
°°°
Paginya, dimana matahari mulai menunjukkan sinarnya yang terang. Setelah tidur seharian hingga malam, tubuh Daniel terasa lebih segar tidak lagi jet lag seperti kemarin.
Laki-laki itu bangun dan segera menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Dia akan mandi nanti sebelum berangkat ke rumah sakit tempat bekerjanya yang baru.
Daniel melihat wajahnya yang tampan di depan cermin, baru bangun tidur dan belum mandi saja dia sudah mempesona seperti itu. Setelah itu dia menyambar handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya.
Mau tidak mau dia harus turun ke bawah untuk sarapan, walaupun sebenarnya malas untuk bertemu ayahnya yang pasti banyak yang akan di bahas oleh pria tua itu.
Daniel menuruni tangga dan tidak sengaja melihat wanita yang kemarin menjemputnya. Wanita itu sedang berdiri di depan ayahnya yang sedang menandatangani sesuatu.
"Pagi-pagi sekali sudah ada di sini," gumam Daniel.
"Sayang, kau sudah bangun. Kemarilah, kita sarapan bersama," ujar mommy Tania yang sangat gembira melihat putranya, setelah sekian lama akhirnya bisa makan bersama lengkap dengan putra dan suaminya.
"Pagi Mom...," sapa Daniel, dia mencium pipi mommy nya.
"Duduklah, sebentar kita tunggu Daddy mu dulu." Mommy Tania sedang menata makanan di meja.
"Dia yang kemarin menjemput ku Mom, apa benar dia sekretaris nya Daddy?" tanya Daniel melihat ke arah wanita yang dimaksud yaitu Mia yang datang pagi-pagi sekali karena harus meminta tanda tangan sang CEO.
"Iya, nama nya Mia. Dia kepercayaan Daddy, kerjanya sangat bagus dan bisa dipercaya." Mommy Tania bahkan memuji Mia. Ya karena beliau sering juga berinteraksi dengan Mia.
"Kenapa selera Daddy begitu Mom, apa tidak ada yang lebih cantik untuk dijadikan sekretaris," ujar Daniel.
"Kamu itu tidak boleh menilai orang dari luarnya saja. Buat apa cantik kalau tidak bisa kerja, yang ada nanti malah Daddy kamu betah di kantor," tutur mommy Tania, memang benar dulu suaminya pernah mempunyai sekretaris yang cantik dan penampilannya juga modis tapi suatu ketika dia ketahuan oleh mom Tania sedang menggoda suaminya. Langsung hari itu juga wanita itu di pecat dari perusahaan.
"Mommy cemburu? Tenang saja Mom, kalau Daddy macam-macam aku akan memberinya pelajaran." Daniel melirik daddy-nya yang masih berbicara dengan sekretaris nya.
"Dia itu Daddy mu, Niel. Kenapa kamu selalu bersikap seperti itu pada Daddy?" ujar mom Tania seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak suka dengannya Mom, dia terlalu memaksa."
,,,
Di ruang tamu.
Mia masih setia menunggu tuannya yang sedang memeriksa berkas yang harus beliau tanda tangani.
"Ini... sudah aku tandatangani." Tuan Alex menyerahkan berkasnya pada Mia.
"Terimakasih Tuan, kalau begitu saya akan berangkat ke kantor sekarang," ujar Mia setelah menerima berkas-berkasnya.
"Kamu ikut sarapan dulu, pasti kamu belum sarapan kan. Sepagi ini sudah ada di sini," ajak tuan Alex.
"Terimakasih atas tawaran anda Tuan, tapi kebetulan saya sudah sarapan di rumah tadi. Jadi saya langsung ke kantor saja." Mana mungkin Mia mau ikut sarapan bersama keluarga atasannya, yang ada dia akan merasa sangat canggung.
"Ya sudah aku tidak akan memaksa, kalau begitu kau hati-hati," ujar tuan Alex.
"Baik Tuan, saya permisi dulu." Mia pun segera berbalik dan meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dia teringat tadi matanya sempat bersitatap dengan putra dari atasannya, Mia akui pria itu memang tampan. Bahkan hanya menggunakan kaos dan celana pendek saja sudah sempurna.
Mia kenapa kamu jadi memikirkan pria itu. Mia geleng-geleng kepala menyadarkan pikirannya.
,,,
Setelah kepergian sang assisten, tuan Alex bergabung ke meja makan dimana sang istri dan sang putra sudah menunggu.
"Aku sudah mengajaknya tapi dia tidak mau," ujar tuan Alex.
Sementara Daniel hanya diam saja tidak menyapa ayahnya padahal dari kemarin dia bertemu dengan Daddy nya.
"Ya sudah ayo kita sarapan," ujar Mom Tania.
Mom Tania mengambilkan suaminya dan putranya makanan bergantian. Beliau tau kalau sang suami sebenarnya ingin sekali berbicara dengan putranya tapi mengingat bagaimana mereka setiap kali berbicara mom Tania agak sedikit takut. Takut akhirnya sang putra pergi lagi ke luar negeri.
Semalam pun mom Tania sudah mewanti-wanti suaminya agar tidak terlalu keras pada putranya yang baru pulang.
"Sayang, kau tidak ingin menyapa Daddy mu," ujar mom Tania pada putranya yang enggan menoleh pada daddy nya.
"Pagi Dad," sapa Daniel dengan nada yang malas-malasan.
"Bagaimana kabarmu di luar negeri? Daddy dengar kamu sudah berhasil menjadi dokter ahli disana." Daddy Alex menyanjung putranya.
"Begitulah Dad, kerja kerasku tidak sia-sia dan sekarang Daddy malah menyuruhku pulang."
"Sudah cukup bersenang-senang dengan kemauan mu, sekarang waktunya Daddy minta kamu untuk melakukan kewajiban mu. Meneruskan perusahaan, hanya kamu harapkan Daddy satu-satunya." Tuan Alex mulai berbicara serius dan hal itu membuat Mom Tania was-was.
"Dad...," ujar mom Tania mengingatkan suaminya agar tidak terlalu memaksa.
"Sampai kapanpun aku tidak mau Dad, bukankah aku sudah bilang aku tidak mau jadi CEO dan aku juga tidak mengerti apapun tentang perusahaan. Apa salahnya jadi dokter Dad, kakek dulu juga dokter." Daniel tetap pada pendiriannya.
"Daddy mengerti keinginan mu, tapi Daddy tidak punya pilihan lain. Coba kamu pikirkan lagi, setidaknya dengan meneruskan perusahaan bisa menjamin kehidupan kamu dan anak-anak mu kelak," ujar Daddy.
Mom Tania kembali mengusap punggung tangan suaminya agar lebih bersabar menghadapi putranya.
"Mau sampai kapanpun aku tidak akan berubah pikiran Dad," ujar Daniel seraya meletakkan sendok dan garpunya. Selera makannya sudah hilang saat sang Daddy membahas masalah perusahaan lagi.
"Pikirkanlah boy, kalau kau memang tetap tidak mau maka berikan kami cucu. Biar anakmu yang akan meneruskan perusahaan Daddy nantinya." Dad Alex bangun dari duduknya dan menepuk pundak putranya, setelah berkata seperti itu dia pergi lebih dulu tanpa menyentuh sedikitpun sarapannya.
"Dad, kau belum sarapan..." teriak mom Tania.
"Aku akan sarapan di kantor, tolong kamu bujuk putramu." Dad Alex pergi meninggalkan istri dan anaknya yang mematung.
Tidak biasanya Taun Alex begini, biasanya Daniel lah yang pergi setelah berdebat. Biasanya pria itu akan terus memaksa sampai Daniel muak tapi tadi tuan Alex sama sekali tidak meninggikan suaranya dan terlihat pasrah pada keputusan yang akan diambil putranya.
"Maafkan Daddy mu, Niel. Ayo lanjutkan sarapan mu," ujar mom Tania.
"Iya Mom."
to be continue...
°°°
Daddy minta cucu tapi Daniel kan belum punya pacar, bagaimana mau menikah dan memberikan cucu 🤭🤭
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo ❤️❤️
Sehat selalu pembacaku tersayang