
Masih didalam ruangan pribadi yang dipesannya, salah satu tangan Jiang Xia Yan terlihat mulai mengusap lembut salah satu pipi Han Shan Yang yang sudah mulai kemerahan hingga perlahan kerutan dalam didahinya mulai menghilang.
Han Shan Yang menyipitkan kedua matanya sambil menatap gadis cantik yang ada dihadapannya itu dengan tatapan sayu dan penuh makna.
Kaisar Ru Xie Chang yang tadinya ingin melihat gadisnya sejenak sebelum kembali memulai rapat dengan para menterinya terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat berusaha menghalau rasa cemburu yang mulai membakar hatinya.
Meski dia tak bisa mendengar isi pembicaraan keduanya, melihat bagaimana lembutnya gadisnya itu bersikap serta tatapan penuh arti dari pemuda dihadapannya membuat lelaki nomor satu dikekaisaran Ru tersebut murka.
Pranggg…..
Brakkkk…..
Kaisar Ru Xie Chang segera menghempaskan semua barang yang berada diatas meja kerjanya dan langsung memukul keras hingga meja tersebut terbelah menjadi dua.
Para pengawal yang ada diluar ruangan dan pengawal pribadinya hanya bisa terdiam menunduk tak berani bersuara merasakan aura dingin yang sangat mencekam keluar dari tubuh kaisar Ru Xie Chang.
“ Kurasa….”
“ Aku harus segera berkunjung ke kediaman Jiang secepatnya….”
“ Jika begini terus….”
“ Kucing – kucing liar itu, cepat atau lambat pasti akan mengambil gadisku…. ”, batin kaisar Ru Xie Chang penuh amarah.
Api cemburu yang berkobar didalam hatinya semakin lama semakin berkobar waktu melihat interaksi keduanya yang sudah seperti sepasang kekasih tersebut.
Jika tidak ingat jika hari ini dia akan melakukan rapat penting dengan para menteri didalam istananya, mungkin saat ini juga dia akan langsung menuju tempat dimana Jiang Xia Yan melakukan pertemuan dengan Han Shan Yang dan membawa paksa pergi gadisnya.
" Achhhh.....",teriak kaisar Ru Xie Chang penuh amarah.
Brakkkk.....
Diapun menutup pintu ruang kerjanya dengan kasar dan emlangkahkan kakinya dengan lebar menuju temoat pertemuan berlangsung..
" Aku sangat kasihan dengan para menteri yang akan rapat dengan Yang Mulia hari ini...."
" Mereka pasti akan mendapatkan imbas atas suasana buruk hati Yang Mulia saat ini....", batin pengawal pribadi kaisar Ru Xie Chang sedih
Bukan hanya kaisar Ru Xie Chang saja yang kesal, Feng Mo Tian juga terlihat sangat geram karena dia sama sekali tak bisa mendengar percakapan antara Jiang Xia Yan dengan Han Shan Yang karena ruang pribadi yang mereka gunakan sudah gadis itu lapisi dengan pelindung sehingga kedap suara.
Melihat pemuda dihadapannya mulai terlena maka Jiang Xia Yan pun mulai melancarkan aksinya.
“ Aku ingat….”
“ Lima belas tahun yang lalu ada seorang hakim yang cukup berdedikasi diprovinsi Qionghe yang memiliki nama Han Jing Won….”
“ Tapi sayangnya, hakim tersebut terlibat dalam suatu masalah besar hingga keluarga kekaisaran memusnahkannya hanya dalam waktu satu malam….”
“ Aku mendengar hakim Han Jiang Won memiliki sepasang anak yang luar biasa….”
“ Perempuan dan laki – laki yang masih sangat muda….”
“ Meski rumor yang beredar menyebutkan jika keduanya meninggal dimalam tragedi tersebut, tapi ada seseorang yang selamat menyebutkan jika keduanya masih hidup….”
“ Sedangkan satu orang yang selamat dan diduga sebagai dalang pemusnahan tersebut saat ini malah hidup nyaman didalam istana dengan merubah identitasnya…”
“ Sungguh cerita yang mengharukan…..”,
Jiang Xia Yan terlihat berwajah sedih setelah menceritakan semuanya kepada Han Shang Yang.
Yinhang dan Chyou melotot seperti harimau dan tangan kanan mereka sudah berada diatas pedang yang tersampir dipingganng mereka menunggu jika Han Shan Yang berani bertindak maka mereka juga akan langsung beraksi.
“ Siapa kamu sebenarnya ?....”, ucap Han Shan Yang dengan tubuh bergetar.
Jiang Xia Yan mendesah mendengar pertanyaan tajam yang keluar dari mulut Han Shan Yang sambil meneguk anggur yang ada didalam cangkirnya secara perlahan hingga semburat merah mewarnai wajah cantiknya.
“ Sebenarnya aku merasa beruntung karena mendengar rahasia ini…. ”
“ Karena guru memiliki marga yang sama dengan hakim tersebut maka aku juga akan membagi rahasia ini dengan guru….”, ucap Jiang Xia Yan gamblang.
Diapun kembali meneguk anggur yang ada dicangkirnya dengan tatapan sayu, seolah – olah dia telah mabuk berat.
“ Seseorang yang berhasil melakukan semua rencana licik dengan bersih dan rapi ini cukup berbahaya….”
“ Para pejabat seperti seekor serigala kelaparan….”
“ Begitu melihat ada yang berhasil lolos, mereka akan segera memburunya tanpa ampun….”
“ Demi menyelamatkan sang adik, anak perempuan hakim ini rela diculik dan dijual kerumah bordil…. ”
“ Sedangkan sang adik yang berhasil lolos ditemukan oleh seseorang yang baik hati dan dibawa ke provinsi Huen…”, ucap Jiang Xia Yan dengan wajah sedih.
Mendengar setiap kata yang meluncur mulus dari mulut Jiang Xia Yan membuat han Shan Yang menutup kedua matanya dan ekpresi pahit muncul diwajahnya.
Jiang Xia Yan sudah meminum pil yang tak bisa membuatnya mabuk, tapi obat tersebut tak bisa menyamarkan wajahnya yang memerah akibat tinginya kadar alcohol yang dia minum sehingga dia memanfaatkan hal tersebut untuk membuat Han Shan Yang percaya dnegan setiap hal yang dia ucapkan.
Seperti yang semua orang kethaui bahwa seseorang yang mabuk cenderung berkata jujur dan setiap kata yang mereka ucapkan berasal dari lubuk hati terdalam.
Masih dengan tatapan sayu dan kedua pipi yang sudah memerah, Jiang Xia Yan pun kembali bercerita yang mampu menggiring Han Shang Yang untuk berlabuh dalam perahu yang sama dengannya.
“ Karena aku melihat jika nona Han Wu Ying juga memiliki marga yang sama dengan hakim Han Jiang Won maka tadi aku menawarinya satu kesempatan agar dia bisa meninggalkan Wudao Jia selama – lamanya…..”, ucap Jiang Xia Yan sambil terus menuang anggur kedalam cangkirnya yang kembali kosong.
“ Menurut guru, apakah tindakanku ini sudah tepat ?....”, tanya Jiang Xia Yan meminta pendapat.
Han Shan Yang menatap Jiang Xia Yan tanpa berkedip. Meski gadis itu menyamar sebagai laki – laki, tapi melihat kedua pipinya yang merona merah ini dan bibirnya yang mengerucut membuat dirinya merasa sangat gemas.
Jika tidak menyadari jika sedari tadi pengawal pribadi nona muda ketiga Jiang ini sudah mengenggam pedangnya dan siap dilepaskan, mungkin Han Shan Yang akan mencubit kedua pipi Jiang Xia Yan yang cubby itu dengan gemas.
“ Bagaiman menurutmu ?....”, tanya Han Shan Yang sambil menatap intens dua bola mata yang terlihat sangat jernih dihadapannya itu.
Merasa jika Han Shan Yang sudah masuk kedalam jebakannya, Jiang Xia Yan pun tersenyum lebar seolah – olah dia merasa senang karena telah melakukan hal yang sangat baik.
“ Apa Guru tahu siapa anggota keluarga besar hakim Han yang lolos pada malam itu….”, tanya Jiang Xia Yan dengan senyum menggoda.
Sambil menuang kembali anggur didalam labu kristal kedalam cangkir Han Shan Yang, Jiang Xia Yan pun kembali bersuara.
“ Dia adalah adik hakim Han….”
“ Han Shuang Yun….”
“ Atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan selir Hien ibunda pangeran kedua Ming Shin….”, ucap Jiang Xia Yan menjelaskan membuat tubuh Han Shang Yang membeku seketika.
“ Kamu ingin aku melakukan apa untukmu ?…..”, tanya Han Shan Yang to the point.
Melihat mangsanya sudah masuk kedalam jebakannya, Jiang Xia Yan pun tersenyum penuh kemenangan.