Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
31. Kemungkinan Terburuk, Dipecat??


°°°


Mia sudah ada di dalam kantor CEO saat ini. Dia berdiri di depan meja kerja atasannya itu. Hampir setiap hari dia berinteraksi dengan pria paruh baya yang sangat berwibawa itu tapi entah kenapa saat ini rasanya berbeda. Apalagi saat baru pertama masuk ke dalam ruangan itu, hawa dingin langsung menyerang tubuhnya. Seperti sedang memasuki ruang uji nyali.


Ada apa sebenarnya yang mau Tuan Alex bicarakan padaku? Kenapa rasanya jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Apa mungkin aku telah melakukan kesalahan.


Mia menunduk sejak tadi, menunggu atasannya berbicara. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Entah kesalahan apa yang tidak sengaja ia buat sampai aura ruangan atasannya itu begitu mencekam saat ini.


"Apa kau tau apa kesalahanmu?" tanya tuan Alex dengan nada dingin.


deg


Mia menggeleng seraya berkata, "Tidak Tuan, mohon anda jelaskan agar saya bisa memperbaikinya."


Mia memang begitu profesional dan efisien dalam bekerja. Dia langsung tangkap dan tidak suka membuang waktu. Karena itulah tuan Alex bisa percaya padanya.


"Saya rasa kali ini aku tidak bisa mentolerir kesalahan mu lagi," tegas tuan Alex. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi Mia saat dia mengatakan tidak akan memaafkannya.


Mia menghela nafasnya berat, lalu memejamkan matanya. Menguatkan hatinya sendiri, bila memang tuan Alex sudah memutuskan dia tak bisa membantahnya.


"Baik Tuan, saya akan terima apapun keputusan anda," lontar Mia, walaupun mungkin dia akan kehilangan pekerjaan tapi dia harus tetap kuat.


"Benarkah? Kau akan menerima apapun keputusan ku. Kau tidak akan menolak?" tanya tuan Alex dengan jelas dan tegas, tapi sebenarnya dia tersenyum dalam hatinya.


"Benar Tuan, apapun keputusan anda. Saya akan menerimanya karena itu adalah akibat dari kesalahan yang telah saya buat." Mia bukan tipe orang yang suka memohon pada orang lain kecuali dalam keadaan terdesak. Jadi saat ini pun ia pasrah.


"Apa kau tidak ingin tau apa kesalahanmu?" Tuan Alex menyenderkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Tentu saja saya ingin tau Tuan, karena saya merasa telah menyelesaikan semua pekerjaan sesuai dengan keinginan anda. Namun sayangnya dia hanya bisa berbicara dalam hati.


"Saya ingin tau, apakah yang membuat Tuan kurang puas dengan pekerjaan saya. Kalau memang ada kesempatan saya akan memperbaiki tapi jika Tuan sudah mengambil keputusan, maka saya akan menerimanya," pasrah Mia tapi masih dengan wajah dinginnya.


"Baguslah kalau kau mengerti, malam ini datanglah ke rumah dan aku akan memberitahukan apa yang harus kau lakukan untuk memperbaiki kesalahanmu," jelas tuan Alex. Sebenarnya tadi dia ingin menanyakan tentang kejadian malam itu pada Sekretaris nya, tapi rasanya tidak adil kalau hanya bertanya pada satu pihak dan takutnya malah terkesan memojokkan Mia. Nanti saja pikirnya setelah ada kedua belah pihak.


"Kau boleh keluar sekarang," titah tuan Alex.


,,,


Mia berjalan kembali ke mejanya dengan langkah gontai. Mungkin dia terlihat kuat dan baik-baik saja tadi. Namun sebenarnya dirinya juga punya sisi yang rapuh. Dimana beberapa masalah datang bersamaan sebelum masalah lainnya selesai.


Dia sungguh penasaran dengan kesalahan apa yang telah ia perbuat sampai pekerjaan nya mungkin terancam. Lalu bagaimana nanti untuk biaya pengobatan mamahnya dan kuliah adiknya yang sebentar lagi naik semester.


Mungkin kalau hanya untuk membayar operasi dia sudah siap tapi nantinya untuk biaya pengobatan dan cek up bagaimana kalau dia tidak bekerja. Bisa melamar ke perusahaan lain mungkin tapi tidak mungkin juga dapat gaji sebesar di tempatnya sekarang.


Astaga! kepalaku pusing sekali. Kenapa ada masalah lagi dan kenapa harus menunggu nanti malam mengatakannya. Kenapa tidak sekarang saja dan aku bisa segera memperbaikinya. Keluh Mia dalam hatinya.


"Mia, hai... kau kenapa? Wajahmu suntuk sekali kelihatannya. Apa ada masalah serius?" tanya Catty yang saat ini sedang menghampiri Mia.


"Entahlah Catt, aku tidak tau dimana letak kesalahanku. Tuan Alex belum memberi tahukan nya padaku, tapi sepertinya dia sangat kecewa padaku." Mia menunduk lesu.


"Bukankah pekerjaan mu sudah bagus, tuan Alex juga selalu memujimu tapi kenapa beliau tiba-tiba marah. Atau mungkin karena data yang aku kerjakan kemarin, aku harus mengatakannya pada tuan Alex kalau aku yang mengetiknya," tebak Catty. Dia sungguh merasa bersalah pada temannya kalau apa yang ia bantu malah menimbulkan masalah. Dia hendak mau pergi dari sana.


"Aku ingin menemui tuan Alex dan menjelaskan padanya," tutur Catty dengan sangat yakin.


"Apa kau berani? Coba saja katakan padanya," tantang Mia karena setau dia, Catty itu paling takut pada tuan Alex dan tidak mungkin berani menghadap langsung.


"Ish... Kenapa kau tidak mencegahku," sebal Catty.


"Bukannya kau mau membantu ku, kenapa harus dicegah," seru Mia dengan sengaja.


"Iya sih, tapi aku tidak seberani itu. Hehehe... kamu saja yang jelaskan pada beliau kalau aku yang mengerjakan pekerjaan mu kemarin," cetus Catty.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Itu bukan karena itu dan apa yang kamu kerjakan juga sudah aku lihat sebelum sampai ke tangan tuan Alex. Sepertinya ada masalah besar yang telah aku perbuat sehingga membuatnya kecewa." Apapun hukuman atau keputusan nya nanti Mia sudah bertekad akan menerimanya dengan lapang dada.


"Oh iya, apa kamu jadi ke rumah sakit nanti?" tanya Mia.


"Jadi nanti kamu jemput kami di rumah, karena suamiku tidak bisa mengantar sepertinya," ujar Catty.


"Baiklah, aku juga mau pulang dulu mengambil baju untuk kerja besok. Apa aku bisa minta tolong? Jangan katakan pada mamah mengenai masalah tadi. Aku tidak mau mamah jadi banyak pikiran," pinta Mia.


"Tentu, aku akan menjaga rahasia ini agar tetap aman." Catty berjanji seraya menutup mulutnya dengan jari lalu bergerak seperti sedang mengunci pintu.


,,,


Sorenya.


Pulang dari perusahaan, Mia lebih dulu pulang ke rumah untuk mengambilkan beberapa keperluannya. Baju untuknya, sang adik dan mamahnya.


Karena malam ini dia harus ke rumah atasannya, Mia pun menggunakan pakaian yang rapi.


Setelah sempat mandi dan berpenampilan seperti biasa. Mia pun segera pergi ke rumah sakit tapi sebelum itu dia mampir ke toko mainan anak untuk ia berikan pada putra temannya.


Semoga saja bocah itu suka.


Mia memilih satu kotak mainan berbentuk robot, jenis mainan yang Kenan sukai.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari. Kini saatnya menjemput teman dan putranya yang berada tidak terlalu jauh dari sana.


Tiba di kawasan perumahan minimalis. Mia pun memarkirkan mobilnya di pinggir jalan karena ia hanya mampir sebentar untuk menunggu Catty dan putranya.


Mia mengambil mainan yang tadi ia beli lalu ia bawa turun dari mobil. Rasanya sudah tidak sabar melihat ekspresi bahagia di wajah bocah laki-laki itu.


to be continue...


°°°


Ikutan aja alurnya ok😉😉😉


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo ❤️❤️❤️