Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 39. Untuk Calon Anak


Sudah dua hari Daren dan istrinya terpisah. Bukan hal yang mudah bagi Daren tentunya karena harus berjauhan dengan wanita yang ia cintai dan sang putra yang sudah ia anggap anaknya sendiri. Dia ingin sekali segera menemui istrinya dan sang putra tapi dia ingin menyelesaikan masalah ayahnya terlebih dahulu. Selama dua hari ini dia tinggal di rumah orang tua Daniel yang merupakan adik sepupu jauh dari ayahnya.


Mereka sudah menyusun rencana untuk menyingkirkan orang-orang yang berniat menguasai rumah sakit peninggalan kakeknya Daniel yang sedang maju pesat. Sebenarnya Dad Alex tidak begitu takut kehilangan satu buah rumah sakit yang menurutnya tidak seberapa. Jumlah perusahaannya yang ada di berbagai negara sudah lebih dari cukup untuknya. Tapi mendengar cerita Daren, dad Alex jadi merasa kasihan pada sepupunya. Dia tidak ingin sepupunya terjerumus terlalu jauh pada keserakahan apalagi sampai mengorbankan kebahagiaan putranya sendiri.


"Om sudah mentransfer saham milik om pada Daniel, jadi Jumlah saham milik Daniel sekarang lebih dari cukup untuk menjadi direktur utama rumah sakit." Dulu sebenarnya saham milik Daniel ada 80% yang diwariskan oleh kakeknya, sementara paman Sam memegang 20% juga pemberian dari kakek Daniel. Tapi seiring berjalannya waktu berkat dedikasi dan pengabdian paman Sam, Daniel yang saat itu tidak bisa mengurus rumah sakit pun memberikan sebagian saham miliknya. Hingga sekarang ada beberapa orang yang ikut memegang saham termasuk dad Alex.


"Terimakasih Om, aku harap setelah ini pikiran ayahku terbuka." Tidak apa-apa kalau ayahnya tetap tidak menerima Lucy sebagai menantunya ataupun anak yang ada di dalam kandungan lucy sebagai cucunya. Toh Daren memang berniat kembali ke daerah selatan setelah ini. Yang penting adalah ayahnya bisa kembali ke jalan yang benar dan tidak lagi merugikan pasien.


Keesokan harinya, para petinggi rumah sakit sudah dikumpulkan di ruang rapat. Mereka sudah menduga dan sudah merencanakan sesuatu, yaitu sepakan mengumpulkan suara untuk paman Sam. Para pemegang saham juga sudah merencanakan hal itu dari jauh hari, menyuap mereka agar mendukung paman Sam. Tentu uang itu hasil dari korupsi besar-besaran atas pengadaan alat-alat medis yang merupakan dana dari pemerintah.


Daniel dan Daren sudah mengumpulkan semua buktinya, sepintar-pintarnya mereka menyembunyikan kejahatan pasti akan meninggalkan jejak juga.


"Saya disini mewakili mendiang kakek Frans Starles yang merupakan pendiri dan pemilik rumah sakit ini. Sesuai dengan amanat beliau, jika saya sudah dewasa dan sudah berhasil menjadi dokter yang hebat barulah aku bisa memegang rumah sakit ini. Karena itulah setelah kakek meninggal, kakek menyerahkan sementara kepemimpinan rumah sakit ini pada paman Sam dan beliau sudah banyak sekali berjasa pada rumah sakit ini. Masa muda dan hidup beliau juga sebagian besar untuk rumah sakit ini."


"Maka dari itu, awalnya aku berniat menyerahkan seluruh saham ku pada paman karena memang aku tidak berniat untuk menjadi pemimpin. Impianku adalah menjadi dokter sejak kecil. Tapi sayangnya ada beberapa orang yang belakangan ini mengusik ketenangan saya. Aku pun tidak akan tinggal diam jika ada yang memanfaatkan rumah sakit yang kakek bangun dengan susah payah untuk berbuat kejahatan. Kalian tau kalau banyak orang yang bergantung hidup disini, bukan hanya pasien tapi juga orang-orang yang bekerja disini."


"Apa kalian pernah berpikir berapa banyak uang yang kalian curi yang seharusnya untuk pasien yang membutuhkan tapi malah tidak ada di saat mereka kritis. Rumah sakit ini juga bisa saja ditutup oleh pemerintah karena perbuatan kalian. Aku sudah melapor pada pihak yang berwajib, mohon siapkan diri kalian untuk menjelaskan kejahatan kalian."


"Paman, aku tidak akan mengambil alih rumah sakit ini dari paman. Aku akan tetap pada posisiku sebagai dokter." Daniel memperlihatkan sebuah berkas yang ada di dalam map biru yang ia pegang. "Aku sudah mengalihkan semua saham milikku pada calon anak Daren nantinya, karena paman adalah kakeknya jadi paman harus mengurus rumah sakit ini sampai cucu paman besar nanti," terang Daniel. Dia sudah memikirkannya sejak lama, dan sudah membicarakannya dengan Mia juga. Sang istri pun setuju dan mendukung keputusannya.


Paman Sam bergeming ditempatnya.


"Niel, apa maksud mu?" tanya Daren yang terkejut. Bagaimana bisa dengan mudahnya sang sepupu mengalihkan sahamnya pada calon anak Daren yang bahkan belum lahir ke dunia ini.


"Aku ingin menjadi dokter bukan pemilik rumah sakit, asalkan visi dan misi rumah sakit ini tetap sama seperti saat kakek masih hidup, aku tidak akan keberatan siapapun yang memimpin."


"Niel, tapi ini keputusan yang besar. Kau harus membicarakannya dulu dengan istri dan om Alex."


"Aku sudah membicarakannya dengan mereka dan mereka setuju. Jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan lagi kan sekarang, tenang saja kau tidak perlu cemas aku akan jatuh miskin karena sudah tidak punya saham lagi disini," ujar Daniel seraya tersenyum menyeringai. "Apa kau lupa kalau Daddy ku siapa, meskipun Daddy akan memberikan semua hartanya pada anakku tapi selama mereka masih kecil maka aku yang mengatur semuanya. Kalau anakku sudah besar, aku akan bergantung padanya. Hahaha..."


Daren menatap sepupunya dengan malas, rupanya sifat percaya diri dan sombongnya sudah kembali.