
°°°
Bisa tidak kita memutar waktu dan mengulang semuanya. Itulah yang ada di benak Jasmine saat ini. Dia hanya bisa menyesali perbuatannya, bagaimana bisa dia melepaskan sesuatu yang sang berharga yang sudah ada di genggaman nya. Andai dulu dia bisa bersabar sedikit mungkin saat ini yang ada di samping Daniel adalah dirinya.
Dan saat ini dia sudah tidak bisa mengambil kembali sesuatu yang sudah ia buang. Daniel juga sudah punya pasangan dan dia sendiri sudah bersama dengan laki-laki yang kini menjadi suami nya.
Pada dasarnya manusia memang terlalu serakah, selalu menginginkan yang lebih dari yang kita miliki saat ini. Lupa bersyukur dan akhirnya tidak dapat apa-apa.
Padahal hidup Jasmine saat ini sudah sangat bahagia dengan suami seperti Vino yang bersedia memberikan apapun yang istrinya minta. Vino juga menerima apa adanya keadaan Jasmine yang sampai saat ini belum memberinya keturunan. Nah saat bertemu Daniel di rumah sakit waktu itu, mereka sedang mencoba berkonsultasi pada dokter kandungan.
"Sayang, ayo kita temui Daniel. Sekalian mengucapkan selamat dan berkenalan dengan tuan Starles." Vino, kurangnya laki-laki itu adalah dia kadang kurang peka dengan perasaan istrinya. Terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai istrinya kesepian.
Sampai sekarang Vino tidak tau kenapa dulu Jasmine lebih memilihnya dibandingkan dengan Daniel. Hanya Jasmine dan Daniel sendiri yang tau. Yang Vino tau sang istri memilihnya ya karena dia lebih mencintai nya.
Sebenarnya Jasmine malu kalau harus bertemu dengan Daniel setelah mengetahui kenyataan siapa sebenarnya pria itu. Namun, menghindar hanya akan membuat Vino curiga. Mungkinkah Daniel menertawakannya karena sudah meninggalkannya karena harta? Padahal Daniel mempunyai semuanya yang pasti lebih dari cukup. Bahkan tidak main-main, dia putra dari pengusaha nomor satu di negara S. Nomor satu? Bayangkan berapa banyak harta kekayaannya.
Tiba-tiba saja Jasmine jadi menatap tidak suka pada wanita yang berdiri di samping Daniel. Kenapa bukan dirinya saja. Kenapa???
"Sayang, itu Daniel dan istrinya. Ayo kita kesana."
Vino terlihat begitu semangat bertemu dengan kawan lamanya.
Apa kau tidak malu suamiku, lebih baik kita pulang saja. Ingin Jasmine berkata seperti itu tapi hanya senyuman terpaksa yang ia tunjukkan.
Mereka semakin dekat dengan Daniel dan istrinya yang juga sedang menerima ucapan selamat dari beberapa orang. Vino menunggu beberapa saat sampai orang-orang itu pergi.
"Niel...," sapa Vino, pas kebetulan Daniel sedang menjahili istrinya. Tentu saja hal itu membuat Jasmine muak. Perhatian yang dulu hanya untuk nya kini dirasakan wanita lain.
Daniel dan Mia menoleh pada seseorang yang memanggil namanya.
"Vino... kalian disini?" Daniel cukup terkejut awalnya tapi kemudian dia menyadari kalau Vino sekarang adalah pengusaha juga, jadi wajar kalau ada di acara seperti ini.
"Kami juga tidak menyangka bertemu dengan mu di sini. Terlebih lagi dengan keluarga mu yang baru kami tau. Ternyata kamu berasal dari negara S juga dan putra dari taun Alex Starles. Kenapa kau menutupinya dari kami semua?"
Ya kenapa Niel, kalau kau bilang padaku dulu pasti aku tidak akan meninggalkan mu. Sambung Jasmine dalam hatinya.
Daniel menarik sedikit sudut bibirnya, lalu melihat wajah wanita yang dulu meninggalkannya begitu saja. Kini terlihat jelas kalau dia menyesali semuanya setelah tau siapa dirinya.
"Aku hanya ingin berhasil dengan usahaku sendiri tanpa mengandalkan orangtuaku." Dan dengan begitu aku juga bisa tau siapa yang benar-benar tulus dan tidak.
"Hebat-hebat... dan kau berhasil menjadi dokter bedah handal sekarang. Oh iya, selamat atas pernikahan kalian," ujar Vino yang terus menyanjung Daniel.
"Terimakasih Tuan," jawab Mia. Dia tersenyum sopan.
"Tidak perlu memanggil ku tuan nona, perkenalkan saya Vino teman lama suami kamu. Dulu kami satu kampus di L.A." Vino memperkenalkan diri mengulurkan tangannya.
Mia pun membalasnya, "Saya Mia, tuan Vino."
Mia beralih pada wanita di samping laki-laki yang bernama Vino. Lalu tersenyum.
"Hai... aku Jasmine, salam kenal nona Mia." Jasmine berusaha terlihat tenang dan anggun. Bersikap ramah pada Mia, menutupi perasaannya saat ini.
"Salam kenal juga nona Jasmine, senang bisa berkenalan dengan kalian." Mia merasakan hal yang lain pada wanita itu. Meski wanita yang bernama Jasmine itu tersenyum padanya tapi sorot matanya menatap tidak suka pada Mia. Entah itu perasaannya saja atau menang seperti itu. Sama seperti tatapan para gadis yang menyukai suaminya.
"Selamat atas pernikahan kalian, Niel. Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi di negara ini." Jasmine mengulurkan tangannya pada Daniel.
"Terimakasih," jawab Daniel dan menjabat tangan Jasmine singkat.
"Apa kau akan meneruskan perusahaan milik ayahmu Niel?" tanya Vino memecah keheningan.
"Tidak, aku lebih tertarik pada profesi ku saat ini. Perusahaan itu urusan Daddy dan istri ku, aku tidak tau apa-apa tentang bisnis. Bisa gulung tikar dalam semalam kalau aku memegang perusahaan. Istri ku jauh lebih paham dariku." Daniel memuji istrinya, sekaligus menunjukkan kalau pilihan sang mantan itu salah. Coba kalau dia dulu tak meninggalkannya, mungkin dia yang akan di percaya Daddy Alex untuk mengelola perusahaan.
"Waahhh... hebat sekali nona Mia, sepertinya tuan Alex juga sangat percaya dan mengakui kemampuan mu."
"Anda berlebihan Tuan, saya hanya sekretaris biasa."
Jasmine semakin panas mendengarnya, bagaimana bisa wanita itu mengelola perusahaan sebesar star company. Dirinya saja yang sudah menjadi istri Vino berapa tahun sama sekali tidak pernah diikutsertakan dalam urusan perusahaan.
"Oh iya, kalian nikmati saja pestanya. Maaf kalau kami tidak bisa menyambut terlalu lama. Kami harus menemui tamu Daddy yang lain." Daniel pamit dengan sopan.
"Tentu Niel, kau pasti sibuk. Bisakah lain kali kita makam malam bersama. Sudah sangat lama kita tidak bertemu, sekaligus reuni."
"Dengan senang hati, kami akan datang. Kalian tentukan saja waktu dan tempatnya."
Setelah itu Daniel mengajak istrinya untuk meninggalkan mereka.
"Bukankah tidak sopan meninggalkan mereka begitu saja, Niel..." ujar Mia.
"Kenapa, bukannya sama saja seperti yang lain. Pasti ujung-ujungnya membicarakan perusahaan dan meminta kerjasama."
"Mereka temanmu Niel, bagaimana kau bisa berpikir seperti itu pada mereka. Apa karena wanita itu, entah kenapa aku merasa dia tidak menyukai ku." Mia mengatakan apa yang ia rasakan.
"Kenapa istri ku pintar sekali." Daniel mencubit gemas hidung istrinya.
"Niel..." protes Mia. "Jadi benar kalau wanita itu adalah wanita yang sudah meninggalkan mu dulu dan pria itu adalah laki-laki yang ia pilih," sambung Mia.
Daniel mengangguk pasti, tidak ingin menutupi apapun dari istrinya. Karena dia sudah sepakat akan berdamai dengan masa lalu.
Mia terkekeh... Sebenarnya cerita mereka hampir sama, ditinggalkan demi sesuatu yang lebih baik katanya. Lalu sekarang mereka seenaknya mengatakan menyesal.
to be continue...