
Esok harinya semenjak kejadian di restoran siang kemarin. Hubungan mereka pun semakin dekat, setelah mereka saling mengenal lebih jauh dan mulai nyaman satu sama lain. Sudah tidak terlalu kaku dan lebih santai. Saat bekerja pun terkadang mereka mengobrol dan saling melempar candaan untuk mengurangi kejenuhan dan bosan. Kehadiran Felice sudah membawa perubahan pada Calvin, pemuda itu kini lebih banyak tersenyum dan tak segan tertawa.
"Senior, ternyata kamu seru juga orangnya. Aku kira kamu itu seperti patung yang kaku dan dingin," komen Felice saat mereka sedang menikmati makan siang bersama.
"Memang betul katamu itu nona, tuan Calvin ini memang seperti patung es. Hanya saja sekarang patung es nya sudah sedikit mencair, hehehe..." Sam memang ada di sana, mereka sering makan siang bertiga di dalam ruangan karena memang mereka sedang sibuk menggarap proyek baru.
"Benarkah itu?" tanya Felice sambil tertawa.
"Diamlah kalau masih ingin makan." Calvin melirik tajam pada Sam yang dengan beraninya membicarakannya di depan Felice.
"Iya iya, aku juga sudah kenyang. Silahkan kalian habiskan berdua, aku harus segera menyelesaikan pekerjaan ku." Sam beranjak dari saja sambil membawa bekas makanannya, meninggalkan Felice dan Calvin yang duduk bersebelahan.
"Ehh tapi kau baru makan sedikit Sam," ujar Felice.
"Tidak apa, aku sedang ingin diet. Rasanya perutku sudah banyak lipatan lemaknya. Tidak seperti seseorang yang walaupun tidak pernah diet tapi badannya bagus," sindir Sam pada bosnya.
"Sudah biarkan saja dia pergi, lanjutkan saja makan mu," titah Calvin.
"Baiklah, tapi senior kau juga harus nambah ya temani aku menghabiskan ini semua.' Felice tersenyum sambil mengambilkan makanan ke piring Calvin. Mereka pun menikmati makan siang berdua tanpa gangguan darI si jail Sam.
Tapi siapa yang tau kalau di lantai bawah seorang wanita baru saja datang. Sosok keibuan yang sangat di kagumi para karyawan di perusahaan itu, dia lah wanita yang telah melahirkan seorang Calvin Squile si tampan yang pintar. Langkahnya begitu yakin dan tegas, melewati beberapa karyawan yang menyapanya. Dia pun membalasnya dengan anggukkan.
Kabar mengenai putranya yang sudah mempunyai seorang kekasih tentu saja sudah sampai di telinganya dan itulah mengapa dia datang ke perusahaan mendiang suaminya yang kini di pegang olih Calvin. Dia ingin melihat sendiri bagaimana rupa kekasih sang putra semata wayangnya.
ting
Sampailah sang ibu di lantai atas. Sam yang melihat ibu bos datang pun langsung menghampirinya.
"Selamat siang nyonya Reva," sapa Sam sambil membungkuk.
"Siang Sam, putraku ada kan? Aku mau bertemu dengannya."
"Ada nyonya, mari saya antarkan. Tadi tuan sedang makan siang bersama nona Felice."
"Waahh kebetulan sekali, aku juga ingin bertemu dengannya. Apa kau tau sejak kapan mereka pacaran?" tanya mom Reva antusias, bagaimana tidak antusias kalau akhirnya putranya punya kekasih juga setelah lama sendiri dan tidak pernah terlihat bersama wanita.
Sam garuk-garuk kepalanya yang memang beberapa hari ini tidak ia keramas karena kesibukan yang menggunung. Ehh tapi dia juga bingung mau jawab apa, lebih baik dia diam saja deh kalau seperti itu. Dari pada disalahkan lagi oleh bosnya.
"Emmm... itu nanti biar tuan Calvin saja yang menjelaskan pada anda nyonya."
"Kenapa?" tanya mom Reva sambil mengangkat kedua alisnya. "Dia gadis baik-baik kan? Kau sudah menyelidikinya kan Sam?" tanyanya bertubi-tubi pada sang asisten yang tidak bersalah itu.
"Sudah Nyonya, anda tenang saja. Latar belakang dan semuanya sudah saya selidiki." Ya memang seperti itu, sebelum Calvin menyuruh nya pun Sam sudah lebih dulu mencari tau. Tentu atas perintah mom Reva yang berpesan agar Sam menjaga putranya.
"Baiklah, aku percaya padamu..." Menepuk pundak Sam.
Sementara itu di dalam ruangan.
Felice dan Calvin masih belum selesai dengan makan siang mereka. Kalau sudah akrab memang aneh, ada saja hal yang dibicarakan. Padahal kemarin-kemarin mereka bisa diem seharian.
"Ya ampun kau seperti anak kecil saja, lihat sausnya belepotan di mulutmu," tegur Calvin saat melihat sisa makanan ada di ujung bibir Felice.
"Mana-mana...." Felice berusaha membersihkan nya sendiri tapi malah membuat nya semakin kemana-mana.
Calvin pun dengan sigap membantu gadis itu. "Diamlah, biar aku saja yang membersihkan."
Pria itu mulai menempelkan ibu jarinya pada bibir ranum milik Felice yang sejak awal bertemu sudah menarik perhatiannya. Terasa lembut dan hangat saat ia menyentuh nya.
Wajah mereka benar-benar sangat dekat saat ini, sebenarnya tidak perlu sedekat itu kan. Apalagi ibu jari Calvin yang belum juga mau lepas dari bibir itu. Fokus pria itu hanya tertuju pada benda lembut itu dan Felice pun seolah terbuai dengan gerakan ibu jari Calvin yang kini bukan lagi membersihkan sisa makanan tapi sudah berani menyentuh bibirnya.
Ya ampun kepada aku berdebar seperti ini, apa sekarang senior akan menciumku. Batin Felice gelisah.
Ceklek.