Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 29. Menikah


Hari ini hari pernikahan Lucy dan Daren. Tidak ada pesta atau perayaan untuk mereka, tapi itu bukanlah masalah. Pesta mewah dan dihadiri banyak tamu bukankah malah melelahkan, dan kemewahan sebuah acara pernikahan juga tidak bisa menjadi tolak ukur kebahagian rumah tangga seseorang. Bahkan banyak juga yang pesta pernikahannya sangat meriah tapi pada akhirnya berakhir di pengadilan.


"Sayang, apa kau sudah siap? Daren sudah datang," ujar ibu Risa yang baru saja masuk ke dalam kamar putrinya yang tengah bersiap.


"Siap mah," jawab Lucy seraya memutar tubuhnya. "Apa aku cantik mah?" tanya nya.


"Ya ampun.. apa benar ini anak mamah? kau cantik sekali nak." Ibu Risa tak bisa lagi menahan air matanya, haru dan bahagia melihat bagaimana akhirnya sang putri bertemu dengan pria yang mencintai nya dan menerima sang putra.


Lucy merona, saat sang mamah memujinya. Dia memang hanya menggunakan balutan pakaian pengantin yang sederhana tapi tetap saja cantik dengan hasil makeupnya sendiri. Dipeluknya sang mamah, matanya pun ikut berkaca-kaca.


Daren sudah menunggu dengan menggunakan stelan tuxedo yang senada dengan Lucy, ditemani Zoro yang juga tampak tampan dengan kemejanya. Bocah itu tentu saja sangat bahagia, meski tidak tau apa itu pernikahan tapi saat tau kalau mulai sekarang papi Darennya bisa terus tinggal bersama dengan mereka, dia langsung bersorak bahagia.


"Itu mami..." pekik Zoro saat melihat maminya begitu cantik.


Daren pun memaku, melihat kecantikan wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu sedang berjalan ke arahnya. Benarkah itu Lucy, dia kelihatan sangat berbeda hari ini. Penampilannya sungguh spesial untuk hari yang sangat spesial untuknya.


"Kau sangat cantik, Lucy ku."


"Kau juga tampan." Mereka saling memuji dan mengagumi keelokan paras masing-masing.


,,,


Tidak butuh waktu lama. Lucy dan Daren sudah mendapatkan akta pernikahan mereka. Dengan serangkaian acara di kantor tersebut. Mereka pun berfoto memegang bulu nikah masing-masing.


Ternyata mereka tidak sendiri. Banyak pasangan yang menikah di hari itu. Semuanya tampak bahagia meski hanya menikah dengan cara sederhana.


"Kau sudah menjadi istri ku sekarang, aku sangat beruntung bertemu dengan mu." Daren mengecup punggung tangan wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Lalu ia merogoh saku jasnya, diambilnya sebuah kotak kecil disana.


"Sayang, ini... kau kapan membeli ini?" tanya Lucy, pasalnya mereka tidak pernah membicarakan masalah cincin. Ternyata karena Daren sudah menyiapkan ini dari jauh hari.


"Mungkin ini tidak semahal cincin berlian ataupun permata tapi ini adalah tanda cinta kita. A


"Setelah aku menyatakan perasaan ku pada mu malam itu." Daren memasang cincin itu.


"Mungkin ini tidak semahal cincin berlian ataupun permata tapi ini adalah tanda cinta kita. Aku harap di kehidupan saat ini ataupun selanjutnya kita akan selalu bersama."


Tidak ada kata lagi yang bisa Lucy ucapkan, Daren adalah laki-laki yang memang ditakdirkan untuk nya.


Mamah Emma dan Zoro yang ikut menemani juga turut bahagia atas pernikahan mereka. Terlebih Zoro yang terus menempel pada papi barunya. Bisa sehat dan bisa merasakan kasih sayang seorang ayah adalah keberuntungan terbesarnya.


,,,


"Nanti kau akan tau." Daren melajukan mobilnya dengan hati berbunga-bunga. Menikah mungkin bukanlah impiannya, selama ini dia hidup dengan banyak wanita di sekelilingnya. Ia pikir mungkin tidak akan menikah secepat itu. Siapa sangka kalau kehadiran Lucy dan Zoro membuat nya bermimpi tentang pernikahan.


Mobil yang mereka tumpangi sampai di salah satu hotel dan restoran yang cukup mewah di kota itu. Rupanya Daren sudah menyiapkan sedikit kejutan untuk istrinya.


"Kita mau apa disini?" tanya Lucy sambil memindai bangunan megah di depannya.


Daren sedang menggendong Zoro, lalu tangannya meraih tangan sang istri dan menuntut nya masuk tanpa menjawab rasa penasaran wanita itu. Mamah Emma sudah masuk lebih dulu tanpa sepengetahuan Lucy.


Salah satu ruangan private terbuka dan suara riuh dari beberapa orang menyambut mereka.


"Selamat datang pengantin baru..." Felice jadi garda terdepan yang memberi selamat. "Ya ampun Lucy kau sangat cantik...," puji Felice.


Lucy masih dalam mode keterkejutan nya. Dimana ruangan itu seperti disulap menjadi pesta kecil-kecilan khas pernikahan.


"Sayang ini... kau yang merencanakan nya? Terimakasih..." Ujar Lucy pada suaminya.


"Hanya perayaan kecil sayang. Aku rasa kita harus membagikan kebahagiaan kita pada mereka kan."


"Hai, ayo pengantin baru. Duduklah, disini." Felice menggandeng tangan Lucy.


Mereka semua sudah duduk di masing-masing kursi mereka. Canda tawa mereka memenuhi ruangan, saling meledek satu sama lain. Mia dan Daniel tentu yang jadi pemenang, karena Mia yang sudah hamil dan sebentar lagi melahirkan.


"Kau harus banyak belajar padaku agar cepat jadi seperti ini." Daniel mengusap perut istrinya yang sudah sangat besar. Memang perkiraan dokter bulan ini seharusnya Mia melahirkan.


"Dad, jangan bicara seperti itu..."Mia malu.


"Tenang saja, aku tidak perlu belajar. Aku sudah banyak pengalaman, haha... aww....!" Baru saja tertawa sudah mendapatkan cubitan dari sang istri.


"Jadi kau sudah banyak pengalaman?" tanya Lucy penuh intimidasi.


"Eehh... bukan begitu sayang, maksudnya- itu..."


Daren menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bagaimana menjelaskan nya pada sang istri atas kenakalannya yang suka melihat video++.