Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
73. Di balik kebahagiaan ada mantan yang menyesal


°°°


Daniel mengunci pintu ruangannya agar terbebas dari gangguan sepupunya itu. Saat ini saja Daren terus menggedor-gedor pintunya. Merepotkan sekali anak itu, tidak pernah berubah seperti dulu saat mereka masih kecil. Daniel yang tenang pembawaannya sangat terganggu setiap kali sepupunya datang ke rumah atau sedang ada acara keluarga.


"Niel, kau jahat sekali. Kau belum memberitahu siapa calon kakak iparku. Kita ini saudara, apa pantas aku tidak mengetahui calon istri kakak sepupuku sendiri."


Masa bodoh dengan Daren, lebih baik memang dia tidak tau siapa yang akan menjadi istri Daniel. Bisa gawat kalau sampai dia tau kalau ternyata wanita itu adalah kakaknya gadis yang ia suka. Daniel pasti akan di ganggu setiap hari.


Pamannya saja belum Daniel beritahu. Biarlah nanti saat hari pernikahan mereka melihatnya sendiri siapa itu Mia Khalisa.


Daniel lebih memilih menggunakan earphone agar tak mendengar teriakkan sepupunya lagi. Dia duduk di kursi santainya, sambil membuka pesan dari mom Tania yang belum sempat ia baca karena kehadiran Daren tadi.


Jempolnya menekan nama mom Tania yang ia beri nama Mommy tercinta. Hampir saja air liur Daniel menetes saat melihat foto siapa yang Mommy nya kirim.


Benarkah itu Mia, calon istrinya?


Ternyata memang itu perbuatan mommy nya mengetahui kalau anaknya cukup tersiksa karena tidak bisa bertemu dengan calon istrinya. Tadi mom Tania diam-diam mengambil gambar Mia dan mengirimkannya pada Daniel.


Mommy Tercinta : Apa kau sudah melihatnya Niel, bagaimana calon istri mu. Cantik kan? 🤭


Mommy Tercinta : Sabar Niel, besok kalian sudah resmi jadi suami istri.


Mommy nya itu memang paling bisa meledeknya. Daniel mengscrol lagi pesan dari mommy nya.


Mommy Tercinta : Niel, mom mau jujur padamu. Tadi mommy berniat mengajak Mia ke salon untuk memolesnya. Tapi mom tidak menyangka kalau Mia sudah seperti berlian yang tersembunyi. Mommy juga sudah minta maaf pada Mia, mungkin tindakan mommy menyinggung nya. Kau mau kan memaafkan mommy?


Mommy Tercinta : Oh iya Niel, mommy juga bangga padanya karena bisa menutupi keindahan itu dari laki-laki lain selama ini. Kau beruntung sekali karena kau yang akan mendapatkan berlian itu tanpa perlu mengasahnya lagi.


Daniel tersenyum membaca sederet pesan yang mommy nya kirimkan. Dia mengerti maksud mommy nya, yang mungkin tidak ingin kejadian di butik Tante Rose terulang kembali. Agar Mia tak dianggap sebelah mata oleh teman-temannya.


Daniel pun membalas pesan Mommy nya.


Daniel : Terimakasih fotonya Mom. Dia memang seperti berlian.


Daniel kembali memandangi foto Mia yang kini memenuhi layar ponselnya. Tidak menyangka kalau Mia lah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dia pikir tidak ada yang bisa mengobati luka dan traumanya terhadap pasangan. Tapi sosok Mia berbeda, wanita tangguh yang membuatnya menarik.


Semoga saja kita bisa menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Walaupun sepertinya sulit untuk menaklukkan hatimu. Tapi aku akan berusaha menjadi suami yang baik.


,,,


Epilog


Undangan pernikahan Mia dan Daniel sudah tersebar ke seluruh keluarga, kerabat, kenalan, rekan bisnis dan seluruh karyawan perusahaan star company.


Termasuk seorang pria yang terlihat mengeraskan rahangnya saat menerima undangan pernikahan mereka.


Siapa lagi kalau bukan mantan. Justin, pria itu sangat kesal saat menerima undangan yang Catty sendiri berikan padanya. Tentu saja Catty sengaja mengirimkan undangan itu sendiri pada sepasang suami istri itu. Dan tentunya Catty juga membumbuhkan sedikit bumbu agar mereka semakin iri.


Beres dengan kutu yang satu, yang sekarang sedang di kerumuni oleh teman-temannya yang minta penjelasan. Kini Catty beralih pada Justin yang ada di ruangannya.


"Lihatlah, sudah aku katakan kalau Mia sudah move on tapi kamu tidak percaya. Dan yang pasti calon suaminya tidak pelit sepertimu. Oh ya satu lagi, tidak usah mengganggu Mia lagi kalau kau masih mau bekerja di perusahaan ini." Karena Mia calon mantunya pemilik perusahaan ini.


Catty memberi peringatan. Sebenarnya dia ingin sekali mengatakan kalau Mia mau menikah dengan putra pemilik perusahaan itu tapi Mia melarangnya. Dan dalam surat undangan juga hanya tertera nama Daniel dengan gelar doktornya. Tidak ada nama belakang Starles di sana karena Daniel memang jarang menggunakan nama belakangnya. Dia selalu ingin mengandalkan dirinya sendiri tanpa embel-embel nama belakang.


"Benarkah Mia mau menikah, itu tidak mungkin?"


"Aarrggghhh...!"


Justin menjambak rambutnya sendiri. Dia memang masih mengharapkan Mia, wanita dewasa yang ia rasa tidak banyak tingkah seperti Laura. Jujur dia menyesal, sekarang dia harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan Laura. Tidak seperti dulu saat bersama Mia. Dia jarang mengeluarkan uang.


Semua itu karena olok-olok temannya yang mengatakan kekasihnya kuno dan sama sekali tidak menarik. Apa lagi Mia tidak mau diajak tidur bersama. Membuat Justin khilaf dan berselingkuh dengan Laura. Wanita yang dulu menurutnya sangat menarik dan tidak membuatnya malu. Yang pasti mau ia ajak bersenang-senang di atas ranjang juga.


"Ini pasti tidak benar, Mia pasti masih mencintai ku. Aku yakin dia masih mempunyai perasaan untukku."


Justin masih saja menipu dirinya sendiri. Seharusnya dia mensyukuri pilihannya sendiri, bukannya malah menginginkan Mia kembali. Tidak ingatkah dia saat Mia di permalukan, pernikahan yang tinggal menghitung hari harus hancur karena pengkhianatan. Dan Justin lebih memilih selingkuhannya itu.


"Apa kau menyesal sekarang?!" Laura begitu marah saat tak sengaja mendengar ucapan Justin. Tadi niatnya dia mau mengajaknya membeli gaun, karena dia tidak mau malu saat datang ke pernikahan Mia.


"Kau..." Justin membelalakkan saat istrinya tiba-tiba masuk ke ruangan nya. Mungkinkah Laura telah mendengar perkataan nya.


"Aku tanya, apa kau menyesal menikah dengan ku!" Amarahnya berkobar, hatinya sesak.


Justin buru-buru menutup pintu dan menguncinya karena tak ingin ada yang mendengarnya.


"Sayang... kau salah paham."


"Salah paham di bagian mananya!" Laura menepiskan tangan suaminya.


"Dengarkan aku dulu, aku memang menyesal meninggalkan Mia. Tapi aku tidak menyesal telah menikah dengan mu."


PLAK!!


Satu tamparan mendarat di pipi Justin. Laura menamparnya dengan sekuat tenaga.


"Sudah banyak yang aku korbankan demi mu, Justin. Aku rela hidup susah padahal aku selama ini hidup seperti putri di rumah papah. Tapi apa balasannya. Kau menyesal?" Laura tertawa... lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri.


to be continue...


°°°


Penyesalan memang selalu datang belakangan ya...