
°°°
Pesta yang melelahkan akhirnya selesai juga. Mia lebih dulu naik ke lantai atas. Kamar president suite dengan fasilitas super mewah. Yang tadi sore sempat ia tempati.
Dengan kartu akses yang ia pegang Mia membuka pintu kamarnya.
Mia masuk ke dalam kamar, tapi ada yang berbeda dari sebelumnya. kamar ini apa dia tidak salah masuk Kenapa berbeda, banyak lilin lilin menyala di setiap sudut ruangan dengan lampu temaram ditambah bunga-bunga yang menghiasi membuat ruangan itu harum bunga menyeruak dalam indra penciuman.
Iya mengalunkan langkahnya pelan sambil menatap sekeliling ruangan. Dalam hatinya berdecak kagum pada dekorasi yang menghiasi kamar itu, kakinya melangkah semakin dalam sampai pada pemandangan yang membuatnya menganga lebar. dilihatnya ranjang king size dengan taburan kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati di tengahnya, lalu ada handuk di atas ranjang yang dibentuk menyerupai sepasang burung angsa.
hebat sekali dalam sekejap kamar itu sudah berubah menjadi kamar pengantin. Ya Iya baru ingat kalau dirinya lah pengantin baru itu. Ya ampun apa artinya malam ini dia dan Daniel akan melakukan hal itu, yang biasa pengantin baru lakukan. Tidak-tidak Mia menggelengkan kepalanya, tadi sore saja dia sudah dibuat lemas tidak berdaya seperti itu.
Mia apa yang kau pikirkan. Bahkan baru memikirkannya saja wajahnya sudah memerah.
Dia memutuskan untuk membersihkan diri saja agar tidak memikirkan hal-hal seperti itu. Mia berjalan ke arah lemari, berhubungan tidak menemukan kopernya dimana-mana. Mungkin saja memang pakaiannya sudah di tata di lemari. Ahh ya hampir lupa untuk menyuruh orang membelikan piyama tidur yang layak.
Mia menepuk keningnya sendiri, bagaimana ini apa dia harus memakai lingerie seperti tadi sore. Membayangkan saja sudah mere-mang. Laki-laki itu pasti mengambil kesempatan lagi nanti.
Senyum smirk pun tersungging di wajahnya, di punya ide. Kemeja suaminya jadi pilihan alternatif.
Maaf Niel, aku pinjam kemeja mu lagi. Ia mengambilnya lalu ia bawa ke kamar mandi.
Baru saja membuka kamar mandi, harum aroma terapi dari lilin yang menyala kembali menyeruak di indra penciumannya. Di kamar mandi pun tak luput dari dekorasi. Bahkan dalam bathtub juga sudah ada air hangat dengan kelopak bunga mawar menghiasi.
"Sepertinya menyenangkan, berendam air bunga."
Mia yang sudah menanggalkan semua pakaiannya pun masuk ke dalam bathtub berisi air bunga.
,,,
Daniel baru saja kembali setelah menemui beberapa teman dan rekan bisnis daddy nya. Jas yang ia pakai sudah dilepas dan ia taruh di lengannya. Dasi pun sudah ia longgarkan dan kancing kemejanya juga sudah terbuka di bagian atasnya. Tapi tidak pernah mengurangi ketampanannya.
Mungkin karena sudah menenggak beberapa gelas minuman saat menemui tamu. Daniel jadi merasa kegerahan. Tidak sabar rasanya ingin merasakan guyuran air dingin.
Sepertinya Mia sudah kembali ke kamar sejak tadi. Pikirnya.
Ting
Daniel sampai di lantai dimana kamarnya berada. Dia merogoh sakunya dan mengambil kartu akses. Sama seperti Mia tadi yang cukup terkejut dengan dekorasi kamar pengantin yang menghiasi setiap sudut ruangan.
"Dimana Mia?" Bola matanya memindai setiap sudut ruangan, mencari istrinya.
Daniel tidak menemukan Mia disana, tadi dia mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Dia tersenyum lega, lalu meletakkan kemeja dan melepaskan dasinya. Sedetik kemudian dia melihat, gelas dan wine di sediakan di sana.
Daniel menuangkan wine ke dalam gelas, lalu membawa gelas berisi wine itu ke balkon kamar. Mencari udara segar sambil melihat pemandangan lampu kota dan menara tertinggi di kota itu. Lambang negara S yang juga merupakan destinasi wisata di sana. Di dekatnya ada sungai aster, tempat wisatawan menaiki perahu.
Dia menyesap sedikit minumannya, lalu kembali menatap menara. Masih tidak menyangka kalau saat ini dia sudah menikah dan istrinya adalah wanita yang baru beberapa hari ia kenal. Rasanya begitu cepat, ia masih ingat bagaimana awalnya mereka bertemu di bandara. Tidak disangka kalau hari itu adalah awal cerita mereka dimulai.
Tujuannya pulang ke negara ini awalnya bukan untuk menikah, bahkan ia sudah memperingati orang tuanya agar tidak menjodohkannya dengan rekan bisnis ayahnya. Ternyata takdir memang tidak bisa di tebak. Mia hadir dalam hidupnya, membuatnya penasaran dan lama-lama nyaman berada di sampingnya.
Mia baru saja keluar dari kamar mandi, ia melihat pintu kaca yang menuju ke balkon terbuka.
Mia pun berjalan melihat apakah ada suaminya atau tidak. Dilihatnya punggung laki-laki yang ia kenali.
"Kau sudah kembali?" Mia bersuara.
"Hmmm... kemarilah."
Oh Tuhan... Laki-laki itu terlalu mempesona dengan penampilan yang berantakan seperti itu. Sabar Mia sabar, kalau setiap hari di sajikan pemandangan seperti itu bagaimana dirinya tidak meleleh.
"Ehemmm... Niel kau minum lagi. Kau sudah terlalu banyak minum hari ini." Mia mengomel sambil mengambil paksa gelas yang ada di tangan Daniel.
"Hanya sedikit, sambil menunggu mu tadi." Daniel tersenyum memandangi istrinya yang berbalut kemeja miliknya. "Apa kau takut aku akan menerkammu?" tanyanya. "Kau pasti takut memakai lingerie seperti tadi sore," lanjutnya sambil memainkan ujung rambut Mia, kali ini sudah di keringkan sendiri.
Tentu saja, kau sudah seperti singa kelaparan. Aku tidak mau habis olehmu. Berteriak dalam hati.
"Tidak," mengelak. "Sebaiknya kau mandi Niel, Biar aku siapkan air hangat."
"Tunggu." Daniel mencekal tangan istrinya.
"Ada apa?" menyerngitkan dahinya.
Daniel mendekat dan langsung mengangkat tubuh Mia.
"Niel...!!" pekik Mia, pria itu suka sekali bertindak tiba-tiba. "Turunkan aku Niel," pintanya.
"Kenapa kau tidak memakai sandal mu, lantai nya dingin dan kau bisa sakit." Daniel berjalan masuk ke dalam dan mendudukkan tubuh istrinya di bibir ranjang.
"Aku akan mengisinya sendiri, kau beristirahatlah." Mengusap lembut pucuk kepala Mia. Lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Mia tentu saja, pipinya memerah. Daniel selalu memperhatikan hal-hal kecil, kali ini bahkan hanya karena dia tidak memakai sandal.
Tiba-tiba saja jantungnya berdetak sangat kencang.
"Eh eh... kenapa dengan jantungku. Ya ampun, apa ini karena Daniel." Mia menggerakkan kakinya yang tergelantung ke bawah.
Beberapa saat kemudian. Daniel baru saja selesai mandi. Dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggang Daniel keluar dari kamar mandi. Tubuhnya bahkan masih basah, tetesan air yang melewati dada bidang dan perut kotak-kotak nya membuat Mia tertegun. Ya Mia baru saja mau memberikan pakaian ganti untuk suaminya, malah disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya menelan ludah.
"Apa sudah puas melihatnya?" terserah menyeringai.
Segera Mia memandang ke arah lain. Lalu menyerahkan pakaian yang masih di tangannya. "Ini sudah aku ambilkan pakaian gantinya."
Bukannya kamar mandi ada bathrobe, apa dia sengaja ber-te-lan-jang da-da seperti itu. Dia mau pamer kalau tubuhnya bagus, begitu?
to be continue...
°°°
Satu bab lagi othor up habis buka ya BESTie 😝😝