya itu sebagai ucapan terimakasih mu, sayang?" goda Daniel.


"Memang kau mau apalagi, Dad? Kau mau hadiah apa?"


"Tentu saja sesuatu yang bisa membuat ku puas men-de-sah...," bisik Daniel tepat di telinga istrinya. Membuat wanita itu semakin memerah saja.


"Kau me-sum Dad. Bukannya kau tau kalau kita tidak boleh dulu melakukan hal itu saat ini." Mia memukul lengan suaminya.


"Tidak perlu dimasukkan, kita bisa pakai cara yang lain...." Mengerlingkan matanya menggoda.


"Cara lain? Cara seperti apa itu?" Mia tampak berpikir, tapi belum juga menemukan cara seperti apa yang dimaksud. Selama ini memang Daniel lah yang lebih banyak memberinya kepuasan, sedangkan Mia pengetahuannya mengenai hal itu masih sangat minim.


"Tidak perlu memikirkannya sekarang, nanti saja kita praktekkan langsung kalau sudah sampai di tempat honeymoon sekaligus babymoon." Daniel menggandeng tangan istrinya, membawanya masuk ke perusahaan sang ayah. Rencananya Daniel akan meminta ijin agar dad Alex memberi istrinya cuti lebih lama untuk mengajaknya berjalan-jalan ke luar negeri.


"Eehh kita mau kemana, Dad? Kenapa aku tidak tau rencana itu?" terkejut Mia mendengar rencana suaminya.


"Tentu, ini kejutan untuk mu sayang. Ayo kita minta ijin pada Daddy."


,,,


Setelah mendapatkan ijin dari Dad Alex yang awalnya tidak setuju karena mencemaskan calon cucunya. Sekarang mereka sedang memeriksa kan kandungan Mia di rumah sakit. Tentu untuk mengetahui keadaan calon anak mereka, memastikan semuanya baik-baik saja sebelum pergi naik pesawat.


Daniel, sejak tadi dia hampir tidak berkedip menatap layar yang menampilkan hasil USG anaknya. Wajahnya masih setengah tak percaya kalau dalam hitungan bulan dirinya akan resmi menyandang status ayah.


Hallo child, ini Daddy... Tersenyum pada anaknya.


"Sepertinya dokter Daniel begitu bahagia melihat anaknya."


Mia juga berpikir seperti itu, syukurlah... anaknya pasti akan mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah saat ia lahir ke dunia. Lega Mia saat memikirkan hal itu.


Mereka menanyakan banyak hal pada dokter, termasuk melakukan hubungan suami-istri yang sempat mereka lakukan kemarin. Untunglah tidak berpengaruh apa-apa pada janin yang ada di perut Mia. Hanya saja dokter berpesan agar sebaiknya jangan dulu untuk sekarang.


Mia sama sekali tidak percaya pada laki-laki itu, sekarang saja dia manggut-manggut mengiyakan tapi kalau sudah berdua mana tahan. Asal pelan-pelan kata dokter... ya ya ya toh Mia juga suka, malah lebih ingin selalu menggoda suaminya.


"Ayo sayang...," ajak Daniel seraya menggandeng tangan istrinya untuk keluar dari rumah sakit setelah mereka mendapatkan beberapa obat dan vitamin.


"Setelah ini kita kemana, Dad?"


"Kita langsung pulang dan berkemas, lalu kita langsung berangkat."


"Apa aku boleh tau kemana kita akan pergi?" tanya Mia penasaran.


Daniel menggeleng, "Sudah aku bilang kejutan untukmu, sayang."


"Dad... cepat beri tau aku, kasih clue sedikit agar aku bisa menebak." Mia merengek manja.


"No... kamu akan tau kalau sudah sampai nanti."


"Dad... Daddy sayang..."


Sampai di parkiran dan di sepanjang perjalanan Mia terus saja mendesak Daniel agar memberi tahunya kemana mereka akan pergi. Tapi nihil karena Daniel sama sekali tidak mau memberitahunya.


Oh iya, sekarang Mia kemana-mana harus menggunakan masker. Bukan karena ada pandemi tapi karena hidungnya yang terlalu sensitif pada bau-bauan. Kalau tidak dia akan selalu menempel pada Daniel sehingga hanya ada bau suaminya yang tercium.


°°°


Selesai juga Season 1 ya guys, hati Mia sudah berhasil ditaklukkan oleh Daniel. Hanya tinggal manis-manisnya saja kisah mereka.


Selanjutnya ada kisah Felice. Tetep stay tune ya...


Siapakah yang akan berhasil menaklukkan hati Felice?


Apakah dokter Daren yang playboy atau yang lain?


Semoga saja masih pada setia disini. Dan Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua yang sudah mengikuti cerita ini dari awal. Semoga nggak bosen ya....