
Pencarian terus dilakukan. Berbondong-bondong relawan dari berbagai daerah bahkan luar negeri datang memberi bantuan. Kendalanya ternyata bukan hanya tanah berlumpur itu tapi berbagai kendala terus saja menghadang jalannya evakuasi. Seperti hujan badai yang membuat medan semakin sulit di taklukkan, lalu mereka juga tidak bisa bertindak dengan tergesa-gesa karena kemungkinan ada mayat di beberapa titik juga. Mengingat saat kejadian para warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa, pasti banyak korban tersebar dimana-mana.
Jadi karena itulah mereka para penyelamat tidak bisa tergesa-gesa dalam bertindak, karena bisa saja mereka malah menghancurkan mayat yang tidak sengaja tergerus alat berat.
Dad Alex pun tidak bisa berbuat banyak, walaupun mungkin mereka yang ada di bawah lumpur sudah tidak bernyawa tapi tidak bisa seenaknya.
Hari ini adalah hari ke dua dad Alex ada di tempat itu, tapi baru setengah jalan yang sudah dilalui. Itupun setiap hari harus kembali ke tempat yang aman karena tidak mungkin terus di tengah-tengah lautan lumpur yang setiap hari diguyur hujan dan bisa sangat membahayakan keselamatan mereka.
Dad Alex ada di tenda yang didirikan khusus untuknya, setiap istrinya tanya bagaimana perkembangan di sana, dia bingung harus menjawab apa. Hanya membalasnya dengan pesan yang menenangkan. Seperti, sebentar lagi pasti ketemu atau sudah ada titik terang. Padahal itu sama sekali tidaklah benar. Dia hanya tidak mau membaut istri dan menantunya kembali drop kalau tau apa yang sebenarnya terjadi.
Maafkan daddy yang tidak berguna ini, mom, Mia ... daddy yakin kalian adalah wanita yang kuat. Jika nanti hasilnya ternyata tidak sesuai dengan harapan kalian. dad harap kalian bisa bertahan dan menerimanya.
Dad Alex menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tidak terasa air mata pun luruh juga dari kelopak matanya. Selama ini dia hampir tidak pernah menangis kecuali saat kematian ayahnya dan saat ini mugkinkah dia sedang menangisi putranya. Tidak, itu tidak mungkin. Sang putra yang begitu hebat dan baik pasti masih hidup kan? Segera dia menepis segala pikiran buruk.
Ayah, inilah sebabnya aku tidak setuju saat putraku ingin menjadi dokter. Dulu kau juga seperti ini sering membuat orang cemas. Sering menjadi relawan di tempat-tempat yang berbahaya, seperti dulu saat kau membantu daerah yang sedang terkena pandemi yang sangat mematikan. Di sana kau bahkan sempat tertular tapi tetap tidak mau pulang sebelum pandemi itu berakhir, katanya tidak mau kalau orang rumah juga tertular dan semakin menyebar. Bahkan mungkin jika kau mati di sana pun kau mau saja.
Taukah kau, ayah. Kalau cucumu saat ini juga sedang dalam bahaya, tidak tau dia masih hidup atau tidak. Itu karena darahmu mengalir di sana, darah yang terlalu memperpedulikan orang lain. Cucumu jadi seperti ini .... hiks hiks.
Ayah jika kau sangat menyayangi cucumu, kenapa kau harus menjadikannya dokter yang membuatnya harus bernasib seperti ini. Dia juga sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Haruskah anaknya harus kehilangan ayahnya bahkan sebelum mereka bertemu.
Ayah, jika saat ini kau mendengarku tolong jagalah cucumu dimanapun dia berada saat ini. Kalau dia masih hidup lindungilah dia, cucu kesanganmu dan juga demi calon cicit mu yang masih belum lahir ke dunia ini. Dan kalaupun dia sudah tidak ada tolong lindungi raganya agar tidak dimakan binatang liar yang kelaparan.
Dad Alex menyimpan kembai foto yang tadi ia pegang, yaitu foto mendiang ayahnya kakeknya Daniel yang sedang menggendong Daniel kecil. Mereka terlihat sangat mirip, bukan hanya dari segi wajahnya tapi dari sifat dan pemikirannya juga seratus persen seperti kakeknya. Dad Alex juga heran kenapa bisa seperti itu.Daniel sama sekali tidak ada menuruni sifatnya yang lebih dominan seperti neneknya.
Diletakkannya foto itu kembali ke dalam tas, lalu ia mencoba berbaring di ranjang kecil khas pengungsian. Walaupun rasanya sama sekali tidak mengantuk tapi dia harus tetap istirahat agar esok hari punya energi yang cukup memulai kembali pencarian.
Mom, Mia ... tetaplah berdoa agar Daniel segera ditemukan.
Dad Alex juga khawatir kalau putranya tidak bisa bertahan lama dalam kelaparan. Kalau menurun medis orang dewasa mampu bertahan hidup tanpa makan sampai tiga empat minggu tapi tetap harus minum.
Namun kita tidak tau apakah disana ada air minum atau tidak. Sebenarnya hujan ada dampak positifnya juga, mungkin orang yang masih bisa bertahan bisa juga minum air hujan kalau ternyata disana tidak ada sumber air. Tapi kalau ternyata tidak ada makanan beserta air maka manusia hanya bisa bertahan hidup tiga sampai tiga sampai empat hari. (Sumber si mbah goo-gle)
,,,
Darah ada dimana-mana. Orang-orang yang kemarin hampir sembuh bahkan ada yang lukanya tambah parah. Para dokter dan perawat pun sudah tidak bisa berbuat banyak karena mereka sendiripun terluka parah, alat-alat medis mereka juga sudah hilang tersapu lumpur.
Mayat-mayat tergeletak begitu saja, satu persatu yang hidup pun mulai menghembuskan nafas terakhirnya karena tidak mendapat pertolongan, kelaparan dan kesakitan.