
"Sayang kau sedang melamun apa?" tanya Lucy yang mendapati suamuninya sedang melamun di depan rumah dinas yang di sediakan oleh pemerintah sekitar.
Daren tersadar dari lamunan panjangnya selama menikah dengan sang istri yang kini tengah hamil lima bulan. "Tidak apa-apa sayang, sini duduk." Daren menepun pahanya agar sang istri duduk di sana.
"Di situ?" tanya Lucy. "Tidak tidak, bagaimana kalau ada yang melihat?" Lucy malu, bagaimana suaminya itu tidak tahu malu sekali sedangkan di sana ada banyak warga sekitar yang berlalu lalang.
"Iya sini duduklah, tidak akan ada yang lihat. Kalaupun ada yang lihat juga tidak mungkin mereka berkomentar," ujar Daren sembari menarik tangan istrinya. Wanita itu akhirnya mengalah dan menuruti kemauan suaminya dengan wajah yang sudah sangat merah.
"Kalau sedang malu-malu seperti ini jadi makin menggemaskan, cup." Daren tak segan mendaratkan ciuman di pipi sang istri yang sedikit cuby.
"Sayang... aku malu kalau ada yang lihat."
"Tidak apa, mereka juga tidak akan berani menegur kita." Selama di tempat itu sikap Daren memang berubah drastis, tidak ada Daren yang manja dan hanya mengandalkan ayahnya lagi. Yang ada kini Daren menjadi dokter yang begitu dihormati dan disegani oleh warga sekitar. Dia mampu mendapatkan kepercayaan mereka, para penduduk yang awalnya lebih percaya pada ilmu non medis, berkat Daren kini para warga lebih suka berobat di tempatnya. Angka kematian yang ada di tempat itu pun sudah sangat menurun berkat penanganan yang tepat.
"Apa kau bahagia tinggal disini? Maaf ya karena aku belum bisa mengajak kalian bersenang-senang dan berjalan-jalan. Aku malah mengajak kalian bersusah-susah seperti ini terus." Daren mengusap perut istrinya yang sudah membuncit.
"Kenapa kau berbicara seperti itu, bisa terus berada di sampingmu adalah kebahagiaan terbersar kami. Apa kamu tidak ingat bagaimana histerisnya Zoro saat menangisi mu karena tidak pulang semalam saat ada warga desa sebelah yang butuh perawatan."
"Jadi tidak ada yang namanya susah ataupun sedih, aku dan Zoro cukup bahagia dengan hidup kita sekarang," ujar Lucy lagi.
"Terimakasih sayang, kalau tidak ada dirimu aku tidak tau bagaimana hancurnya aku karena masih bermain-main tak jelas."
"Apa ada masalah? kenapa tiba-tiba berbicara seperti itu, " tanya Lucy.
"Tidak ada, hanya saja aku merasa kita sudah sangat lama disini tapi ternyata baru setahun."
Daren mengangkat bahunya, "Entahlah, aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Sudah selama itu tapi kenapa pria tua itu masih belum berubah." Terdengar helaan nafas keluar dari mulut Daren.
Lucy juga sebenarnya sudah menyerah dan pasrah, dia sudah tidak berharap lagi kalau ayah mertuanya mau menerimanya. Dia juga kadang kasihan pada snag suami yang sepertinya merindukan ayahnya tapi karena dirinya mereka jadi berselisih seperti itu. Lucy sudah beberapa kali menyuruh Daren untuk kembali pada ayah nya, wanita itu tak masalah kalau pada akhirnya harus menjada lagi karena dia tak ngin merusak hubungan ayh adan anak itu. Tapi Daren selalu salah tidak mau, dia bilang kehidupannya saat ini Lucy dan Zoro, kalau mereka berbisah bagaimana ia bisa hidup.
"Aku ada ide, bagaimana kalau kau beritahu ayah kalau dia akan menjadi seorang kakek. Siapa tau jika mendengar hal itu dia akan senang," ujar Lucy, sungguh bukarena dia ingin aah mertuanya menerima nya tapi dia ingin hubungan suaminya dan sang ayah membaik dan anak yang ada di perutnya juga bisa mendapatkan pengakuan dari kakeknya. Tapi kalaupun tidak juga tidak masalah karena ia akan menyayangi dan membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu tapi aku ragu, hati nuraninya entah sudah tertutup oleh apa." Daren sudah ragu.
"Kalau belum dicoba bagaimana kita bisa tau sayang, kau bisa pulang dan mengambil hari liburmu untuk menemui ayah dan bicara dari hati ke hati dengannya."
"Tidak, aku tidak akan meningglkan kau dan Zoro sendirian disini. Kita akan bersama dimana pun, kalau aku pergi kau juga harus ikut. Hari minggu besok kita akan pulang bersama, kau siapkan apa saja yang akan kita bawa." Mereka pun sepakat akan pulang hari minggu.
Sampai hari itu tiba. Mereka bertiga sudah bersiap kembali ke kota mereka tinggal menggunakan mobil dinas. Butuh waktu sekitar delapan jam untuk sampai menggunakan perjalanan darat. Kalau saja Daren masih seperti dulu bisa saja menggunakan pesawat. Dalam perjalanan yang panjang itu pun Daren beberapa kali berhenti, istrinya yang sedang hamil sebenarnya tidak baik kalau terlalu lama naik kendaraan tapi dia mau pergi sendiri juga tidak tega.
Sampailah mereka di halaman rumah sakit. Mereka tidak tau paman Sam ada dimana jadi langsung ke rumah sakit sekaligus mengecek kehamilan istrinya setelah perjalanan jauh.
"Ayo sayang, ayo Zoro. KIta akan menemui kakek." Zoro, bocah itu terlihat tidak antusias bahkan awlnya pun dia menolak saat di ajak pulang. Menurutnya kakek Sam selalu menatapnya tidak suka dan anak kecil sepertinya tentu merasakan hal itu.
Sampailah mereka di depan ruangan direktur rumah saki star medical center. Daren sudah bertanya pada Daniel katanya sang ayah ada di ruangannya. Dia menggenggam tangan istrinya, dan Zoro ada digendongannya.
Tok tok tok
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam, Daren pun membuka pintu.