Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
89. POV Mia 1


°°°


POV Mia (Yang Aku Rasakan)


Ini... ini gilaa tapi aku suka. Aku tidak mau munafik. Aku menyukai cara Daniel memperlakukan ku. Begitu lembut dan memabukkan. Hatiku menghangat saat dia memberikan perhatian nya padaku. Apa mungkin aku mulai menyukainya.


Dari mulai menyiapkan sepatu flat shoes untuk ku, sesuatu yang bahkan tidak kau pikirkan. Lalu dia yang sering menanyakan apa aku lelah, apa aku lapar dan apa aku haus. Sungguh itu hanya perhatian kecil dan sepele tapi dari situ aku merasa senang.


Saat aku memutuskan untuk kembali ke kamar pun dia yang menyuruhku. Mungkin karena melihat ku yang begitu letih dan dia tak tega. Padahal dia juga sama letihnya kan, walaupun mungkin tidak sepegal kakiku yang menggunakan hak tinggi.


Daniel laki-laki itu terlalu sempurna untukku, kadang aku merasa dia sangat terpaksa menikah dengan ku. Tapi dengan sikap dan perhatian nya membuat ku membuang jauh pikiran itu.


Sampai saat kita hanya berdua di kamar pengantin, ya kamar itu adalah kamar pengantin kami walaupun tidak ada hiasan apapun di sana. Aku pun tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, toh pernikahan ini bukan pernikahan karena saling jatuh cinta tapi karena sebuah insiden.


Walaupun mulutku berkata aku tidak nyaman berdua dengan nya, tapi perasaan ku senang saat melihatnya ada dalam jangkauan pandangan ku. Semenjak di acara tadi aku sungguh tak suka saat para wanita menatap Daniel dengan centil padahal ada aku istrinya yang berada disebelahnya. Apa itu yang disebut cemburu atau aku hanya tidak ingin Suamiku di lihat wanita lain.


Sudahlah, aku sudah terlalu dewasa untuk merasakan hal seperti itu. Aku bukan lagi ABG, aku harus bersikap dewasa dan elegan. Jadi aku putuskan tak aku urusi para wanita itu, aku cukup berdiri dengan percaya diri di samping Daniel.


Daniel berkata "Siapa bilang aku tidak mempunyai perasaan padamu."


Kalau boleh jujur aku suka mendengar nya. Tapi perasaan apa itu, apakah suka atau hanya rasa tertarik sesaat. Aku pun bertanya, "Perasaan apa maksudnya?"


Dia malah menarik tangan ku dan meletakkannya di da-da nya. Aku merasakannya, detak jantungnya yang berdetak begitu cepat. Katanya saat bersamaku dia selalu seperti itu. Ya ampun, apa aku terlalu percaya diri kalau merasa suamiku mulai menyukai ku. Ahh tidak-tidak, kutepiskan pikiran ku.


Saat dia bertanya apa aku juga merasakan hal yang sama, berdebar begitu. Aku ingin teriak, bukan berdebar lagi tapi sudah seperti ingin lompat rasanya tapi aku tak mau mengakui itu. Aku pun mengelak tapi dia malah mendorongku, hai apa kau mau membuat ku jantungan! Ingin ku mengomel, ehh dia malah mengungkung ku.


"Benarkah kau tidak merasakan nya?" bisiknya di telingaku yang membuat sekujur tubuhnya mere-mang. Apa ini kenapa reaksi tubuh ku aneh sekali. Ini tak bisa dibiarkan aku harus menjauh.


Aku pun terus mengelak, tak mau mengakuinya. Dan lagi-lagi dia berhasil mencium ku, bi-bir kenyal dan sek-si seperti nya sudah membuatnya candu. Kalau begini bagaimana aku menolak, walaupun tanganku berusaha mendorong tapi bibirku bergerak mengikuti permainan bi-bir suamiku.


Huh hah... sudah beberapa kali kami berciuman dan dulu juga aku pernah berciuman dengan mantanku tapi tetap saja aku tidak bisa mengatur nafas dengan baik. Aku menatap kilatan bola mata suamiku yang sudah berkabut gai-rah, aku tau dia sedang menginginkannya. Sebuah penyatuan yang bisa membawa dua insan merasakan indahnya surga dunia.


"Aku tidak akan melakukan hal lebih kalau kau tidak mengijinkannya."


Deg.


Kulihat dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang, aku pun langsung protes dan menyuruh nya untuk beristirahat di kamarnya sendiri. Aku lupa kalau kami sudah menikah dan memang selayaknya tinggal satu kamar.


Huhh ya sudahlah, lebih baik aku mandi saja. Tapi lagi-lagi aku di buat syok dan menganga saat mendapati tumpukan lingerie dengan berbagai warna di koperku. Ku periksa apa benar ini koperku, benar ini koperku tapi kenapa isinya lain. Perasaan aku sudah memasukan beberapa piyama panjang dan tertutup tapi kenapa isinya berubah semua.


"Ada apa?"


Ehh, buru-buru aku menutup koperku dan menyembunyikan di belakang tubuh ku walaupun percuma karena masih terlihat. Aku tersenyum dan menghilangkan rasa gugupku agar tak mencurigakan.


Aku semakin gugup saat dia menawariku bantuan untuk membukakan resleting gaunku. Aku langsung menolaknya mentah-mentah, buru-buru aku mengambil asal pakaian ganti ku dan langsung lari ke kamar mandi. Kudengar samar-samar dia tertawa, tertawa lah sepuasmu. Kesal aku mendengar nya tertawa. Huh awas saja nanti.


Selesai mandi dan menggunakan lingerie tipis dan menerawang, tapi untunglah masih ada luaran yang bisa kau pakai menutupi kain transparan ini. Aku pun keluar, rasanya lega saat tak mendapati laki-laki yang sudah menjadi suamiku ada di kamar. Yes, akhirnya aku bisa bebas. Aku bersorak dalam hati. Sudah sangat ingin rasanya merebahkan tubuh ini di kasur hotel mewah yang pastinya sangat empuk.


Tapi, kelegaan ku tak berlangsung lama karena ku dengar seseorang membuka pintu. Ahh bodohnya aku tidak langsung mengunci pintu tadi. Ternyata itu Daniel, dia kembali lagi dan penampilan ku seperti ini. Sungguh aku ingin lari dan bersembunyi, tapi tak ada tempat lagi.


"Aku bawakan makanan, kau pasti belum makan sejak tadi," katanya setelah masuk dan menutup pintu. Dia benar-benar perhatian, kalau saja aku gadis berumur dua puluhan tahun pasti aku sudah meleleh dibuatnya. Sayangnya aku wanita dewasa yang sudah tidak mempan dengan hal-hal seperti itu, ya walaupun masih ada sedikit rasa senang saat mendapatkan perhatian.


Aku tentu saja menolak, bagaimana aku bisa makan dengan pakaian seperti ini. Ahh ini gara-gara Felice, lihat saja nanti aku apakan dia.


"Tunggu!" Ya ampun apalagi ini. Pikiran-pikiran kotorku mulai bekerja, saat aku kira suami ku sedang mencari sesuatu di dalam laci. Pelindung dengan berbagai rasa, aiihhh... apa yang aku pikirkan.


Duarr!


Ternyata pikiran ku salah, padahal aku sudah mau menyerahkan diri. Tapi ternyata suamiku hanya mau mengeringkan rambut ku katanya. Perhatian sekali si ini orang. Bagaimana bisa dulu pacarnya berselingkuh, kurang bersyukur sekali gadis yang mencampakkan pria sebaik ini dengan laki-laki lain. Coba umurku lebih muda sedikit, kami pasti akan sangat serasi.


Tapi lagi-lagi aku menolak kebaikannya, bukannya apa-apa tapi tentu saja karena apa yang aku pakai sekarang. Aku tidak ingin dia melihatku seperti ini, bisa-bisa ia menuduhku menggodanya.


to be continue...


°°°


Satu bab lagi seperti nya aku up habis buka aja ya guys. 💃💃