Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 13. Dengan Cara Apa


Felice pun kembali ke rutinitasnya, masa magangnya masih lama di perusahaan milik Calvin. Luka di tangannya juga sudah sembuh, ajaib sekali salep itu pikirnya. Dan untungnya juga tidak meninggalkan bekas luka di tangannya.


Melewati lobi dan resepsionis yang menatapnya sinis, bukan hanya mereka saja karena hampir semua karyawati pun menatapnya dengan tatapan seperti itu. Usut punya usut ternyata karena jabatan yang kini di duduki Felice di perusahaan itu, bagaimana hanya seorang anak magang saja bisa menjadi sekretaris. Ya tapi untungnya Felice tipe orang yang cuek, selama mereka tidak mengganggu dan merugikan maka terserah saja kalau mau bergosip.


Gadis itu sedang menunggu di depan pintu lift, saat kebetulan Calvin juga baru datang. "Apa luka di tangan mu sudah sembuh?" tanya Calvin yang sudah berdiri di samping Felice yang sedang memainkan ponselnya.


Felice tau siapa pemilik suara itu, hari-harinya saja dihadapkan dengan pria itu bagaimana tidak hapal dengan suaranya. "Pagi Tuan," sapa Felice sopan sambil membungkuk, ya dari pada jadi bahan gosip lagi.


"Hmm... kamu belum menjawab pertanyaanku."


"Eeehh ini, sudah sembuh. Sudah bisa bekerja lagi, terimakasih atas perhatian anda tuan."


ting


Felice mempersilahkan Calvin untuk masuk lebih dulu, lalu ia menyusulnya di belakang dan menekan tombol menuju lantai paling atas dari gedung itu. Di dalam ruangan persegi itu mereka hanya berdua, hening tidak ada yang membuka pembicaraan.


Calvin menyenderkan punggungnya pada dinding lift, satu tangannya ia masukan ke saku. Dilihatnya dari belakang, gadis yang saat ini ada di depannya. Jujur dia belum pernah yang namanya mendekati wanita, jadi dia tidak tau lagi apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Sejauh ini hubunggan mereka masih sebatas atasan dan bawahan, tidak lebih dan tidak kurang. Apa ia Pria itu langsung saja menyatakan cinta tapi bagaimana kalau ditolak bukannya itu memalukan.


"Silahkan tuan." Pintu lift terbuka dan Calvin masih terpaku pada pikirannya. Sampai gadis itu menyuruhnya keluar barulah ia tersadar.


Kenapa dengan pria itu. Heran Felice.


"Hai nona Felice bagaimana keadaan tanganmu?" tanya Sam memastikan kalau luka yang kemarin karenanya sudah sembuh. Kalau tidak sang bos pasti akan marah-marah lagi.


"Sudah, nih lihat." Felice menunjukannya pada Sam. "Terimakasih salepnya, lukaku jadi cepat sembuh," ujar Felice.


"Ehh itu... " Sam garuk-garuk kepala sambil melirik bosnya yang sedang menatapnya tajam. "Sebenarnya bukan salepnya yang ampuh tapi karena seseorng sudah merawat luka nona dengan baik." Asal bicara saja.


"Apa, Kau bicara apa tadi asisten Sam?"


"Tidak apa-apa, aku mau lanjut bekerja lagi. Permisi nona, tuan." Sam kabur menghilang entah kemana.


"Aneh, apa maksud Sam..' Felice mengedikkan bahunya acuh.


Siangnya, mereka ada meeting di luar bersama klien. Hari ini juga pertama kalinya Felice ikut meeting. Meski kata Calvin dia hanya perlu mencatat hal-hal yang penting saja dan cukup diam saja kalau tidak di tanya.


"Baiklah ayo kira berangkat, tolong panggilkan Sam," titah Calvin pada sekretarisnya.


"Baik," Ucap Felice.


Mereka pun datang ke restoran yang sebelumnya sudah di pesan. Masuk ke dalam ruangan privet dan menunggu klien datang.


Sejak masuk ke restoran dan mencium bau masakan tentu saja membuat perut Felice langsung berdendang meminta di isi, untunglah tempat itu ramai jadi tidaka ada orang yang mendengar suara perutnya. Wajar saja kan karena mereka meeting di jam makan siang. Saat lapar mendera tentu saja membuat pikiran gadis itu jadi tidak fokus pada pekerjaannya, pikirannya sudah melayang membayangkan makanan apa saja yang ada di restoran itu.


"Fel, di mana filenya?" tanya Calvin saat dia sedang menjelaskan pada klien dan membutuhkan file mengenai apa yang mereka bahas.


Sementara Felice masih saja membayangkan makanan lezat sampai membuatnya melamun dengan wajah mupengnya.


Astaga, kenapa dengan gadis ini. Kenapa dia melamun disaat seperti ini. Sam berdecak dalam hatinya.


"Huusstt... nona, bos memanggil anda," tegur Sam yang duduk tidak jauh dari Felice. Tapi gadis itu masih saja bergeming, dengan memangku dagunya di atas meja. Dengan terpaksa Sam pun menyenggol lengan Felice agar gadis itu tersadar dari lamunannya.


Felice menyengir kuda saat semua orang menatapnya heran, malu sekali dia jadi pusat perhatian semua orang.


Ya ampun Felice sadarlah, bagaimana bisa kau melamun saat meeting seperti ini.


Meeting pun berlangsung dengan lancar. Pihak klien setuju dengan apa yang Calvin rencanakan. Pria muda itu memang mempunyai segudang ide briliant. Tidak akan rugi kalau bekerja sama dengannya. Meski ada juga yang meragukan kemampuannya karena masih muda dan belum punya banyak pengalaman.


"Terimakasih tuan, tidak menyangka kalau anda akan langsung tertarik dengan proyek ini," ujar Calvin berbasa-basi.


"Tentu anak muda, idemu mu ini sangat fresh dan baru. Pasti banyak anak muda yang menyukai ini."


Mereka pun tertawa bersama dan berbincang ringan sambil makan siang. Felice tentu saudah sangat menunggu saat makanan tiba, tapi dia juga harus bersabar dan tahan diri untuk tidak mengambil makanan terlalu banyak atau semua orang akan menertawakannya.


"Oh ya nak Calvin apa sudah ada pacar? Kalau belum kebetulan aku punya anak gadis seumuran nak Calvin, nanti kapan-kapan kalian harus bertemu." Si klien menawarkan anak gadisnya.


Kalau saja Calvin sedang tidak butuh investor sudah pasti dia akan langsung menolaknya, tapi sekarang dia tidak punya alasan kecuali kalau...