Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
115. Ternyata Belum


°°°


Daniel baru saja selesai memeriksa pasiennya. Hari ini cukup banyak karena memang mereka banyak yang sudah menunggu kembalinya Daniel. Walaupun di rumah sakit itu ada dokter bedah yang lain tapi banyakan lebih percaya pada kemampuan Daniel.


"Apa masih ada pasien, sus?" tanya Daniel pada perawat.


"Sudah tidak ada Dok, yang tadi itu terakhir," jawab perawat itu sambil melihat daftar catatan pasien.


"Baiklah, aku mau keluar sebentar. Kalau ada yang mencari katakan kalau aku sedang menjemput istriku."


"Baik Dok." Uhh... gantengnya suami orang. Perawat itu terus mengekor pergerakan Daniel sambil mengaguminya.


Setelah melepaskan jas kebesarannya. Daniel bergegas menuju parkiran untuk menjemput istrinya. Dilihatnya jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Waktunya pas sampai di sana pas jam makan siang."


,,,


Di perusahaan Star company.


Mia masih berkutat dengan pekerjaannya. Lembar demi lembar ia teliti dengan baik sebelum sampai di tangan atasan. Dia juga mengatur beberapa jadwal kegiatan atasan dan jadwal temu dengan beberapa klien.


"Mia, kamu mau ikut makan di bawah atau mau aku bawakan?" Tanya Catty sang teman baik.


"Jam berapa sekarang?"


"Jam dua belas lebih, sudah waktunya makan siang. Makanya jangan bekerja terlalu keras, kalau aku punya suami sekaya itu mending di rumah saja." Catty ngedumel sendiri, sementara Mia langsung mengecek ponselnya karena ia merasa punya janji di jam makan siang.


Benar saja, ada beberapa pesan dari suaminya. Lima belas menit yang lalu dia mengirim pesan sudah ada di bawah.


"Aku kelupaan." Buru-buru membereskan meja kerjanya lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


"Hai... Mia. Kau mendengarkan ku apa tidak dari tadi." Masih mengomel.


"Aku pergi dulu, suamiku sudah menunggu di bawah. Nanti aku kembali lagi. Dahh Catty... muuuaahh..." Mia langsung pergi setelah pamitan dengan temannya.


"Mia... mau kemana?" teriak Catty.


"Nanti aku ceritakan." Melambaikan tangan saat pintu lift sudah terbuka.


Kenapa jadi aku yang ditinggal. Catty memajukan bibirnya.


Benar saja sang suami sudah menunggu di parkiran depan. Untunglah Mia segera melihat pesannya.


tok tok tok.


Mia mengetuk jendela kaca mobil suaminya, sepertinya laki-laki itu sedang mendengarkan musik dan tidak menyadari kedatangannya.


Menyadari ada yang mengetuk jendela kaca mobil nya, Daniel pun melepaskan earphone yang ia pasang di telinganya. Dilihatnya sang istri sudah datang. Segera ia membuka pintu mobil dan turun.


"Maaf, apa kau sudah menunggu lama?" Mia merasa bersalah pada suaminya. Ini salahnya yang selalu lupa segalanya kalau sudah memegang pekerjaan. Makanya dulu dia selalu tidak masalah kalau disuruh lembur karena memang dia suka bekerja.


"Tidak juga, aku juga baru sampai. Apa kita bisa pergi sekarang?" Walaupun tadi Daniel sempat tertidur karena menunggu terlalu lama tapi tidak apa-apa. Dia mengerti pekerjaan istrinya.


Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit khusus untuk ibu hamil dan melahirkan. Salah satu anak rumah sakit star medical center juga.


"Kita sampai, ayo turun." Daniel baru mau keluar tapi Mia mencegatnya.


"Niel, bagaimana kalau aku tidak hamil?" ragunya. Dia takut kalau banyak orang yang sudah menunggu tentang kabar baik itu nanti kecewa.


"Tidak perlu cemas, ini hanya pemeriksaan biasa. Kalau memang belum hamil ya tidak apa-apa, kan kita bisa membuatnya lagi." Menaikan turunkan sebelah alisnya.


"Karena itulah aku selalu bilang, jangan cemaskan apapun. Kita jalani saja apa yang ada di depan mata kita dulu. Apapun yang terjadi, kita hadapi bersama nanti." Daniel mengusap lembut pipi istrinya penuh sayang.


Mereka sudah ada di ruangan dokter kandungan. Daniel memperhatikan istrinya yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang pasien. Dokter sedang melakukan pemeriksaan USG, untuk melihat adakah janin yang sudah tumbuh di dalam rahim perut Mia seperti yang Daniel perkirakan.


"Sepertinya belum ada tanda-tandanya janin yang tumbuh Dok, anda lihat sendiri kan?" tanya dokter Mita pada Daniel.


Ya Daniel melihatnya dan sebagai dokter dia bisa mengerti akan hal itu. "Iya Dok, aku melihatnya."


Dokter Mita pun menyudahi pemeriksaan dan membersihkan permukaan perut Mia yang terkena jel. "Sudah Nona, anda bisa bangun sekarang," ujarnya tersenyum ramah.


"Apa nona pernah terlambat datang bulan juga sebelumnya?" tanya dokter itu lagi saat Mia sudah duduk di samping Daniel.


"Pernah beberapa kali Dok," jawab Mia.


"Kelelahan atau banyak pikiran sangat mempengaruhi jadwal datang bulannya jadi tidak teratur. Oh iya, kalian baru menikah seminggu yang lalu kan?" tanya dokter Mita. Daniel dan Mia sama-sama mengangguk.


"Kalian pasti sudah sangat ingin memiliki momongan," ledek dokter itu.


"Tidak Dok, kami hanya ingin cek kesehatan sekaligus konsultasi saja. Kalau dikasih cepat ya pasti tidak menolak, kalau belum dikasih pasti berusaha lebih giat lagi." Daniel yang menjawab.


"Hahaha... dokter Daniel bisa bercanda juga ternyata. Selamat atas pernikahan kalian, maaf kemarin saya tidak sempat datang. Tapi akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan nona Starles. Sangat cantik, pantas saja dokter Daniel tidak pernah melirik satupun perawat atau dokter muda di rumah sakit. Istrinya saja secantik ini."


"Terimakasih dokter, anda terlalu memuji. Anda juga sangat cantik." Mia pun membalasnya.


"Oh ya... sayang sekali dokter Daniel tidak mau dengan ku," ujar dokter Mita lalu tergelak.


"Sudahlah Mita, kau tidak usah menggoda istriku lagi."


"Maaf-maaf, lagian kau lama tidak muncul. Sekali muncul tiba-tiba menyuruhku memeriksa istrimu. Kau bahkan tidak mengundang teman-teman sekolahmu saat menikah."


Mia hanya memperhatikan mereka yang tiba-tiba terlihat akrab. Seperti teman lama.


"Perkenalkan, saya Mita teman sekolah SMA nya Daniel," ujar dokter itu pada Mia.


"Salam kenal dokter Mita." Mia bersikap ramah.


"Jadi bagaimana, apa ada yang perlu diperhatikan istri ku untuk kedepannya?" tanya Daniel. Yang merasa sang istri mulai tidak nyaman.


"Ohh ya, begini nanti akan saya resepkan vitamin. Nanti nona harus makan makanan yang sehat, istirahat yang cukup dan jangan kelelahan." Dokter itu menjelaskan sambil menuliskan resep.


"Baik Dok."


Mia pun lega karena tidak ada masalah yang berarti dengan rahimnya. Belum hamil mungkin belum waktunya saja. Mereka jadi lebih banyak waktu berdua dulu, lebih saling mengenal dan memahami perasaan satu sama lain.


"Apa kalian bertemen dekat sebelumnya?" tanya Mia setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan.


"Tidak begitu, dia itu salah satu mantan kekasihnya Daren. jadi kami sering bertemu dulu karena Daren sering mengajaknya bergabung bersama," jelas Daniel.


"Ooohhh..."


"Kenapa, apa kau cemburu?" Daniel menggoda. Senang kalau memang sang istri cemburu, sayangnya sulit membuat wanita itu mengakui hal itu.


"Tidak." Memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sayang sekali, padahal aku ingin lihat seperti apa istriku kalau sedang cemburu."


to be continue...