
°°°
Setelah seharian berjalan-jalan di luar. Daniel dan Mia memutuskan untuk kembali ke hotel tempat mereka menginap. Mereka tidak membeli apapun untuk oleh-oleh karena memang mereka masih ada di dalam kota mereka tinggal. Sebenarnya dad Alex sudah menyiapkan tiket honeymoon ke luar negeri tapi Mia menolak, ada banyak alasan yang membuat nya belum bisa pergi jauh-jauh.
Di jalan.
"Apa kau lelah?" tanya Daniel. Sejak tadi istrinya sungguh banyak mengeksplor banyak tempat seperti tidak ada capeknya.
"Lumayan, tapi senang." Tersenyum sambil menggigit buah berlapis lelehan gula di bagian luarnya.
Daniel yang melihat itu jadi ngilu sendiri, apalagi bunyinya yang kreyes-kreyes. Bisa dibayangkan berapa banyak kandungan glukosa yang akan menumpuk di gigi dan bisa membuat gigi sakit.
"Apa kau mau?" Mia menyodorkan tusukan buah itu pada suaminya yang sejak tadi terus memperhatikan nya.
"Tidak, untukmu saja."
"Coba sedikit, ini enak," bujuk Mia.
"Tidak-tidak, itu terlalu manis."
"Ahh iya kau itu kan dokter, jadi harus menjaga makanan. Ya sudah aku habiskan sendiri saja." Mia menarik kembali tangannya dan kembali memakannya. Tidak masalah kalau suaminya tidak mau, yang penting dia tidak melarangnya saja dan tidak menyuruhnya untuk mengikuti pola makannya.
Daniel mengusap lembut pipi istrinya yang sedang sibuk mengunyah berbagai jajanan yang tadi ia beli di pinggir jalan. Lalu kenapa dia tidak melarangnya, bukannya itu tidak sehat. Mengubah kebiasaan seseorang tidak bisa langsung begitu saja, butuh waktu, proses dan pengertian. Nanti juga Daniel akan sedikit demi sedikit mengubah kebiasaan hidup istrinya menjadi lebih sehat .
"Apa kau mau makan malam dulu sebelum kembali? Aku tau restoran yang enak di sekitar sini?"
"Oh ya... restoran apa?" Mia tertarik.
"Kau mau?" tanya Daniel lagi dan Mia mengangguk.
Daniel pun membelokan mobilnya ke jalanan kecil yang mungkin hanya muat untuk satu mobil. Untunglah saat itu sepi kalau tidak pasti salah satu mobil harus mengalah untuk menepi lebih dulu agar yang lain bisa lewat.
Mia melihat keluar jendela kaca, benarkah ada restoran di tempat seperti ini. Dia yang tinggal di sekitar sini saja tidak tau.
Daniel tidak tidak bohong, dia membelokkan mobilnya ke tempat parkir yang cukup luas. Dengan logo mangkuk mie di atasnya.
"Ayo, kau harus mencobanya."
"Mie pangsit, bukannya ini juga banyak di pinggir jalan."
"Iya tapi rasanya beda, disini juga ada mie panjang umur. Ayo, nanti kau akan tau sendiri bagaimana rasanya," ajak Daniel meyakinkan Mia.
"Baiklah."
Benar juga, ternyata di dalam cukup ramai pengunjung. Hampir tidak ada tempat duduk yang tersisa. Mereka pun berusaha mencari tempat duduk yang kosong. Sampai sang pemilik kedai menyambangi mereka.
"Tuan Daniel," sapa laki-laki tua itu.
"Tuan Lin." Mereka saling memeluk seperti kawan lama. "Apa kabar anda tuan?" tanya Daniel.
"Kau lihat sendiri, semua ini berkat kakek anda. Kalau tidak mana mungkin saya masih bisa berjualan seperti ini." Yang disapa tuan Lin itu tampak gembira.
"Karena itulah kami kemari Tuan, apa rasa mie buatan anda masih sama enaknya seperti dulu."
Mereka pun tertawa bersama.
"Oh ya mari-mari silahkan duduk. Dan apakah ini Nyonya muda?" tebaknya.
"Anda betul tuan, dia istri ku."
"Hebat-hebat, cantik sekali. Sangat cocok dengan anda," pujinya. "Silahkan duduk nyonya..."
"Panggil Mia saja tuan," lanjut Mia.
"Mana boleh, kalau begitu nona Mia saja."
"Kalian tunggu sebentar , saya akan buatkan yang spesial untuk kalian." Pemilik kedai itu langsung bergegas ke arah dapur.
"Apa kalian saling kenal Niel?" tanya Mia.
"Dia dulu pasien kakek, sering bolak-balik ke rumah sakit bertemu dengan kakek dan karena aku sering ikut kakek jadi aku mengenalnya juga."
Oo... Mia cukup paham sampai disitu. Kebaikan seorang dokter yang berhasil menyelamatkan nyawa pasien nya pasti akan selalu dikenang sampai kapanpun meski orangnya telah tiada. Mia jadi bangga punya suami seorang dokter.
Beberapa saat kemudian. Mie pun datang. Karena makin banyaknya pelanggan, pria tadi jadi tak sempat mengobrol lagi dengan mereka.
Mia merasakan mie itu pelan-pelan, dari tekstur dan rasa memang berbeda. Lebih kenyal dan tidak mudah lembek. Lalu kuahnya gurih, ada sedikit rempah juga rasanya pas. Enak.
"Bagaimana? Apa cocok di lidah mu?"
Mia mengangguk karena mulutnya sibuk mengunyah. Daniel pun senang melihat nya, karena mie disini buatan sendiri adonan mie nya masih tradisional, bahannya juga sehat ada campuran sayuran sebagai pewarna dan campuran dalam penyajiannya. Tanpa pengawet juga karena setiap hari membuat adonan yang baru. Karena Daniel pernah kabur ke kedai itu juga saat kecil dan pria tadi dengan senang hati menampung Daniel kecil.
Kenyang makan mie, mereka kembali ke hotel. Kali ini tidak mampir ke mana-mana lagi karena memang sudah kelelahan.
Sampai di hotel, Mia langsung membersihkan diri. Rasanya tubuhnya sudah begitu lengket. Daniel pun tidak menggangu kegiatan mandinya kali ini. Dia langsung mendaratkan tubuhnya di sofa, lelah melakukan operasi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mengikuti wanita berkeliling. Sampai dengkuran halus mulai terdengar, pertanda laki-laki itu benar-benar lelah.
Mia yang baru selesai mandi cukup terkejut melihat suaminya tertidur di sofa. Masih dengan pakaian tadi. Sepatu juga masih ia pakai.
"Apa dia kelelahan?" gumamnya.
Mia pun mendekati suaminya, mencoba membangunkan nya agar tidur di ranjang. "Niel, bangun Niel. Pindah yuk, jangan tidur disini nanti tubuhmu bisa sakit." Tapi nihil, si empunya sama sekali tidak merespon. Mimpinya sudah terlalu dalam.
Mia pun pasrah, dia memilih untuk melepaskan sepatu yang suaminya pakai agar tidurnya lebih nyaman. Lalu sedikit membenarkan posisinya, mengambilkan bantal dan juga selimut. Setelah memastikan suaminya tidak akan kedinginan barulah Mia naik ke atas ranjang untuk merebahkan tubuhnya.
Dipandanginya wajah tampan sang suami yang menghadap ke arahnya. Ada rasa tidak tega membiarkan pria itu tidur sendiri disana, sementara dirinya enak-enakan di kasur. Mia membalikkan tubuhnya mencoba memejamkan matanya tapi tetap tidak bisa tidur. Apa ini karena tidak ada pria itu disampingnya. Apa kehadiran pria itu sudah mulai ia butuhkan.
Tidak Mia, kau tidak boleh terlalu bergantung pada orang lain.
Masih mencoba melawan perasaannya, Mia berusaha terus memejamkan matanya. Berguling ke kiri-kanan, tengkurap dan menyembunyikan wajahnya dalam bantal sampai hampir sesak nafas.
Aarrggghhh... kau itu kenapa si, bukannya tadi sudah mengantuk tapi kenapa tidak mau tidur juga. Mia mengacak rambut frustasi.
to be continue...
°°°