
Berita selamatnya puluhan relawan medis dari rumah sakit Star Medical Center benar-benar tertutup rapat seperti kemauan dad Alex. Keluarga para relawan pun hanya bisa pasrah menunggu kejelasan nasib orang terkasih mereka, karena pihak rumah sakit sendiri mengatakan kalau kemungkinan keluarga mereka masih hidup tidak seperti yang diberitakan di televisi maupun media sosial yang melebih-lebihkan berita. Bahkan paman Sam selaku kepala rumah sakit itu juga belum tau nasib putranya bagaimana.
Setiap hari pria tua itu terus bersedih sambil menatap foto putranya yang selalu membuatnya kesal, banyak membuat masalah, tidak pintar dalam hal apapun dan tidak pernah membanggakan keluarga.
"Maafkan ayah nak, ayah selalu memaksakan kehendak padamu tapi ketahuilah kalau semua ini demi masa depanmu sendiri. Semua yang ayah miliki ini hanya titipan, jabatan dan kekuasaan ini semuanya bukan milk ayah. Ini semua milik Daniel dari kakeknya, meski dia tidak pernah menanyakan hal itu tapi suatu saat ayah tetap harus mengembalikan semua ini padanya."
Paman Sam dan dad Alex sebenernya hanya saudara sepupu jauh. Kakeknya Daniel dan kakeknya Daren adalah adik kakak. Paman Sam dipercaya kakeknya Daniel untuk memimpin rumah sakit itu sementara sampai Daniel mau memegang rumah sakit itu karena putranya Alex tidak mau memegang rumah sakit dan lebih memilih untuk fokus pada perusahaan. Walaupun seperti itu, dad Alex tetap memantau rumah sakit itu dan selalu menyumbangkan bantuan apapun yang rumah sakit itu butuhkan.
Paman Sam memasukkan Daren ke rumah sakit bukan karena ingin putranya memiliki semua itu, hanya saja agar Daren bisa belajar dengan baik dan bisa membantu Daniel, bersama-sama membantu Daniel menjalankan rumah sakit itu. Karena dulu kakeknya sudah banyak membantu keluarga Daren hingga bisa seperti itu, paman Sam pun merasa harus membalas budi, dia sudah menjaga rumah sakit itu sampai sejauh ini. Suatu saat tiba saatnya dia sudah tua, Daren yang harus selalu ada di samping Daniel.
"Ayah janji kalau kau masih hidup, ayah tidak banyak mengatur mu lagi," ujar paman Sam sambil meletakan kembali pigura foto putranya.
,,,
Sementara di perusahaan Mia juga belum tau tentang kabar pasti suaminya, setiap kali menanyakan hal itu pada daddy mertuanya jawabannya hanya...
'Kau berdoa saja ya semoga suamimu bisa ditemukan, sudah ada titik terang, bersabarlah nak, Daddy yakin kalau suamimu masih hidup.'
Sampai hari ini, hari ke enam. Dalam menanyakan kabar suaminya sudah tidak seintens dulu. Dia tidak pada dad Alex. Biar bagaimana pun yang paling terpukul pasti dad Alex dan Mom Tania, kehilangan anak satu-satunya pasti sungguh membuat mereka menderita. Mia memutuskan untuk menerima apapun hasilnya nanti dan tidak merepotkan kedua mertuanya lagi. Dia juga harus fokus pada calon anaknya dan perusahaan yang dad Alex tinggalkan.
Setidaknya hanya itu yang bisa dia bantu untuk meringankan beban dad Alex.
"Niel, dimanakah kamu sebenarnya? Apa kau tidak merindukanku, apa kau tau kalau saat ini aku sedang hamil anak kita. Anak yang selau kamu harapkan agar segera hadir." Seperti biasa Mia akan memandangi foto suaminya yang ada di meja kerja dad Alex.
Sekarang Mia juga sudah tidak pernah bermimpi buruk lagi.
Tok tok tok
Ternyata Catty yang datang, "Waktunya makan..." Di perusahaan, Catty lah yang bertugas menjaga nya dan mengingatkan bumil itu untuk makan.
Mia tersenyum, lalu bangkit dari kursi kerjanya dan berjalan menuju sofa. Dimana Catty sedang menata makan siang.
"Apa hari ini dia menginginkan sesuatu?" tanya Catty sambil mengusap perut Mia yang sudah terasa sedikit membesar meski belum sangat terlihat kalau ditutupi pakaian.
Mia menggeleng, sepertinya calon anaknya sangatlah pengertian. Mungkin saja dia juga merasakan kalau ayahnya tidak ada jadi tidak pernah minta yang aneh-aneh. Bahkan tidak ada drama morning sickness juga, semua normal seperti tidak sedang mengandung. Hanya nap-su makannya yang bertambah, tapi karena dari kemarin memikirkan suaminya jadilah nap-su makannya hilang lagi. "Anakku sangat pengertian," ujarnya.
"Syukurlah, tapi ingat kalau kau menginginkan sesuatu harus langsung mengatakannya padaku. Jangan ditahan nanti babynya ileran lagi. Ahh aku jadi membayangkan seperti apa wajah anak kalian, orang tuanya saja bibit unggul pasti hasilnya sangat bagus."
"Ada-ada saja, kau kira anakku biji jagung."
Mereka pun tertawa, membuat Catty senang karena sudah bisa melihat temannya tertawa meski masih sedikit terpaksa.
,,,
Para relawan yang terluka cukup parah termasuk Daniel hanya tinggal luka di tangannya yang butuh sedikit waktu lebih lama. Hari ini rencananya mereka akan kembali ke kota asal mereka. Gurat kebahagian jelas terpancar dari raut wajah semua orang, rasanya sudah sangat merindukan keluarga mereka.
Saat mereka sedang berkumpul di aula rumah sakit tempat mereka menjali pengobatan. Pemerintah setempat maupun pusat berterimakasih bergantian pada mereka.Serta menyampaikan beberapa untaian kata yang membuat mereka semua terharu, rasanya seperti mimpi bisa lolos dari maut dan mereka merasa telah terlahir kembali.
Tak lupa mereka juga mengumumkan tentang bonus yang akan mereka terima dari pemerintah dan dari star company. Tentu mereka begitu gembira, selama ini mereka tulus membantu dan tidak mengharapkan imbalan apapun, tapi ternyata mereka dapat kejutan dibelakang.
"Terimakasih tuan Starles." Mereka semua berterima kasih.