
Keadaan Daniel saat ini terluka cukup parah akibat guncangan keras yang terjadi di dalam mobil saat bencana dahsyat itu terjadi. Dahinya terluka akibat benturan dan perlu jahitan tapi karena keterbatasan alat jadi dibiarkan begitu saja, tangan kirinya juga sepertinya patah hanya menggunakan kain yang dirobek memanjang untuk menggantung tangannya, dan beberapa luka di bagian tubuh lainnya. Karena saat itu Daniel tidak kebagian tempat duduk atau mengalah untuk rekannya yang lain.
Sementara rekan yang lain hanya memar-memar dan luka lecet sedikit dan itu semua berkat ide Daniel. Daren juga terluka sedikit. Tapi setelah kejadian yang menghadapkan mereka dengan kematian, membuat pria itu kini jadi pendiam. Tidak usil dan mengganggu orang lain lagi.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Daniel dia duduk di sebelah sepupunya yang sedang melamun.
"Aku masih teringat kejadian tempo hari dan masih tidak percaya kalau kita semua selamat dari bencana yang sangat menakutkan itu."
"Karena niat kita baik, kita datang kesini untuk membantu bukan untuk merusak," kata Daniel sambil memandangi hamparan tanah berlumpur yang begitu luas.
Dahi Daren mengerut, dari kemarin sepupunya terlihat sangat aneh. Daniel seperti mengetaihui semuanya, entah apa itu tapi yang pasti seperti misteri saja."Kau itu sebenarnya punya indra keenam ya, bagaimana kau bisa tau kalau kita akan selamat kalau kita tetap berada di mobil?" tanya Daren pensaran.
Daniel tertawa mengejek, pemikiran apa itu. "Indra keenam apa? Aku hanya mengira-ngira saja, berdasarkan instingku. Aku juga tidak tau kalau kita akan selamat," sahut Daniel masih sambil tertawa.
Daren melongo, "Kau bercanda Niel?!" matanya melotot. "Kalau insting mu tidak tepat bagaimana?" sungutnya.
"Ya paling kita mati sama-sama," lontar Daniel begitu saja tanpa beban saat membicarakan kematian padahal Daren saat itu sungguh ketakutan.
Daniel melirik wajah Daren yang begitu tegang setelah mendengar jawabannya, ya mau bagamana lagi. Dia memang hanya memakai ilmu kira-kira kemarin. Bukan indra keenam atau apalah itu. Tapi dia tetap memperhitungkan semuanya.Bagaimana kalau mereka lari pun percuma karena pasti gulungan lumpur itu akan lebih cepat dari langkah kaki mereka dan akhirnya malah ikut tergulung. Perkiraan Daniel saat melihat yang terlihat kuat dan kokoh mungkin saja malah melindungi mereka ternyata benar.
"Bagaimana kalau aku mati saat itu, aku belum menikah dan memiliki keluarga," desis Daren.
"Makanya jangan main-main terus, mau sampai kapan kau seperti itu pada wanita. Kalau sudah ketemu yang cocok ya nikahi saja, mau cari yang seperti apa, paman sam pasti akan mencarikannya." Daniel menasehati sepupunya.
"Tidak!! Aku tidak mau dijodohkan. Aku mau pilih sendiri," tolak Daren dengan usulan sepupunya. "Hai.. sebenarnya aku sudah punya calonnya, tapi butuh bantuan mu dan Mia, hehe..." Daren menyengir kuda.
"Maaf ya, aku tidak mau punya adik ipar sepertimu. Istriku juga tidak akan setuju." Daniel berlalu begitu saja meninggalkan sepupunya yang pasti sedang kesal saat ini.
Daniel panik saat rekan-rekannya yang tadi pamit untuk mencari pucuk dedaunan belum juga kembali. Sangat berbahanya kalau sampai kemalaman di dalam hutan. Di tenda saja kadang mereka mendengar longlongan serigala yang begitu menakutkan, lalu suara gerangan dan aungan yang memekikan telinga. Sudah bisa di tebak betapa bahayanya hutan liar itu yang merupakan hutan lindung bagi hewan buas.
"Apa rombongan dokter Gala dan yang lainnya sudah kembali?" tanya Daniel pada beberapa rekannya yang sedang menyiapkan api unggun untuk menyambut malam, selain untuk penerangan, api unggun itu juga berfungsi untuk mencegah hewan buas mendekat. Mengingat di dekat sana banyak manyat tergeletak yang pasti menggundang binatang buas yang kelaparan untuk datang.
Mereka juga sering menemukan mayat yang terca-bik-ca-bik dagingnya, pasti ulah binatang buas. Untungnya jauh dari tenda mereka.
"Gawat!! Mereka dalam bahaya sekarang." Raut wajah Daniel berubah panik, saat melihat hari semakin malam.
Semua orang pun ikut ketakutan, rombongan yang pergi adalah yang bertugas mencari makanan karena memang Daniel sudah membagi tugas masing-masing, ada yang bertugas mencari ranting juga, air dan obat-obatan alami yang ada di hutan. Kalau Daniel ikut rombongan yang mencari obat karena dialah yang pernah mempelajari obat-obatan tradisional dan tau mana tanaman obat.
"Bagaimana ini dokter?" tanya salah satu perwat wanita yang terlihat sangat ketakutan membayangkan tubuh manusia di makan binatang buas.
"Ada apa ini?" Daren baru datang bersama pemuda berkopiah yang waktu itu.
"Rombongan yang bertugas mencari makanan belum juga kembali dok," terang salah satu dari mereka.
"Bagaimana bisa? Seharusnya mereka tau waktu dan tidak pergi terlalu jauh." Daren terlihat panik juga.
"Kita harus mencarinya sama-sama," ujar Daniel membuat semua orang terdiam dalam pikirannya masing-masing.
"Apa kalian tidak mau?" tanya Daniel saat tak mendengar sahutan dari mereka. "Bagamana kalau kalian yang ada di posisi mereka?" pertanyaan Daniel membuat mereka saling pandang, dan beberapa saat kemudian mereka mulai bergerak menyaipkan obor dan senjata dari tongkat kayu yang mereka runcingi ujungnya. Berjaga-jagi kalau ada binatang buas yang menyerang.
to be continue