Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
76. Melakukan Lagi


°°°


"Niel...," pekik Mia saat lengannya tiba-tiba ditarik.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan Daniel. Ternyata pria itu tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.


Daniel semakin merapatkan tubuh mereka dengan menarik pinggang ramping Mia.


"Jangan berkata seperti itu, kita tentu akan menjadi suami istri sungguhan. Aku akan mencari uang untukmu dan uangmu kau simpan saja."


"Lepaskan dulu Niel, bagaimana kalau ada yang melihat." Mia protes dengan berusaha mendorong da-da bidang milik Daniel yang semakin menghimpit nya. Posisi seperti itu juga membantu degup jantungnya tidak normal.


"Kenapa bukankah kita akan menikah besok, jadi tidak ada salahnya kalau kita berdekatan seperti ini. Bahkan lebih dekat... " Daniel mencondongkan wajahnya ke depan hingga jarak mereka semakin terkikis.


Kenapa pria ini jadi seperti ini sekarang, Dimana Daniel yang cool dan dingin saat kami pertama kali bertemu. Mia memaku saat wajah Daniel semakin dekat. Kenapa dia tidak bisa menolak pesona pria itu.


Sementara di dalam ruangan. Para orang tua asyik dengan obrolan mereka yang terasa semakin seru. Dad Alex juga bisa dengan mudah akrab dengan papah Willy, walaupun mereka berbeda kasta istilahnya.


Dad Alex dan papah Willy ternyata juga sama-sama pandai bermain catur. Dad Alex yang selama ini belum menemukan lawan yang sepadan merasa senang saat akhirnya ada yang berhasil mengalahkannya.


"Aku tidak menyangka kalau anda hebat bermain catur, biasanya aku selalu menang dan itu sangat membosankan saat tidak ada yang bisa mengalahkan ku."


"Mulai sekarang anda harus kecewa karena saya akan menjadi lawan anda Tuan."


Tawa mereka pun saling bertautan memenuhi ruangan private itu. Mereka sudah seperti teman lama.


Sementara para wanita juga sibuk mengobrol sambil mengawasi para laki-laki agar mereka tidak terlalu banyak minum. Sebenarnya mereka melarang papah Willy minum tapi laki-laki itu bersikekeuh, katanya mau menemani calon besannya. Toh mau minum ataupun tidak, hidupnya tetap tidak akan lama lagi. Hal itu membuat mamah Emma sempat bersedih.


Emma merasa, tidak bisakah mantan suaminya itu disembuhkan seperti dirinya. Apa mungkin takdir memang sedang menghukumnya atas perbuatannya di masa lalu.


"Mah, tenang saja. Papah tau apa yang tubuhnya rasakan." Felice memahami perasaan mamahnya saat ini. Dia pasti khawatir dengan papah Willy.


"Biarkan mereka menikmatinya jeng. Kita awasi saja dari sini. Oh iya jeng, coba ceritakan masa kecil Mia, aku penasaran bagaimana dia bisa menjadi wanita yang hebat seperti sekarang. Sangat tangguh."


Mamah Emma semakin bingung saat ditanya bagaimana masa kecil putrinya karena hanya ada kenangan buruk yang malu untuk diceritakan.


"Mia menjadi seperti sekarang karena saya Nyonya, saya sudah menjadi ayah yang jahat untuk nya. Sampai dia menjadi wanita yang sangat tangguh." Papah Willy yang menjawab. Tentu dia selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan keluarganya.


"Justru anda sudah membuat Mia menjadi wanita yang hebat. Selama bekerja menjadi sekretaris ku, Mia sangat bisa diandalkan. Dia juga bisa menaklukkan para investor dengan mudah. Mia sangat bisa aku andalkan kalau aku ada kerjaan di luar negeri." Dad Alex memuji Mia dengan bangga dihadapan kedua orangtuanya agar mereka tidak menyalahkan diri sendiri lagi.


"Maaf jeng, aku tidak bermaksud untuk membuat kalian mengingat masa lalu. Aku hanya ingin mengenal Mia lebih dekat." Mom Tania jadi tak enak hati, kenapa yang ia lakukan selalu berakhir seperti itu. Padahal dia sama sekali tidak punya niatan buruk.


"Tidak apa-apa Nyonya, saya mengerti," sahut Emma dengan senyum ramahnya. "Jika anda ingin mendengar tentang Mia kecil, saya bersedia menceritakannya."


"Benarkah? Terimakasih jeng."


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka dengan canda dan tawa. Tak ada lagi yang perlu ditutupi atau merasa malu pada masa lalu. Mamah Emma kini lebih merasa percaya diri dihadapan besannya.


Felice pun ikut senang melihat keakraban mereka. Dalam hatinya selalu berdoa agar kakaknya bisa mendapatkan laki-laki dan keluarga baik dan menyayangi nya. Sekarang sepertinya doanya sudah terkabul, melihat bagaimana baiknya Daniel dan juga ayahnya. Mengenai mom Tania, Felice yakin kalau dia akan menyayangi kakaknya jika sudah mengenalnya.


"Ya ampun!" Terkejut Felice saat melihat pemandangan di luar jendela. Dimana sang kakak sedang berada dalam pelukan kakak iparnya.


"Ada apa nak?" tanya mamah Emma dan mom Tania yang juga menatapnya.


"Masa sih ada nyamuk, sepertinya kita harus komplain Dad. Jangan sampai tamu kita terganggu nanti," ujar mom Tania.


Felice menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tidak menyangka kalau perkataannya akan dianggap serius. Tapi dia juga menggunakan kesempatan itu untuk menutup korden. Agar mereka tak bisa melihat pasangan yang sedang bermesraan tak tau tempat itu.


Felice juga sempat mendelik pada kakak iparnya saat sedang menarik korden.


Kalian ini apa tidak bisa sabar sedikit, besok kalian bisa berduaan sepuasnya. Omel Felice dengan hanya menggerakkan bibirnya tapi tidak bersuara.


"Kenapa ditutup nak?"


Felice salah tingkah dan berusaha mencari alasan yang tepat untuk pertanyaan dari dad Alex itu.


"Mm... tidak apa-apa Dad, oh ya bagaimana kalau kita lanjutkan yang tadi. Bukannya mamah mau menceritakan tentang kakak, ceritakan tentang aku yang imut-imut juga saat kecil Mah."


Terkutuk kalian berdua, aku jadi harus mencari-cari alasan untuk mereka.


Masih saja Felice menggerutu dalam hatinya.


,,,


Sementara di balkon.


Daniel masih setia menahan tubuh Mia dalam dekapannya. Bahkan ia semakin lekat menatap wajah calon istrinya.


"Niel, lepaskan aku..." Pipi Mia sudah seperti kepiting rebus karena sejak tadi Daniel terus menatapnya. Seperti tidak ada bosannya.


"Kenapa... apa ada larangan untuk tidak boleh menatap calon istri sendiri," goda Daniel yang lagi-lagi mendekatkan wajahnya. Ingin sekali dia melu-maat bibir menggoda itu dari tadi tapi dia tidak enak jika kedua orangtua mereka melihat.


Sampai saat sang adik ipar menutup korden dengan kesal, dia justru tersenyum. Sangat pengertian sekali adik iparnya. Meski kesal tapi dia tetap melakukan hal itu.


"Kenapa kau tersenyum sendiri, apa yang lucu?" Mia menautkan kedua alisnya.


"Tidak ada..." Daniel mengedipkan bahunya.


Namun, Mia tidak percaya begitu saja. Dia baru saja mau menoleh tapi Daniel lebih dulu menarik tengkuknya dan menci-um bi-birnya.


"Eeuummm..." Mia berusaha mendorong tubuh Daniel tapi pria itu semakin menekan tengkuk dan pinggangnya.


Pada akhirnya Mia Kembali terbuai oleh sentuhan Daniel yang selalu begitu lembut. Dia pun mulai membalas dan membuka mulutnya untuk memberikan akses pada pria itu.


"Haa... hu... "


Daniel melepaskan sebentar untuk membiarkan Mia mengambil nafas. Kemudian dia kembali melanjutkan cium-aann nya.


to be continue...


°°°


😁😁😁