Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
24. Bertemu lagi


°°°


Daniel segera bergegas keluar menuju unit gawat darurat, setelah tadi menerima panggilan dari salah satu perawat.


Dengan jubah putihnya Daniel berlari menyusuri lorong rumah sakit. Semua mata terpana dengan ketampanannya, apalagi saat jubahnya terkena terpaan angin saat ia berlari.


"Ya ampun, dokter Daniel tampan sekali. Semakin hari ketampanannya semakin bertambah."


"Hussstt... di lap dulu tuh air liurnya." Para perawat tertawa melihat tingkah temannya.


Sampai di depan pintu unit gawat darurat Daniel menghentikan langkahnya dan mematung di tempat. Saat matanya tak sengaja melihat sosok wanita yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini.


"Kenapa dia ada disini dan sepertinya sedang menangis. Apa mungkin dia adalah anggota keluarga dari salah satu pasien yang ada di dalam," pikir Daniel.


Tatapan mata Daniel tidak bisa ditebak saat ini, entah kenapa saat melihat wanita itu lagi rasanya berbeda. Apalagi saat melihat wanita itu mengeluarkan air mata.


"Dokter... silahkan masuk. Pasien sudah ada di dalam dan ini datanya." Dokter jaga yang baru saja keluar dari ruangan itu membuyarkan lamunan Daniel.


Daniel pun mengalihkan pandangannya dan menerima data pasien yang akan ia periksa.


Mia dan Felice pun menatap ke arah dua laki-laki berjas putih itu. Sejenak Mia tak berkedip saat melihat salah satu dari mereka. Dia sungguh belum siap kalau harus menghadapi laki-laki itu lagi setelah apa yang terjadi pada mereka.


"Sepertinya itu dokternya Kak, semoga dia bisa segera mengobati mamah," ujar Felice yang sama-sama sedang menatap Daniel.


Kenapa harus dia? tanya Mia dalam hatinya.


Ternyata dunia memang sesempit itu sampai mereka dipertemukan kembali dengan cara yang tidak pernah mereka sangka.


Setelah membaca data dan catatan medis pasien Daniel pun segera menuju ruangan itu tapi langkahnya terhenti sesaat dan menoleh pada Mia yang sedang duduk penuh kekhawatiran di bangku yang ada di depan ruangan itu.


Tatapan mereka saling bertemu lalu Daniel menyempatkan diri untuk tersenyum dan menganggukkan kepalanya pada Mia. Seolah dia ingin berkata kalau dia akan berusaha menyelamatkan mamahnya. Dari mana dia tau, tentu dari catatan yang tadi ia baca. Dimana nama Mia tertera di sana sebagai anggota keluarga.


Dia memang sudah mengetahui nama nona sekretaris itu karena beberapa kali Daddy dan mommy nya menyebutkan nama itu.


Entah kenapa juga refleks Mia ikut mengangguk seolah paham akan maksud Daniel barusan.


Hal itu tentu menjadi pertanyaan dalam benak Felice.


"Apa kau mengenalnya Kak?" tanya Felice yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara kakaknya dengan dokter itu.


"Haa... tidak, bagaimana aku mengenalnya," sanggah Mia.


"Oh aku kira kak Mia kenal. Kalian terlihat akrab, seperti teman lama tadi. Saling memberi tanda." Felice sedikit terkekeh, dia seperti mendapatkan sedikit hiburan.


"Aku hanya bersikap sopan saja tadi, dia duluan tersenyum padaku dan aku hanya membalasnya." Mia salah tingkah seperti tertangkap basah oleh adiknya sendiri.


Beberapa saat kemudian. Daniel dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu.


Mia dan Felice yang melihatnya pun segera bangun. Sebenarnya Mia ingin sekali menghampiri Daniel dan bertanya tapi dia ragu.


"Ayo Kak, kita tanyakan keadaan mamah pada Dokter itu," ajak Felice seraya menarik lengan kakaknya yang diam saja.


Mia tampak berpikir, mau menghampiri Daniel atau nanti saja. Sampai mereka tidak menyadari kalau sang dokter sedang berjalan ke arah mereka.


"Ayo Kak, apa yang kakak pikirkan. Kenapa diam saja?" heran Felice pada sang kakak.


Sontak kedua kakak beradik itu pun melihat ke arah Daniel dan jantung Mia tiba-tiba berdegup kencang saat melihat pria itu sudah ada di depannya.


"Iya Dok, kami putrinya. Bagaimana keadaan mamah kami Dok? Apa dia baik-baik saja? Apa mamah dalam bahaya?" Felice bertanya tanpa banyak hal pada Daniel sampai Mia mengguncang lengannya agar tidak terus bertanya.


Namun, Daniel justru tersenyum mendengar banyak pertanyaan itu.


"Kelihatannya kalian sangat menyayangi beliau."


Membuat Felice dan Mia melongo, saat mereka sedang khawatir dokter itu malah membuat lelucon. Tentu saja mereka sangat menyayangi mamahnya.


"Sekarang kalian bisa tenang karena nyonya Emma sudah melewati masa kritisnya. Terimakasih karena kalian membawanya datang tepat waktu." Sebagai dokter waktu adalah hal yang sangat berarti, sedikit saja mereka telat mungkin akan beda ceritanya.


Mereka akhirnya bisa bernafas lega mendengar ucapan dokter itu.


"Terimakasih dokter, terimakasih banyak," ujar Mia seraya membungkukkan tubuhnya.


"Itu sudah tugas saya sebagai dokter. Oh iya apa mamah kalian sering mengalami hal ini? Kalau iya seberapa sering?" tanya Daniel.


Mia dan Felice saling pandang karena mereka tidak tau akan hal itu. Sang mamah tidak pernah bercerita pada mereka.


"Kami tidak tau Dok, mamah tidak pernah cerita pada kami." Felice tertunduk, merasa malu karena tidak bisa menjawab pertanyaan dokter mengenai keadaan mamahnya sendiri.


Sepertinya Daniel juga mengerti, dia sudah banyak menghadapi banyak pasien. Sebagian dari mereka memang terkadang menyembunyikan penyakitnya dari keluarga dengan berbagai alasan. Akhirnya saat mereka di bawa ke rumah sakit, penyakit mereka sudah parah dan menyebar.


"Bisa kita bicara sebentar di ruangan saya?" tanya Daniel dan matanya hanya tertuju pada Mia.


Mereka pun diam karena bingung, terlebih Mia yang juga tidak ingin bersitatap dengan Daniel lebih lama lagi.


"Maksud saya, saya ingin membicarakan tentang pasien tapi tidak disini. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan juga," terang Daniel yang tidak ingin mereka salah paham. Walaupun di samping itu sebenarnya dia sangat ingin berbicara empat mata dengan sekretaris itu. Banyak hal yang ingin ia tanyakan dan tidak mungkin Daniel tanyakan di sana.


"Kakak yang pergi saja, biar aku yang menjaga mamah," ujar Felice. Sebenarnya itu pilihan yang tepat karena Mia adalah yang tertua dan lebih paham tentang mamahnya. Namun, rasanya begitu berat untuk Mia.


"Mari Nona," ujar Daniel mempersilahkan Mia untuk mengikutinya.


Ayo Mia, kau tidak perlu takut. Kau hanya akan membahas tentang keadaan mamah.


"Pergilah Kak, tidak usah khawatir. Aku tidak akan pergi kemana-mana dan akan terus di samping mamah," ujar Felice yang mengira kalau kakaknya khawatir dengan sang mamah.


Mia tersenyum tipis lalu dengan berat hati mengikuti Daniel yang sudah jalan lebih dulu.


Dengan jarak yang cukup jauh, mereka berdua berjalan ke ruangan Daniel. Sejujurnya Mia merasa sangat tidak nyaman dan berdebar-debar. Dia terus membetulkan syal yang ia pakai, tidak ingin pria itu melihat jejak yang ditinggalkan pada tubuh Mia.


Daniel juga sama, di depan dia cukup gugup. Takut kalau wanita itu akan menghajarnya bila hanya berdua tapi itu lebih baik, Daniel akan pasrah kalau wanita itu akan melampiaskan amarahnya. Dia tidak akan melawan ataupun menghindar.


to be continue...


°°°


Terimakasih yang sudah mampir.


Like komen dan bintang lima 😍


Gomawo.