Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
27. Hidup Yang Tidak Mudah


°°°


Setelah membeli makanan dan kopi pesanan kakaknya, Felice pun kembali ke kamar rawat mamahnya.


Terlihat sang kakak tertidur di dekat ranjang dengan kepala yang menunduk. Felice mendekati kakaknya dan memasangkan jaket yang ia bawa untuk menyelimuti tubuh sang kakak tapi karena pergerakan itu justru Mia terbangun.


"Apa aku membangunkan kakak, tidurlah lagi di sofa. Biar aku yang menemani mamah," ujar Felice.


Mia mengucek matanya yang sembab karena habis menangis tadi. "Kau lama sekali sampai aku ketiduran, mana pesanan ku? ada kan kopinya?" tanya Mia yang berpura-pura untuk menutupi kesedihannya.


"Aku meletakkannya di meja, kakak makan dulu saja. Kita gantian menemani mamah," ujar Felice.


Mia pun mengusap lembut kepala adiknya dan tersenyum. "Ya sudah aku akan makan duluan kalau begitu," ujarnya.


Felice mengangguk lalu ia duduk di kursi yang tadi diduduki oleh kakaknya. Memperhatikan wajah sang mamah yang sudah tidak sepucat tadi.


Wajah mamah sudah terlihat lebih segar, semoga saja sebentar lagi mamah sadar.


Mia memilih keluar dari kamar itu untuk menghirup udara segar sebentar dengan menikmati kopinya. Sesekali dia juga memijit pelipisnya yang berdenyut, mungkin karena banyaknya pikiran yang ia tanggung seorang diri.


Mia menyesap kopi dinginnya, berharap bisa mendinginkan pikirannya juga. Namun, sayangnya perkataan Daniel kembali terngiang di telinganya.


Tidak Mia jangan memikirkan hal itu lagi. Kau juga belum tentu hamil. Lagian orang itu juga mau bertanggungjawab jawab karena takut kau hamil, lalu kalau pada akhirnya aku tidak hamil bagaimana? Apa dia mau menceraikan ku begitu saja.


Mia kembali menyesap kopinya.


Pikiran dan tenaga Mia selama ini sudah terkuras habis untuk keluarga nya. Rasanya ditambah masalahnya yang baru seakan mau pecah kepalanya.


Dari semasa sekolah dia harus berjuang keras untuk mendapatkan beasiswa demi bisa tetap melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Di samping itu dia juga menghabiskan waktunya untuk mencari uang. Kadang dia berjuang permen dan tisu keliling, di sekolah dia juga membantu ibu kantin demi mendapatkan jajanan gratis.


Hidup Mia sungguh tidak mudah, memiliki ayah yang tidak bertanggungjawab adalah beban yang sangat berat. Terkadang dia juga harus membawa adiknya yang masih kecil untuk berjualan tisu keliling karena keadaan mamahnya yang sering sakit-sakitan.


Hidup Mia barulah berubah saat dia berhasil bekerja di perusahaan Star company dan menjadi orang kepercayaan CEO. Namun, lagi-lagi dirinya diuji saat mengetahui penyakit mamahnya.


Huhhh... Mia menghela nafasnya berkali-kali. Sering kali dia berpikir untuk menyerah tapi dia kembali sadar saat bayangkan sang mamah dan sang adik terlintas di pikirannya. Kalau tidak ada dia bagaimana nasib mereka nanti, itulah yang selalu membuat Mia semangat.


Sampai dering ponselnya membuyarkan lamunan Mia. Dia segera merogoh sakunya dan mengangkat panggilan dari adiknya.


"Hallo, ada apa dek."


šŸ“ž"Mamah sudah bangun Kak, cepatlah kesini."


Seketika senyum di wajah Mia terukir, dia sangat senang mendengarnya.


"Kakak kesana sekarang, kamu panggilkan dokter dulu untuk memeriksa mamah."


šŸ“ž"Iya kak, cepatlah datang karena sejak tadi mamah mencari mu. Anak kesayangannya."


Terdengar ledekan dari sang adik yang mampu membuat Mia tersenyum lebar.


Setelah panggilan itu berakhir, Mia bergegas berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit itu. Dia bahkan setengah berlari karena tidak sabar untuk bertemu sang mamah.


Mia sampai di ruangan mamahnya dan melihat ada dokter dan beberapa perawat yang sedang memeriksa.


"Kau sudah datang Kak," bisik Felice.


"Bagaimana keadaan mamah tadi?" tanya Mia yang sudah penasaran.


"Dia terlihat baik-baik saja tadi, kita tunggu kata dokter saja nanti kita tanyakan keadaan mamah."


Bisik-bisik kedua kakak beradik itupun sampai di telinga Daniel. Dia bisa menebak kalau wanita yang tadi menolaknya sekarang ada di belakangnya.


"Tidak Dok, aku sudah tidak apa-apa sekarang," jawab mamah Emma yang pastinya hanya tidak ingin membuat putri-putrinya khawatir.


Daniel tampak mengerti, bagi seorang ibu pastilah tidak mudah menghadapi kenyataan kalau beliau menderita penyakit yang berbahaya. Pastilah tidak ingin membuat anak-anaknya khawatir.


"Baiklah, anda harus tinggal beberapa hari di sini untuk menjalani beberapa pemeriksaan. Baru setelah itu kita jadwalnya untuk operasi anda setelah keadaan anda membaik," ujar Daniel.


"Benarkah Dok, apa anda adalah dokter yang mau mengoperasi ku?" Mata mamah Emma berbinar bahagia.


"Iya nyonya, saya akan melakukan yang terbaik untuk anda karena saya sudah berjanji pada seseorang," ujar Daniel membuat semua orang tampak terkejut termasuk Mia yang sejak tadi memperhatikan.


Kenapa dia harus berkata seperti itu, tidak bisakah dia pura-pura lupa.


Meski mamah Emma juga terkejut tapi dia tidak bertanya lebih jauh lantas dia berterimakasih.


"Terimakasih dokter, mohon bantuannya," ujar mamah Emma dengan tulus.


"Sama-sama Nyonya, kalau begitu saya permisi." Daniel membungkukkan tubuhnya lalu berbalik dan saat itu tatapan nya bertemu dengan Mia yang tidak sengaja sedang melihat ke arahnya.


Buru-buru Mia mengalihkan pandangannya, lalu membungkuk hormat. Berbeda dengan Felice yang justru menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan mamahnya.


"Bagaimana keadaan mamah saya Dok, apa dia sudah tidak kenapa-kenapa?" tanya Felice yang begitu khawatir.


"Kelihatannya kamu sangat perduli dengan mamahmu," sindirnya pada Mia yang diam saja.


"Tenang saja, mamah kamu sudah baik-baik saja tapi beliau masih harus disini untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Saya permisi," ujar Daniel.


"Baik Dok, terimakasih banyak." Felice membungkukkan tubuhnya pada Daniel lalu dia segera menghampiri mamahnya.


Daniel juga melanjutkan langkahnya lalu tersenyum saat dihadapkan Mia.


Mia kembali menunduk saat pria itu melewatinya.


"Mah, bagaimana keadaan mamah. Apa masih sakit?" tanya Felice.


"Mamah sudah tidak kenapa-kenapa nak, kau jangan khawatir." Mamah Emma mengusap lembut pipi putri kecilnya.


"Bagaimana aku tidak khawatir kalau melihat mamah seperti kemarin. Kenapa mamah tidak pernah bilang kalau mamah kesakitan." Felice tergugu, dia menghambur ke pelukan mamahnya.


"Mamah hanya tidak ingin membuat kalian khawatir, mamah juga tidak menyangka kalau akan pingsan seperti kemarin, maafkan mamah karena telah merepotkan kalian," ujar mamah Emma yang selalu merasa menjadi beban putri-putrinya.


"Kenapa mamah bilang begitu, mamah adalah ibu kami. Sudah sewajarnya kami merawat mamah. Jasa dan perjuangan mamah jauh lebih besar saat membesarkan kami." Felice melepaskan pelukannya dan menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata mamahnya.


"Dimana kakak kamu, pasti dia marah sama mamah," ujarnya.


Felice pun menoleh ke belakang, mencari kakaknya.


"Kak, kenapa melamun lagi. Ini mamah cariin kakak," panggil Felice.


Mia sadar dengan apa yang barusan ia lamunkan. Buru-buru ia datang mendekat pada sang mamah.


to be continue...


°°°


Like komen dan bintang lima šŸ˜


Gomawo ā¤ļøā¤ļø