
°°°
Mia kembali pingsan saat mendengar kabar kalau kota A yang awalnya sudah rusak sekarang benar-benar hancur. Bahkan, tanah longsor dari perbukitan membuat kota itu terlihat seperti lapangan sepak bola.
Tadi saat utusan dad Alex menelepon memang mom Tania dan Mia meminta agar suaranya dikeraskan menggunakan tombol loudspeaker. Sehingga semua orang mendengarnya. Termasuk mom Tania yang juga ikut pingsan seperti Mia.
Mia kembali di bawa ke dalam kamarnya agar beristirahat. Dijaga oleh mamah Emma dan Felice. Sementara mom Tania ada di kamar tamu, ditemani oleh dad Alex. Untunglah dokter masih ada di sana, sengaja memang dad Alex yang menyuruhnya standby di sana karena mengkhawatirkan keadaan menantunya yang sedang mengandung calon cucu pertamanya.
Dad Alex terus mengusap-usap punggung tangan istrinya yang terasa dingin. Tentu saja dia sangat cemas melihat istrinya pingsan.
"Sayang, sadarlah. Kenapa kau juga ikut pingsan? Kita seharusnya menjaga menantu kita sekarang, selama Daniel tidak ada, Mia adalah tanggung jawab kita."
Dad Alex jadi bingung, disisi lain dia harus bergerak cepat untuk mencari keberadaan putranya tapi disisi lain istri dan menantunya tidak bisa di tinggal.
Ya memang karena kemungkinan, Daniel putra mereka masih hidup karena Longsoran bukit itu ternyata hanya mengenai kota yang awalnya memang sudah hancur dan beberapa rumah yang sedang pemerintah bangun. Tapi tidak mengenai tenda pengungsian. Ya ada sebagian tapi dad Alex yakin kalau putranya pasti masih hidup, termasuk keponakan dan relawan lainnya.
"Daniel... putraku... Daniel jangan tinggalin mommy, nak." Mom Tania merancau dalam tidurnya. Memanggil-manggil nama putranya. Dia amat sangat terpukul atas berita tadi. Bagaimana mungkin putra satu-satunya yang juga susah mereka dapatkan kini telah tiada begitu saja.
"Sayang... kau sudah bangun. Mom... buka matamu, sayang. Putra kita masih hidup," ujar dad Alex untuk menyemangati istrinya agar terbangun.
Dan akhirnya mom Tania bangun juga dari alam bawah sadarnya. Dia membuka mata dan langsung meraung-raung memanggil nama putranya.
"Putraku... Daniel, dimana putraku. Aku mau bertemu dengannya, Daniel jangan tinggalkan Mommy," teriak mom Tania.
"Sayang, tenanglah. Putra kita masih hidup, aku sangat yakin kalau dia masih hidup." Dad Alex juga sedikit berteriak agar sang istri yang sedang meraung bisa mendengar nya.
"Kau bohong Dad, aku sudah dengar semuanya tadi. Ini semua gara-gara kamu yang memberinya ijin untuk pergi. Putraku... Dad..." Terisak-isak semakin keras.
Dad Alex membawa istrinya ke dalam pelukannya, menenangkan pikiran yang sedang berkecamuk saat ini.
"Tidak seperti itu Mom, kalian tadi belum mendengarnya sampai akhir. Memang longsor itu meratakan kota A dengan tanah, tapi beruntung nya tidak sampai tenda meski ada sebagian yang rusak terkena dampaknya." Dad Alex menjeda sebentar.
"Kita berdoa saja, semoga Daniel segera di temukan. Anak buahnya Daddy sudah mulai melakukan pencarian, walaupun sebenarnya belum boleh karena lokasi yang masih sangat berbahaya," terang dad Alex.
"Selama mayat putra kita belum ditemukan, kita masih punya harapan Mom. Daddy akan berusaha mencarinya semampu ku. Aku akan ikut dalam pencarian yang akan dilakukan oleh to tim penyelamat. Apa mommy bisa sendiri disini dan juga menjaga menantu dan calon cucu kita?" tanya dad Alex, sejujurnya dia tidak tega meninggalkan istrinya dalam keadaan terpukul tapi kalau dia tidak mencari sendiri rasanya tidak puas. Dan hatinya juga tidak akan tenang selama belum mendapatkan kepastian tentang nasib Daniel.
"Tidak Dad," tolak mom Tania, pelukannya juga semakin erat seakan tidak akan pernah setuju kalau suaminya juga pergi ke tempat itu. "Tempat itu berbahaya, aku mohon jangan pergi..." Putranya entah nasibnya bagaimana, mom Tania juga tidak mau kehilangan suaminya.
"Di sana akan selalu ada helikopter yang akan terus standby, jadi kalau sewaktu-waktu terjadi hal buruk bisa langsung menyelamatkan diri. Jangan cemas, Daddy akan membawa lebih banyak orang untuk membantu." Dad Alex berusaha meyakinkan istrinya. Walaupun hubungan antara dia dan Daniel mungkin terlihat tidak begitu baik tapi dad Alex tetaplah seorang ayah dan pastinya sangat menyayangi Daniel.
"Tapi dad...."
"Please Mom. Bagaimana kalau putra kita sedang kedinginan dan sendirian sekarang, apa kau tega melihatnya seperti itu. Dengan instruksi ku para bawahan ku pasti bergerak dengan lebih cepat dari biasanya." Dad Alex memohon agar sang istri merestui kepergiannya.
"Baiklah Dad, tapi kamu jangan lupa harus selalu jaga diri dan mengabari apapun yang terjadi."
Mom Tania kembali memeluk suaminya dengan erat.
,,,
Di kamar Mia.
Wanita yang sedang hamil muda itu juga baru sadar dari pingsannya. Tangisnya kembali membanjiri wajahnya yang sangat pucat saat ini. Mulutnya terus memanggil nama suaminya.
"Daniel... Mah, dia sudah janji akan pulang. Dia harus menepati janjinya."
"Yang sabar nak, kamu yang kuat." Mamah Emma tidak tau lagi harus bagaimana agar putrinya tenang. Beliau juga merasakan kesedihan yang putrinya rasakan.
"Aku mau menyusul Daniel, Mah. Aku mau mencarinya... hiks..."
Terus meronta dan mencoba turun dari ranjang.
°°°