
Seorang datang dengan tergopoh-gopoh, nafasnya juga berkejaran seperti baru saja melihat hantu. Wajahnya terlihat panik, sepertinya memang ada hal yang mendesak yang harus ia segera sampaikan pada Daniel.
"Permisi dok, gawat..!!" serunya.
"Ada apa sus, apa terjadi sesuatu pada anak itu?" tanya Daniel tak kalah panik menghadapi situasi itu. Bagaimana tidak panik kalau di dalam sana ada nyawa manusia yang sedang dalam bahaya.
"Golongan darah anak itu AB+ Dok, dan saat ini di rumah sakit kita sedang kehabisan stok jenis golongan darah itu. Jadi kemungkinan belum bisa melakukan operasi hari ini." Perawat itu menyodorkan berkas yang berisi data pasien.
"Bagaimana bisa, anak itu harus di operasi secepatnya." Daniel pun syok mendengar hal itu.
Memang anak itu bukan korban kecelakaan yang memerlukan banyak darah. Tapi selama operasi berlangsung apa saja bisa terjadi termasuk pendarahan, jadi harus ada stok darah untuk pasien selama operasi berlangsung.
"Apa kalian sudah mencoba menghubungi rumah sakit lain, ke bank darah negeri ini? Apa tidak ada juga?" tanya Daniel mendesak. Seharusnya tidak seperti itu, biasanya kalau stok darah apapun tinggal sedikit harusnya sudah meminta pada bank darah atau mencari pendorong sehingga tidak terjadi hal-hal seperti itu.
"Kami sudah coba bertanya dan mereka juga kehabisan jenis darah yang sama. Tadi pagi ada sisa dua kantong dan sebelum kami bertanya sudah ada yang memintanya." Perawat itu menjelaskan dengan was-was. Memang bukan salahnya masalah stok darah seperti itu tapi tetap saja takut.
"Dok, mungkin saja ada anggota keluarga nya yang mempunyai golongan darah yang sama," saran perawat itu.
Daniel pun sempat berpikir begitu tapi melihat Lucy yang sejak tadi diam saja ia yakin kalau golongan darah mereka berbeda.
"Ada apa, Dad?" tanya Mia, dia baru saja sampai dan melihat ketegangan di wajah semua orang.
"Kami kehabisan stok darah yang sama dengan anak itu. Mungkin tidak akan bisa mengoperasinya sekarang, dan mungkin akan sangat berbahaya untuknya," jawab Daniel.
"Apa sudah bertanya pada rumah sakit lain?" tanya Mia lagi. Daniel menggeleng pasti.
"Ada Lucy kan Dad, dia ibunya." Mia dan semua orang memandang Lucy yang masih menangis begitu menyayat hati.
"Lucy... apa darah kalian sama?" tanya Felice yang saat ini sedang merangkul pundak Lucy agar wanita itu tidak terjatuh karena lemas.
Lucy menggeleng lemah, ya dia tau kalau darah mereka sangat berbeda.
"Berarti dia sama dengan ayahnya, apa kau bisa menyuruhnya kemari untuk memberikan donor darah untuk putranya." Daniel berharap Lucy mengangguk agar dia bisa segera melakukan operasi.
"Dad...," lirih Mia. Dia mengusap lengan suaminya memberikan ketenangan.
Mia tau bagaimana perasaan suaminya saat dia tidak bisa berbuat apa-apa melihat pasiennya tergeletak tak berdaya. Bukan kali ini saja dia menemani sang suami saat akan melakukan operasi. Di waktu lain dia juga pernah melihat sendiri, suaminya menangis sendirian di ruangannya saat dia tidak berhasil menyelamatkan pasiennya.
"Dad, apa tidak ada jalan lain. Bukannya golongan darahku AB+ juga Dad, golongan darah ku sama seperti papah." Mia memberi ide. Sejak tadi dia berpikir karena sadar kalau dia sedang mengandung dan akan berbahaya kalau dia mendonorkan darah.
"Tidak sayang, kau sedang hamil. Aku tidak mau anak kita kenapa-napa."
"Tapi bagaimana dengan anak Lucy, Dad. Aku juga calon ibu, aku bisa merasakan bagaimana takutnya Lucy saat ini." Mia sungguh tidak tega melihat Lucy, bagaimana kalau hal itu terjadi pada anaknya kelak. Apa mungkin dia bisa setegar Lucy. "Dad, boleh ya..." pinta Mia dengan sangat.
Daniel bergeming, berpikir keputusan apa yang mungkin akan dia ambil. Dia tentu ingin sekali mencoba menyelamatkan anak itu, tapi dia juga tidak bisa membahayakan nyawa anaknya sendiri.
Satu orang lagi keluar dari dalam ruangan operasi dengan tergesa-gesa bahkan berlari. Seolah tidak cukup masalah yang sedang mereka hadapi, kini sepertinya orang itu juga membawa masalah baru.
"Apa yang kau lakukan disini , Niel? Keadaan pasien semakin melemah, apa kau akan membiarkan nya meninggal begitu saja," sentak Daren dengan emosi, sejak tadi di dalam dia melihat anak itu kejang dan detak jantungnya melemah.
"Kami belum mendapatkan darahnya dok," sahut perawat yang tadi.
"Bukankah ada keluarga nya, apa mereka tidak bisa mendonor." Daniel ingin sekali mengikat bibir Daren yang asal bicara tanpa tau apa yang sedang terjadi. Tapi dia cukup bisa menahannya karena tidak ingin buang-buang tenaga dan waktu.
Perawat itu yang tadi mendengar percakapan mereka pun memberitahu Daren dengan berbisik karena tidak enak pada semua orang.
"Biar aku saja, Niel. Selamatkan anak itu..." Mia memohon.
"Tidak Nona, anda tidak bisa membahayakan nyawanya anak kalian." Lucy pun tidak setuju.
"Jadi itu masalahnya," gumam Daren.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi, aku yang akan mendonorkan darahku untuk anak itu." Mengibaskan jas kebesarannya.