Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
57. Seminggu Lagi


°°°


Daniel merasa senang malam ini karena ada yang membelanya. Bukan hanya mommy nya sekarang tapi ada calon ibu mertuanya juga. Akhirnya dia merasa menang juga dihadapan Daddy nya.


"Apa kau senang sekarang karena ada yang membelamu," sindir Alex pada putranya yang terlihat begitu senang karena dibela oleh calon mertuanya.


"Tentu saja Dad, sekarang aku punya dua ibu yang siap pasang badan untuk ku," bangga Daniel. Sebenarnya dia tidak menyangka kalau mamah Emma akan bersedia membelanya. Setidaknya itu bisa diartikan jika saat ini wanita itu telah mempercayakan putrinya pada Daniel. Ia harap memang begitu.


Semua orang pun tertawa bersama, suasana di ruangan itu sudah tak ada lagi kegugupan seperti awal nya tadi. Mia dan Felice pun berbaur dengan baik. Gadis cerewet itu berhasil membuat semua orang terhibur.


Mia sangat senang melihatnya, karena bukan hanya dirinya. Mamah dan adiknya pun diterima dengan baik oleh keluarga Daniel.


Tidak bisa dipungkiri kalau awalnya dia juga berpikir hal yang sama seperti Catty dan Felice. Yang mengira orang tua Daniel pasti akan mengusir mereka dengan memberikan sejumlah uang atau bisa juga dengan ancaman.


Tapi ternyata semua itu hanya ketakutan yang sama sekali tidak berdasar.


"Jadi bagaimana, apa kalian setuju kalau pernikahan kalian digelar satu Minggu lagi?" tanya Alex pada putra dan calon menantu nya.


Semua orang pun memusatkan perhatian pada mereka berdua. Daniel melihat Mia yang diam.


Sebagai laki-laki sepertinya harus ia yang memutuskan dan ia pikir semakin cepat pun semakin baik.


"Aku setuju Dad," jawab Daniel tanpa ragu.


"Bagaimana dengan mu nak?" tanya Alex pada Mia. Termasuk semua orang yang kini menatap dan menunggu jawaban.


Mia memainkan jari-jarinya dan menunduk, dia merasa gugup dan ragu untuk menjawab.


"Apa ada yang kau pikirkan nak?" tanya Alex yang paham akan keraguan Mia.


Mia mencoba mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk bersuara. Padahal saat presentasi di depan para investor atau rekan bisnis yang bekerja sama dengan perusahaan star company saja dia tidak pernah segugup ini.


"Maaf Dad, tapi aku ingin mamah bisa hadir saat aku menikah nanti. Kalau seminggu lagi, aku khawatir mamah belum cukup pulih untuk menemani ku." Mia menunduk lagi, dia tak enak pada semua orang yang terlihat kecewa padanya.


"Jadi seperti itu, lihatlah nyonya. Anda sangat beruntung mempunyai putri yang begitu menyayangi anda. Dia tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri, selalu memikirkan keluarga. Tidak seperti putraku yang satu itu." Lagi-lagi Daddy Alex melemparkan sindiran pada putranya.


"Apa kalau dokter mengatakan mamah bisa hadir seminggu lagi, kau mau menikah satu Minggu lagi nak?" kali ini Emma yang bertanya, dia menatap dalam putrinya. Berharap sang putri mengangguk.


Mia tentu paham dengan arti tatapan mata mamahnya tapi dia tidak ingin mengambil resiko. Entah apa yang akan ia lakukan saat ini.


"Kak, jawab saja iya," bisik Felice yang duduk didekat kakaknya.


"Apa kau tidak memikirkan mamah, aku tidak mau mamah kelelahan dan membuatnya drop lagi," bisik Mia menjawab ucapan adiknya.


"Mamah hanya ingin melihat hari bahagia itu kak, bukankah kau sudah berjanji waktu itu."


Mia tampak menimbang sebentar sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


Semua ini ia lakukan demi mamahnya. Demi kebahagiaan dan senyum mamahnya.


Mamah Emma pun mengedipkan matanya untuk memberikan isyarat pada Daniel.


"Ayo sana periksa nak, bukankah kau dokternya," perintah Alex pada putranya.


Daniel yang kebetulan berdiri didekat mamah Emma pun mulai memeriksa wanita itu. Meski ia tau kalau mamah Emma memintanya berbohong tapi dia tidak ingin melakukan itu dan membahayakan kesehatannya demi kepentingan pribadi. Dia memeriksa dengan dengan teliti, termasuk meminta suster mengecek hasil darah, cek yang lainnya.


Untunglah tidak ada komplikasi paska operasi, mamah Emma benar-benar begitu bahagia sampai penyakitnya pun perlahan tersugesti dari dalam dirinya sendiri.


"Sebelum seminggu sudah bisa pulang, tapi sebelumnya harus melakukan beberapa pemeriksaan lagi," ujar Daniel pada semua orang.


"Benarkah? Secepat itu mamah bisa pulang kakak ipar?" Felice pun terlalu bahagia mendengar nya.


"Iya tapi harus melakukan pemeriksaan rutin juga seminggu dua kali minimal."


"Tidak perlu khawatir soal itu karena Daddy akan mencarikan dokter pribadi yang terbalik untuk membantu merawat mamah kalian di rumah." Dad Alex memandang istrinya untuk meminta ijin, dan sang istri pun setuju dengan rencana itu.


"Nah sekarang tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi Kak," ujar Felice pada sang kakak.


"Benar nak, Daddy juga akan menyiapkan perawat yang akan menjaga mamah kalian 24 jam."


"Itu tidak perlu Tuan, itu terlalu merepotkan," tolak Emma yang tidak enak menerima terlalu banyak kebaikan dari keluarga Daniel.


"Tidak apa-apa Nyonya, ini demi kesembuhan anda juga. Nanti kalau anda sudah sembuh, anda bisa mengusir perawat itu untuk pergi."


Semua orang pun tertawa mendengarnya.


Ya mungkin memang inilah takdirnya Mia. Kalau sudah jodoh pasti akan dimudahkan jalannya. Mia harap begitu, ia harap Daniel adalah sosok suami yang baik.


Setelah memutuskan tanggal pernikahan, orang tua Daniel pun pamit pulang. Diantarkan Daniel dan Mia hingga ke depan. Banyak mata yang memperhatikan mereka tapi semuanya kini terdiam saat melihat sosok pengusaha ternama yang merupakan anak pemilik rumah sakit itu ada di sana, tepatnya bersama Daniel dan Mia.


Mereka baru tau kalau Daniel adalah putra dari pemilik perusahaan star company. Tapi tenang karena mereka tidak akan berani menyebarkan rumor atau karir mereka berakhir hari itu juga.


Tidak ada lagi obrolan grup yang menyinggung Mia dan Daniel. Semuanya kembali seperti semula, mereka hanya menyimpannya sendiri. Mungkin mereka akan berbicara di belakang tapi itupun harus sangat berhati-hati. Jangan sampai ada yang mendengar kalau ada maka tamatlah mereka.


"Terimakasih, karna mau menikah dalam waktu yang tidak lama lagi." Mereka sedang duduk berdua saat ini. Mungkin memang sudah sewajarnya mereka saling mengenal lebih dulu.


"Aku hanya menepati janjiku, saat mamah sembuh dan kau berhasil mengoperasi nya." Mia yang kebetulan tak memakai mantelnya pun sedikit kedinginan karena mereka ada di taman rumah sakit.


Daniel yang melihat hal itu segera memberikan jas nya agar Mia tak kedinginan lagi.


"Apa masih dingin? Atau kita masuk saja," ajak Daniel.


"Tidak apa-apa, ini sudah cukup. Terimakasih..." Mia tersenyum pada Daniel, senyum yang begitu imut dengan mata yang ikut menyipit dan lesung di salah satu pipi Mia.


Cantik... lebih cantik bila tersenyum.