
°°°
Daniel mengikuti kemauan istrinya untuk turun ke bawah. Dia tidak jadi menghabiskan makanannya. Seleranya langsung hilang tiba-tiba. Dia juga jadi pendiam tidak seperti Daniel yang suka menggoda kalau di dekat Mia. Tapi satu yang dia tidak ubah. Tangannya tetap menggenggam tangan istrinya dari kamar tadi hingga saat ini berada di lift pun tidak jua melepaskan genggaman tangannya.
Mia saat ini menggunakan kemeja milik suaminya dengan panjang hingga di atas lutut, tampak kebesaran tapi Mia tak kehilangan akal. Dia memasangkan ikat pinggang di perutnya, lalu dua kancing atas yang ia biarkan terbuka dan bagian kerahnya ia biarkan terbuka hingga memperlihatkan pundaknya. Sangat cocok dengan postur tubuhnya, terlihat modis dan trendy. Dia sangat pandai memadu padankan pakaian hingga pas di tubuhnya.
Tapi masalahnya, dia juga bingung kenapa suaminya jadi diam sejak tadi. Tidak ada lagi candaan dan godaan untuknya. Apa dia sedang marah? Tapi marah kenapa? Bukannya seharusnya Mia lah yang marah karena suaminya suka memaksa. Namun, yang diam saja sekarang malah Daniel.
Sepertinya Mia tidak menyukai ini, tidak menyukai keadaan yang seperti ini. Tidak suka suaminya berubah menjadi pendiam dan dingin. Tidak suka suasana yang canggung dan sepi. Mungkinkah dia munafik, karena sekarang kehilangan sosok yang hangat itu.
Sesekali Mia melirik kearah Daniel, raut wajah pria itu tidak bisa ditebak kalau sedang seperti itu. Seperti Daniel saat mereka pertama kali bertemu.
Mia menunduk dan menghela nafas, kenapa jadi seperti ini. Bukannya seharusnya ia senang karena dengan begitu pria itu tidak akan macam-macam lagi padanya. Tidak akan berbuat aneh-aneh lagi. Arrggghh... Mia menggelengkan kepalanya. Pikirannya kacau.
Ting
Pintu lift sudah terbuka dan Mia masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri. Sampai tangan yang tadi masih di genggam suaminya tertarik. Dia yang tidak siap pun tersungkur ke depan, untunglah Daniel dengan sigap menangkap tubuh istrinya.
"Aaa..." Ehh apa aku tidak jadi jatuh, Mia memejamkan matanya saat tubuhnya tersungkur tadi. Ia pikir mungkin ia akan mencium lantai tapi sepertinya tangan seseorang telah menyelamatkannya. Dan ia berharap tangan itu ada milik Daniel.
"Berhati-hati lah, jangan melamun lagi. Kau bisa terjatuh kalau tidak hati-hati."
Suara itu... ya suara itu milik seseorang yang tadi ia pikirkan. Sedikit demi sedikit matanya mulai terbuka, dilihatnya pertama kali wajah suaminya. Mia tersenyum, ternyata saat marah pun pria itu masih saja sangat peduli padanya. Walaupun dia wajah pria itu tampak datar dan matanya, dalam tatapan matanya seperti ada kekecewaan besar di sana.
Daniel memutuskan tatapan mata mereka terlebih dahulu. Dia tidak sanggup berlama-lama menatap manik coklat milik Mia. Dia masih kecewa tapi dia tidak bisa tidak peduli dengan istrinya.
Mia sudah dalam posisi berdiri dengan benar dan merapikan pakaiannya yang tadi sedikit tersingkap. Dia sempat kecewa saat Daniel tiba-tiba mengalihkan pandangannya. Padahal kalau biasanya laki-laki itu pasti tidak akan melewatkan satu kesempatan pun untuk mengambil keuntungan dari Mia.
Astaga... apa yang kamu pikirkan Mia. Apa yang kau harapkan, mungkin saja pria itu sudah bosan denganmu. Ya wanita dewasa seperti ku pasti membosankan.
"Ayo...," ajak Daniel kembali mengulurkan tangannya.
Dia kira aku ini apa, siapa juga yang mau di gandeng.
Mia mencelos, lalu berjalan melewati Daniel begitu saja. Dengan membusungkan dadanya.
Pria tampan itupun menghela nafasnya melihat istrinya tidak mau menerima uluran tangannya. Daniel pun mengekor di belakang sang istri, menjaganya dari belakang. Takutnya kejadian seperti tadi terulang lagi.
Sampai di depan ruangan rias para wanita. Bertepatan dengan Felice yang membuka pintu.
"Kakak, kau sudah datang." Tersenyum geli. "Aku kira belum selesai, jadi aku mau memanggil kalian lagi," lanjutnya, masih tersenyum geli.
"Hehehe... aku tidak mengatakan nya pada orang lain kok kak. Hanya pada mom Tania dan Mamah." Cengengesan merasa tidak bersalah.
Sudah pasti semua orang sudah tau sekarang. Siap-siap dia jadi bahan ledekan. "Sepertinya kakak tidak jadi menambahkan uang jajan kamu." Mia melipat kedua tangannya kesal.
"Ehh... tidak bisa begitu dong. Kakak kan sudah janji." Memohon dengan puppy eyes. "Kalau kakak tidak mau, aku minta kakak ipar saja," ujarnya tersenyum licik saat melihat sang kakak ipar ada di belakang kakaknya.
"Hai kakak ipar, terimakasih sudah mengantarkan kakakku kemari. Oh iya bisakah jangan meninggalkan jejak terlalu banyak, kalian masih ada pesta nanti."
Mia baru sadar kalau di lehernya terdapat bekas jejak yang ditinggalkan Daniel. Aa... ia lupa menutupi nya menggunakan concealer tadi. Kalau begini pasti yang melihat akan berpikir macam-macam.
"Maaf, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi." Daniel menjawabnya dengan datar, lalu mendekat ke arah istrinya. "Aku akan ke ruangan ku, sampai ketemu nanti." Meraih kepala sang istri lalu ia kecup keningnya dengan lembut. Mungkin dia marah, kecewa dan seperti patah hati tapi dia tidak bisa mengabaikan wanitanya.
"Ya ampun, kakak ipar manis sekali," komen Felice saat Daniel sudah menghilang dari sana. "Eh tapi kenapa dengan sikapnya, sepertinya ada yang aneh. Apa kalian bertengkar Kak?" tanya Felice kemudian. Menatap kakaknya yang juga sedang memandangi punggung suaminya yang semakin menjauh.
"Kakak juga tidak tau, kenapa dia tiba-tiba seperti itu."
"Apa karena aku mengganggu kalian tadi?"
Tuk. Mia menyentil kening adiknya.
"Dasar gadis bodoh. Kenapa juga harus marah karena kau. Kau sudah datang di waktu yang tepat tadi." Kalau tidak, aku pasti sudah habis oleh kakak ipar mu. Tapi kalau dipikir apa mungkin karena hal itu Daniel berubah. Bukannya tadi masih baik-baik saja saat mandi bersama dan makan. Ya tadi mereka sempat mandi bersama, tapi hanya mandi tidak lebih walaupun kadang tangan Daniel tidak bisa dikontrol.
"Lalu kenapa? Aa... orang dewasa selalu banyak masalah. Aku jadi tidak ingin cepat-cepat dewasa. Seperti ini saja, lebih bebas dan tidak banyak pikiran."
"Sudah ayo masuk, tidak usah terlalu banyak mengkhayal." Mia mendorong tubuh Felice untuk masuk ke dalam ruangan.
Kedatangan Mia tentu disambut gembira oleh mamah dan mertuanya. Senyumnya sama sama seperti Felice saat melihatnya tadi. Sudah pasti ini sih mereka pasti berpikir hal yang sama.
"Maaf Mom, Mah. Aku terlambat datang, Tadi aku beristirahat di kamar lalu..."
"Husstt... tidak usah dijelaskan sayang, kami mengerti. Kami juga pernah muda, iya kan jeng?" Menatap besannya untuk mencari pembenaran.
"Iya nak, tidak apa-apa. Pestanya juga masih lama dan kau nanti keluar saat di pertengahan pesta. Saat acara dansa akan dimulai. Begitu kata orang wedding organizer nya." Mamah Emma menjelaskan pesan dari pihak WO.
"Apa ada acara berdansa juga, kenapa aku tidak diberitahu. Aku dan Daniel belum berlatih." Dag Dig Dug Mia. Dia takut mempermalukan keluarganya, terutama keluarga suaminya.
to be continue...
°°°