
°°°
Dengan tergopoh-gopoh Felice menghampiri Daren. Lalu berkacak pinggang pada pria itu. Pria yang sudah berani berkata sembarangan tentang Lucy.
"Kenapa kau menuduh orang sembarang dokter Daren!"
"Felice, kau dari mana saja. Aku mencari mu tadi." Daren tidak peduli dengan wanita tadi, meski sempat merasa bersalah saat melihat matanya berkaca-kaca. Tapi setelah melihat gadis yang ia cari, dia langsung senang.
"Apa tujuan mu memberiku jepitan itu agar kau bisa mengenaliku dalam gelap. Lalu saat orang itu bukan aku, kau seenaknya sendiri menuduh orang tanpa bukti." Felice emosi.
"Maaf, soal itu aku kira dia mengambilnya darimu," ujar Daren.
"Aku sendiri yang memberikannya pada Lucy dan aku senang karena bukan aku yang mengenakannya. Aku jadi tau bagaimana sifat asli mu, yang suka merendahkan orang lain karena dia hanya seorang pengasuh mamahku."
"Bukan begitu, aku hanya...," gugup Daren, ini karena kebodohannya sendiri. Semuanya malah kacau.
"Sudahlah dokter, sekalian saja aku kembalikan jepitan mahal itu padamu karena aku juga bukan putri pengusaha atau pejabat. Aku pun tidak pantas menggunakan itu," Ketus Felice, sebal sekali dia pada pria yang merendahkan seorang wanita.
"Tunggu Felice, aku minta maaf. Aku sungguh tidak bermaksud untuk berkata seperti itu."
"Cukup dokter, anda salah kalau minta maaf padaku. Aku tidak punya urusan apapun dengan anda." Felice pergi begitu saja dengan langkah cepat bahkan mengangkat sedikit dress agar bisa sedikit berlari untuk menyusul Lucy. Tak peduli dengan tatapan para tamu yang menatapnya kagum.
Shiiittt... kenapa jadi seperti ini. Daren mengusap wajahnya kasar bahkan melempar topengnya sembarang.
Sementara ada satu orang yang melihat mereka dengan sudut bibir yang terangkat. Dengan satu tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.
Sepertinya pria itu menyukai Felice. Cukup berani juga gadis itu, menarik.
Kau mengingkari janji mu nona, suatu saat kita akan bertemu lagi. Menatap Felice yang terlihat semakin menjauh, bukannya kembali seperti janjinya.
"Bos, apa kau ditinggalkan begitu saja oleh pasangan dansa mu," ujar seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Apa kau mau mati!"
"Hehehe... maaf bos. Jadi bagaimana, anda tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dengan perusahaan Starles."
"Masih banyak cara untuk bekerjasama dengan perusahaan itu. Sekarang tugasmu mencari tau tentang seseorang."
"Apa gadis itu? Apa anda tertarik padanya, bos. Waah ini berita besar, nyonya pasti senang mendengarnya." Asisten itu terlampau senang, sampai tidak menyadari ekspresi tuannya yang sangat menyeramkan saat ini.
"Kau benar-benar sudah bosan hidup sepertinya. Siap-siap saja menjadi makam malam Ehsan."
"Maaf bos, saya hanya bercanda."
Ehsan peliharaan kesayangan, pria itu.
,,,
Daniel dan Mia juga melihat keributan tadi. Awalnya Mia juga mau membela Lucy tapi sang suami menahannya. Kata Daniel itu adalah kesalahpahaman di antara mereka, jadi biarlah mereka yang menyelesaikan.
"Niel, sepertinya sepupumu bodoh."
"Kalau dia pintar, tidak mungkin selama bertahun-tahun hanya jadi dokter jaga."
"Aku tidak akan mengijinkan adikku bersama sepupu mu."
"Apa kau pikir aku mau punya adik ipar seperti nya, cukup punya sepupu seperti nya. Felice terlalu pintar untuknya."
Sepasang suami istri itu menganggukkan kepalanya. Sependapat dan sepemikiran.
Kembali ke acara.
"Bagaimana, apa kalian sudah mempunyai pasangan dansa untuk malam ini," seru pembawa acara.
"Yang tidak kebagian pasangan jangan berkecil hati, karena saya juga tidak punya pasangan." Suasana di pesta itu kembali riuh.
"Ok, kalau begitu mari kita mulai berdansa. Dimulai dari pasangan yang sangat serasi malam ini."
"Maukah nona berdansa dengan ku?" Daniel menyilangkan satu tangannya di depan dada dan membungkuk lalu satu tangannya terulur pada Mia.
"Niel..." lirih Mia. Sementara Daniel mengedipkan sebelah matanya agar Mia membalasnya.
Mia melihat semua orang yang sedang menunggunya, dengan ragu dia memberikan tangannya pada Daniel.
"Niel aku tidak terlalu pandai berdansa," bisik Mia saat tubuh mereka sudah berdekatan.
"Serahkan saja padaku, cukup ikuti gerakan kakiku." Daniel meraih pinggang istrinya, lalu menaruh kedua tangan Mia di pundaknya. Tak lama musik pun di mainkan.
Benar saja, Daniel begitu pandai berdansa. Dia bisa dengan mudah menuntun Mia untuk mengikutinya. Mia juga cukup sigap.
Semua orang menatap kagum pada pasangan yang sedang berdansa itu. Tarian mereka sangat indah dan romantis. Kemistri keduanya juga mendukung.
"Ohh... mereka sangat serasi, pantas sekali kalau jadi pasangan sungguhan."
"Iya, bukannya mereka tadi berciuman. Mungkinkah mereka memang pasangan."
Komentar-komentar kagum membanjiri Daniel dan Mia.
Kecuali seseorang yang juga sama kecewanya dengan Daren. Jasmine yang berharap menjadi pasangan dansa Daniel dan menjadi pusat perhatian nyatanya gagal. Dia malah jatuh dalam pelukan suaminya sendiri.
"Mereka pasangan yang serasi, siapa mereka?" Vino berkomentar.
"Sayang, untunglah tadi aku menemukan mu. Apa kau takut tadi saat gelap?"
"Iya, untung saja laki-laki itu kamu Kak." Memasang senyum manis.
"Kita memang berjodoh, dalam gelap pun kita dipertemukan." Vino merangkul pinggang istrinya. Sementara Jasmine hanya tersenyum tipis dengan pandangan yang masih menatap Daniel.
Siapa wanita itu, kenapa kelihatannya mereka begitu dekat. Dan kenapa Daniel ada disini, atau mungkin dia diundang juga. Aku harus mencari tau.
"Kak, bukankah itu Daniel. Pria yang sedang berdansa itu."
"Benarkah? Pantas saja aku seperti mengenalnya," jawab Vino.
"Apa dia juga kenal dengan pemilik perusahaan star company?"
"Entahlah, mungkin saja. ohh aku baru ingat. Bukannya kita pernah bertemu dengannya di rumah sakit Star Medical center. Rumah sakit itu juga milik tuan Starles, wajar saja kalau Daniel juga hadir." Vino hanya menerka-nerka.
Selama ini memang tidak ada yang tau nama belakang Daniel, kecuali keluarganya. Jadi wajar kalau banyak yang tidak tau kalau dia adalah putra satu-satunya dari pemilik perusahaan star company. Termasuk wanita yang pernah mencampakkan nya.
"Niel, apa kau masih marah padaku?" tanya Mia. Dia mulai menikmati tarian dansa mereka saat ini.
"Aku tidak bisa mendiamkan mu terlalu lama. Kau selalu membuat ku rindu."
Mia merona.
"Berjanjilah untuk tidak mengatakan hal seperti itu lagi lain kali, tidak akan aku biarkan kau mencari laki-laki lain. Aku akan mengurungmu disini." Daniel meletakkan tangan Mia di hatinya.
Rona merah di pipi Mia semakin menyembul keluar. Kenapa suaminya itu mudah sekali berkata manis.
"Bolehkah aku bertanya?"
Daniel mengangguk, "Ya tanyalah."
"Berapa banyak gadis yang sudah berhasil kau rayu dengan kata manismu itu?"
"Tidak ada, hanya kamu yang pertama." Sebelumnya memang Daniel tidak dekat dengan wanita manapun setelah putus dengan pacar pertamanya.
"Sungguh?? Bagaimana dengan cinta pertamamu?"
"Itu hanya masa lalu, apapun yang kami lalui hanya jadi kenangan. Sementara kamu adalah masa depan ku, kita akan membuat cerita baru tentang kita."
to be continue...