
°°°
Flashback
Felice baru saja tiba diantar oleh pria yang beberapa hari yang lalu menjadi kekasihnya.
"Terimakasih, apa kau mau mampir dan bertemu mamah," ujar Felice.
"Apa boleh? Kalau begitu aku mau."
Mereka berjalan berdua sambil sesekali bercanda dan tertawa, sampai sebuah mobil datang. Mobil yang sangat Felice kenal, mobil milik kakaknya.
Felice menarik tangan kekasihnya bersembunyi di antara jejeran mobil.
"Ada apa?" tanya Andre bingung.
"Diam dulu sebentar," ujar Felice seraya mengintip kakaknya.
"Kamu sedang lihat apa sih," Andre penasaran.
"Suttthhh... jangan berisik. Dengarkan aku, sekarang kamu cium aku," pinta Felice yang membuat Andre membelalak.
"Tidak Felice, bagaimana kalau ada yang lihat." Andre tidak mau.
Tapi Felice begitu saja menarik kemeja Andre hingga bibir mereka saling menempel. Awalnya Andre cukup terkejut, tapi dia diam saja. Ya siapa yang tidak suka tiba-tiba di cium kekasihnya seperti itu. Bahkan Felice mengalungkan tangannya pada lengan Andre.
Saat itulah Mia melihatnya dan berteriak. Felice bisa melihat betapa kilatan amarah ada di bola mata kakaknya tapi itulah yang ia inginkan. Felice berpura-pura malu karena baru kepergok dan sengaja membuat kakaknya semakin marah dengan mengatakan kalimat yang sangat menusuk.
Maaf kak Mia, aku tidak bermaksud menyakiti hati kakak. Tapi aku sungguh sayang pada kakak dan ingin kakak segera mendapatkan pasangan agar tidak lagi menanggung beban keluarga kita sendirian.
Sebuah tamparan mendarat di pipi Felice tapi gadis itu sama sekali tidak marah pada kakaknya, dia hanya berakting saja.
Sampai dia pergi lebih dulu, dari tempat itu tapi sebenarnya dia menguping pembicaraan kakaknya dengan kekasihnya. Tidak menyangka kalau sang kakak akan mengatakan hal seperti itu pada kekasihnya.
Kak Mia... kenapa kamu masih begitu baik padahal aku sudah menyakiti mu. Setelah itu Felice pergi lebih dulu karena tidak mau ketahuan sedang menguping.
Sampai di unit apartemennya, Felice menceritakan apa yang terjadi pada mamahnya nya. Termasuk ucapannya yang menyakitkan untuk sang kakak. Tentu sang mamah juga marah padanya. Tidak apa-apa karena Felice tidak pernah iri pada sang kakak. Justru ia sangat bangga pada kakaknya yang berjuang demi keluarga.
Flashback end.
Di dalam kamarnya, Mia memikirkan apa yang adiknya katakan saat berada di basemen apartemen.
Seharusnya aku lebih mengerti dia, Felice bukan lagi adik kecilku dia sudah besar dan yang dikatakan juga benar. Jangan sampai seperti aku yang tidak kunjung menikah diusia yang tidak lagi muda.
Mia memandang langit-langit kamarnya, menerawang jauh masa-masa dulu saat ia jatuh cinta. Dia sebenarnya bukan tidak mau menikah tapi dia masih trauma dengan sebuah hubungan dan takut kalau nantinya akan diselingkuhi lagi.
Tok tok tok
"Boleh mamah masuk, nak?" tanya mamah Emma dari balik pintu.
"Masuk saja mah, pintunya tidak aku kunci." Mia bangun dan duduk di tepi ranjang.
Mamah Emma menghampiri putrinya dan duduk di sebelahnya. Mengusap lembut rambut panjang sang putri yang sangat indah saat di gerai.
"Apa kau memikirkan ucapan adikmu, maafkan dia. Dia hanya belum dewasa untuk mengerti bagaimana jadi kamu," ujar mamah Emma.
"Mia tau mah, aku tidak marah padanya." Mia tersenyum pada sang mamah.
"Apa boleh mamah bertanya sesuatu?" tanya mamah Emma.
"Tanyakan saja Mah, aku akan menjawabnya."
"Tidak Mah, untuk apa aku memikirkan laki-laki itu lagi. Dia sudah cukup meninggalkan luka yang sangat dalam, mana mungkin aku masih menyukainya. Tapi aku takut, takut untuk memulai hubungan, takut jika pada akhirnya berakhir sama."
"Kamu tidak boleh berpikir seperti itu nak, tidak semua laki-laki itu sama. Mungkin kamu dipisahkan dari dia untuk menemukan laki-laki yang lebih baik suatu saat nanti. Jika waktunya tiba, kamu tidak boleh menolak kehadirannya." Mamah Emma tidak ingin sang putri seperti dirinya yang trauma terhadap suatu hubungan.
"Aku tau mah, terimakasih sarannya." Mia menghambur ke pelukan mamahnya.
"Apa adik sudah keluar dari kamarnya?" tanya Mia.
"Belum, biarkan dia menenangkan diri. Kau bisa bicara padanya kalau dia sudah tenang dan mengerti kalau apa yang kamu lakukan untuk kebaikannya," ujar mamah Emma yang selalu ingin anak-anaknya hidup rukun.
"Baiklah, aku akan mengikuti saran mamah."
"Ya sudah, ayo kita keluar untuk makan malam," ajak mamah Emma, sebenarnya tadi dia sudah berbicara dengan Felice dan memintanya untuk makan malam tapi gadis itu menolak dan mengatakan kalau sang kakak saja yang menemani mamah makan.
"Aku makan di kamar saja Mah, biarkan Felice keluar dari kamar dan menemani mamah makan," ujar Mia.
Mamah Emma mengusap lembut kepala putrinya dan tersenyum. Dia tau sebenarnya kakak beradik itu saling menyayangi tapi mungkin sama-sama gengsi untuk mengatakannya.
"Baiklah, nanti mamah coba bicara pada adikmu."
,,,
Di tempat lain.
Daniel masih berada di luar, dia mencari tempat untuk menenangkan diri. Sebuah restoran yang jauh dari kata ramai. Hanya ada beberapa pengunjung yang duduk.
Daniel memilih tempat duduk di dekat koki yang sedang memasak yang menjadi salah satu daya tarik karena justru itulah keunikannya. Pengunjung bisa melihat secara langsung bagaimana koki membuat masakan sekaligus bisa menghangatkan tubuhnya di cuaca negara S yang sedang musim dingin.
Daniel menikmati suasana tempat itu, suasana yang tidak ia dapatkan di negara K. Di sana hanya ada klub-klub malam yang lebih modern. Dengan lampu yang gemerlap dan musik yang keras. Yang tentunya isinya hanya orang-orang yang mencari kesenangan.
"Pesanan nya Tuan," ujar pelayan.
"Terimakasih."
Daniel mulai memakan cemilan malam yang terbuat dari beberapa seafood yang di tusuk kemudian di bakar dengan bumbu barbeque. Sangat pas di nikmati dengan minuman beralkohol jenis b*ir yang memang sudah biasa ada di restoran-restoran di negara S.
Kandungan alkohol nya tidak terlalu tinggi tapi tetap saja bisa memabukkan kalau terlalu banyak meminumnya. Apalagi biasanya orang-orang yang meminum bir tidak merasakan kalau sudah banyak meminumnya.
Seperti Daniel saat ini, dia terus menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya sambil terus memakan makanannya.
"Kenapa aku begitu sial hari ini, kenapa juga aku harus bertemu mereka!" kesal Daniel yang mulai kehilangan kesadarannya.
"Mereka kira aku tidak bisa bahagia seperti mereka. Salah besar jika mereka berpikir seperti itu, hehehehe..."
Malam semakin larut hingga tanpa terasa Daniel sudah menghabiskan beberapa gelas minuman itu.
to be continue...
°°°
Ngapain si Felice ngelakuin itu, kasian Mia.
Sini peluk othor aja Mia.🤗
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️