
Lucy masih tidak percaya dengan apa yang Daren lakukan, pria itu membiarkan begitu saja sang putra tidur di kamar mereka. Padahal seharusnya ini adalah malam pertama mereka setelah menikah. Dari sebelum menikah saja pria itu sudah tidak bisa menahan diri dan sekarang setelah menikah malah jadi tidak bisa menikmatinya. Hal itu membuat Lucy merasa tak enak hati, meski tau Daren menyayangi putranya, bukan berarti Lucy membiarkan hal itu melunjak.
"Sebaiknya Zoro di kamar mamah saja, sayang. A-aku tidak bisa membiarkan dia mengganggu malam kita."
Pria itu malah tertawa mendengar hal itu, "Apa kau begitu tidak sabar untuk menghabiskan malam denganku sampai mengusir putramu sendiri dari kamar ini," ujar Daren disertai kekehan kecil.
Lucy membulat, kenapa jadi dirinya. Bukanya itu terbalik. "Bukan seperti itu, tapi aku takut kamu terganggu dengan kehadirannya," lirih Lucy merasa tak enak.
"Sejak kapan aku pernah berkata kalau kehadiran Zoro mengganggu? Dari awal aku yang ingin menjadi ayahnya, Zoro adalah putraku juga, jangan pernah berkata seolah aku tidak menyukai Zoro." Daren merasa tersinggung dengan ucapan istrinya.
Lucy tidak tahan lagi, dia menghambur ke pelukan suaminya. Dia sungguh beruntung bisa bertemu dengan Daren dan bisa memiliki suami sepertinya.
"Terimakasih sayang, dan maaf aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya takut kalau kehadiran Zoro di kamar kita di malam pertama kita membuatmu terganggu."
"Tidak ada yang seperti itu, biarkan saja kalau dia ingin tidur disini. Jangan pernah melarangnya lain kali."
"Tapi bagaimana dengan kegiatan kita kalau dia terus tidur di sini?" tanya Lucy polos, ya dia tidak banyak pengalaman setau dia hal itu hanya bisa dilakukan di atar ranjang saja.
"Apa kau tidak tau kalau hal itu bisa juga di lakukan di tempat lain?" tanya Daren gemas.
Lucy melepaskan diri dan mendongak menatap suaminya. "Maksudnya bagaimana sayang? bukannya harus diatas ranjang?"
Daren terkekeh, rupanya sang istri masih sangat polos. Bukankah seharusnya dia pernah melakukannya bersama mantan suaminya. Dia jadi penasaran ingin bertanya. "Boleh aku tau bagaimana kau melakukannya dulu dengan mantan suamimu?" tanya Daren hati-hati karena tak ingin mengingatkan sang istri dengan luka lama.
Lucy tampak berpikir. "Dulu aku selalu melakukanya di atas ranjang, dia pulang dalam keadaan mabuk di tengah malam saat aku tertidur lalu tiba-tiba saja dia membangunkanku dan membuka pakaian ku lalu memasukan mi-liknya..." Lucy menunduk malu, bagaimana tidak dia baru saja menceritakan bagaimana dia berhu-bungan ba-dan dengan mantan suaminya yang kasar itu, sampai sekarang saja dia masih ingat betapa sakitnya malam itu.
Daren menyerngit, bukan karena cemburu atau apa tapi kenapa tampaknya cerita sang istri sangat datar. "Apa hanya seperti itu? Tidak ada yang lain? Dia langsung memasukan mi-liknya begitu saja?"
"Ehh iya, memang seperti itukan berhubungan suami istri," ujar Lucy polos.
Ya ampun kalau hanya seperti itu bagaimana kau bisa menik-matinya sayang. Siapa pria itu yang tega mengambil kesu-cianmu dengan cara seperti itu, seandainya saja kita bertemu lebih awal. Kau jadi tidak perlu bertemu dengan pria seperti itu.
"Tidak apa-apa sayang, nanti aku akan membuatmu merasakan sesuatu yang lain. Aku akan membuat malam pertama kita berkesan." Daren menarik sang istri dalam pelukannya dan mendaratkan ci-uman di keningnya.
,,,
Di tempat lain.
Usia kandungan Mia sudah memasuki bulannya untuk melahirkan tapi tampaknya bayi mereka masih betah dalam perut ibunya. Belum ada tanda-tanda apapun dari si ja-bang bayi. Tapi untungnya mereka selalu rutin memeriksa kandungan jadi tidak ada yang membut mereka takut karena kata dokter bayi mereka baik-baik saja dan sangat sehat. Selama air ketubannya masih jernih dan banyak maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Sayang, bukankah kata dokter kita harus sering melakukannya agar dia cepat keluar," rayu Daniel seperti biasa, pria itu ada saja alasan untuk meminta hal itu pada istrinya.
"Tapi tadi siang dan sore kan sudah Dad, aku takut anak kita bosan karena sering dijenguk." Mia saja sampai heran, padahal menurutnya bentuk tubuhnya saat ini sangat jelek tapi bagi Daniel malas semakin menggoda apalagi bagian b-ukit yang sekarang sudah mulai keluar asi. Pria itu selalu saja minta menyusu saat ada kesempatan, katanya sebelum anaknya lahir dia harus puas dulu nanti setelah anaknya lahir pasti dikuasai anak mereka.
Setelah mendapatkan ijin Daniel langsung dengan semangat mencium bi-bir sang istri, tangannya menekan tengkuk dan tangan satunya digunakan untuk menurunkan tali gaun tidur sang istri. "Terimakasih sayang, aku janji akan berhati-hati dan tidak akan menyakiti anak kita."
"Uhh... Dad..." bibir Mia mulai merancau dan men-de-sah saat Daniel mulai menyerang di titik-titik tertentu. Menjelajah seluruh kulit sang istri dengan li-dahnya.
Sekarang giliran benda bulat yang semakin besar. "Mereka sangat besar, aku suka... eeumm ini enak sayang." Dengan semangat Daniel langsung saja melahap dua bu-kit besar favoritnya, me-re-mas lalu meng-hi-sap pu-cuknya, memutar li-dahnya- menji-la-t dan me-ngu-lumnya.
Suara indah dan de-sah-an mudah mulai mendominasi. Keringat dan bau khas perc-intaan sudah menyeruak membuat keduanya semakin bersemangat.
Tentu saja Daniel semakin bersemangat mendengar de-sa-han sang istri yang terus meminta lebih. Di-hi-sapnya kuat hingga air asi itu keluar menuhi mulutnya, tapi ada yang aneh karena biasanya tidak sebanyak itu saat ia menghi-sapnya.
"Terus Dad,Ā jangan berhenti,,, uhhh."
Daniel mengabaikan hal itu mendengar rengekan sang istri dan melanjutkan aksinya. Tentu saja mi-liknya juga sudah sangat meng-eras ingin segera masuk ke -lo-bang yang hangat dan sempit.
"Sayang aku ingin masuk sekarng," ujar Daniel parau, dia sudah di ubun dan ingin segera merasakan yang lebih.
"Iya Dad, aku juga ingin Aaakkkhhh....awwww... Dad..."
"Ya sayang kau kenapa, aku bahkan belum memasukannya kau sudah berteriak seperti itu." Daniel sedang melepaskan celananya.
"Bukan itu Dad tapi Aaaawww ... perutku Dad..."
Ada yang tidak beres dengan raut wajah istrinya yang sepertinya kesakitan, Daniel pun panik."Ada apa Mia, apa ada yang salah?"
"Perutku sakit Dad, seperti ada yang mau keluar... aawww... "
"Jangan-jangan anak kita mau keluar." Daniel panik seketika, apalagi saat ini dirinya sudah terlanjur membukan seluruh pakaiannya sang istri pun sama. Dia pun bergegas mencari pakainnya yang tadi entah ia lempar kemana.
"Apa yang kau cari Dad, aaww... cepat lakukan sesuatu sebelum aku melahirkan disini."
"Sebentar sayang, aku belum memakai baju. Dimana lagi tadi bajuku..." mondar mandir tdak jelas.
"Ambil saja di lemari dad," ujar Mia sambil menahan sakit.
"Ohh iya, sebentar aku pakai baju." Daniel pun secepat kilat menyambar pakaian apapun. "Ayo sayang, kita ke rumah sakit," Bersiap menggendong tubuh sang istri.
"Dad! mana pakaianku, apa aku ke rumah sakit seperti ini... aaww.."
Daniel menepuk keningnya sendiri, ia lupa kalau sang istri juga tidak memalai pakaian. "Hhehe maaf sayang..."