
°°°
Semua orang di kantor menatap Mia dengan tatapan aneh. Ya mungkin karena syal yang ia gunakan di hari yang hangat ini. Bodooh amat lah, memang orang tau apa? Mereka hanya bisanya mengomentari hidup orang lain.
Mia tidak peduli dengan tatapan mereka.
"Lihatlah, penampilan sekretaris CEO kita semakin hari semakin aneh saja," komentar salah satu karyawan yang sedang melihat Mia.
"Ya untung saja jabatannya tinggi, kalau tidak dia pasti sudah menjadi bahan bullyan di kantor ini."
"Kau benar, CEO kita sangat percaya padanya. Beruntungnya penampilan seperti itu bisa menjadi sekretaris sekaligus menjadi kepercayaan CEO."
Mereka tidak berhenti berkomentar. Memang di kantor itu banyak wanita yang iri pada Mia. Mereka merasa lebih cantik dan menarik tapi tidak dipilih menjadi sekretaris. Menurut mereka sekretaris Mia juga memalukan, biar bagaimanapun dia itu sering meeting dengan orang-orang penting. Bagaimana tanggapan orang-orang dengan wajah star company yang Mia wakilkan.
Keluar dari lift, Mia langsung ke ruang kerjanya. Dia langsung menyalakan komputer dan memeriksa jadwal atasannya hari ini sebelum sang atasan datang tentu sebagai sekretaris Mia harus mempersiapkan semua itu.
Setelah memeriksa jadwal, Mia masuk ke dalam ruangan CEO untuk memeriksa kebersihan dan tentunya menyiapkan kopi yang biasa tuan Alex minum. Mia melakukan pekerjaannya dengan kooperatif, begitu sempurna dan kadang tanpa celah.
Ruangan sudah, jadwal sudah dan kopi juga sudah. Mia mengabsen pekerjaan nya agar tidak ada hal yang terlewatkan.
Mia kembali ke ruangannya dan ternyata sudah ada temannya menunggu disana.
"Kopi mu...." Catty menyodorkan secangkir kopi yang tadi ia beli.
"Makasih," ujar Mia seraya menyambar kopi dari temannya.
"Apa kau sedang sakit, kenapa memakai syal?" tanya Catty, pertanyaan yang sama dari semua orang.
"Tidak, hanya sedikit dingin saja," jawab Mia acuh dan Catty pun mengangguk paham.
"Ya sudah aku kembali ke mejaku dulu." Tanpa curiga Catty pergi dari ruangan Mia, padahal wanita itu biasanya banyak bertanya dan rasa ingin tahunya sangat besar.
Untunglah hari ini dia tidak banyak bertanya, Mia menghela nafasnya.
Beberapa jam kemudian.
Seperti biasa Mia harus menyerahkan berkas yang harus ditandatangani oleh sang CEO. Padahal ingin rasanya sehari saja dia tidak menemui tuan Alex. Dia bingung harus bersikap bagaimana nanti, apakah dia harus biasa saja atau jujur mengenai kejadian tadi malam.
Tidak, lebih baik tidak usah membahasnya kalau beliau tidak bertanya. Ya Mia lupakan kejadian semalam. Orang kaya dan terhormat seperti mereka mana mungkin memikirkan nasibmu.
Sudahlah masuk saja, anggap semalam itu hanya mimpi.
Setelah memantapkan hatinya, Mia mengetuk pintu ruangan CEO.
"Masuk..."
Mia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Mencoba menetralkan debaran jantungnya yang berirama begitu kencang.
Ada apa dengan ku, bukannya setiap hari juga menemui tuan Alex tapi kenapa hari ini rasanya berbeda.
Mia memaksakan diri untuk masuk ke dalam. Membuka handle pintu dan berjalan ke depan meja tuan Alex.
"Ada berkas yang harus anda tandatangani Tuan," lapor Mia.
"Tinggalkan saja di meja nanti aku akan menandatanganinya." Tuan Alex tampak fokus pada layar komputernya.
Mia pun meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja. Setelah itu dia pamit undur diri, rasanya lama-lama di ruangan itu membuatnya tidak nyaman.
"Tunggu Mia," cegat tuan Alex.
"Iya Tuan, apa ada perintah?" tanya Mia dengan sopan.
Mia pun mendekat ke arah Tuan Alex, berdiri agak jauh untuk melihat yang tadi diperintahkan.
"Lihatlah, apa ini bagus?" tanya Tuan Alex pada sebuah gambar yang menunjukkan tas dengan merek H dengan berbagai warna.
"Bagus Tuan, Nyonya pasti menyukainya," saran Mia.
"Tapi istri ku tidak menyukai barang-barang mewah seperti itu. Aku juga bingung harus memberinya apa supaya dia tidak marah lagi," tutur Tuan Alex yang tersiksa karena sang istri belum juga memberinya maaf.
Mia tampak berpikir keras, dia biasanya memang membantu memecahkan masalah atasannya apapun itu.
"Sepertinya bunga saja Tuan, nyonya orangnya sangat lembut dan penyabar. Dia pasti suka sesuatu yang romantis dan perhatian," saran Mia.
"Kau benar, aku setuju pada idemu." Tuan Alex menelepon seseorang untuk mencarikan bunga kesukaan sang istri.
Sementara Mia yang merasa sudah tidak dibutuhkan lagi disana pun segera berjalan keluar dari ruangan itu.
"Tunggu Mia, ada yang mau aku tanyakan. Tadi aku lupa untuk menanyakannya," ujar Tuan Alex yang sudah selesai dengan hubungan mereka.
Deg.
Apa tuan Alex akan menanyakan tentang kejadian tadi malam.
Seketika jantung Mia berdetak lebih kencang, dia sibuk memikirkan apa yang harus ia jawab nanti.
"Semalam bukannya aku menyuruh kamu untuk menjemput Daniel putraku tapi kenapa tidak ada kabar dan anak itu juga tidak pulang semalam?" tanya Daddy Alex.
"Iya Tuan, saya sudah datang ke tempat yang tuan kirimkan tapi aku sama sekali tidak melihat tuan muda jadi aku pulang lagi," bohong Mia. Dia tidak tau apa reaksi tuan Alex karena dia menunduk. Mia pasrah kalau memang sang CEO nanti memarahinya karena tidak berhasil menyelesaikan tugasnya.
Kenapa jawaban mereka berdua sangat berbeda, yang satu bilang tidak ketemu tapi yang satunya bilang mereka bertemu. Aneh sekali, apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan tapi apa. Lebih baik aku pura-pura mengiyakan saja, sepertinya Mia tidak akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Tuan Alex nampak memikirkan jawaban dari sekretaris dan putranya yang berbeda.
Sungguh diluar ekspektasi Mia kalau saat ini Tuan Alex tampak santai dan biasa saja mendengar penjelasan wanita itu. Bisa Mia simpulkan kalau putra dari tuannya itu tidak menceritakan hal memalukan itu pada ayahnya.
Tapi kenapa aku kecewa kalau ternyata tuan Alex belum mengetahui apa yang terjadi semalam. Jangan berpikir macam-macam lagi Mia. Tentu saja kau hanya angin lalu bagi mereka.
"Ya sudah kau boleh keluar." Tuan Alex kembali menatap layar komputernya dan saat Mia sudah berbalik beliau melirik sekilas.
Setelah menutup pintu, barulah Mia merasa lega kalau ternyata tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
Tidak ada yang tau itu lebih baik, aku juga tidak mau kehilangan pekerjaan kalau sampai tuan Alex tau putranya semalam bersamaku.
Ayolah Mia, kau sudah dewasa. Melakukan hal seperti itu bukanlah hal yang aneh atau perlu di pusingkan.
Mia terus berusaha untuk meyakinkan hatinya kalau semua akan baik-baik saja. Yang terpenting kini dia bisa tetap bekerja di perusahaan itu dan bisa membiayai pengobatan mamahnya.
Mia berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci mukanya agar terasa lebih segar. Dirinya saat ini sangat lemas dan mengantuk rasanya. Mungkin karena apa yang terjadi semalam entah dia tertidur jam berapa.
Walaupun dia tidak ingat dengan rinci bagaimana kejadiannya tapi samar-samar dia ingat bagaimana dia menikmati sentuhan pria yang usianya jauh lebih muda darinya.
to be continue...
°°°
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.
Like komen dan bintang lima 😍😍
Gomawo ❤️❤️