Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
GONCANGAN


Pagi harinya, suhu udara musim semi yang dingin tampaknya tak mempengaruhi suasana pengadilan pagi ini yang terasa sangat panas.


Dihadapan semua menterinya, kaisar Ming Qin segera mengumumkan nama  - nama pejabat yang berkhianat dibelakangnya.


Bukan hanya dihukum penggal, status kebangsawan yang melekat pada mereka dan keluarga besarnya pun akan dicabut.


Hukuman berat ini jelas digunakan oleh kaisar Ming Qin agar menjadi contoh yang tegas bagi semua menteri yang ada agar tidak ada yang berani lagi untuk berkhianat dibelakangnya.


Selain untuk memperingatkan para menteri, tindakan kaisar Ming Qin tampaknya juga ditujukan kepada para pangeran yang saat ini sedang berjuang memperebutkan kursi putra mahkota agar tidak bertindak gegabah dan ceroboh.


Dekrit pengasingan selir Hien pun sudah berada ditangan kasim dan permaisuri Yihua sebagai kepala harem yang mengeksekusinya.


Selir Hien hanya bisa berlutut pasrah menerima dekrit yang dikeluarka kaisar Ming Qin dengan wajah sedih dan penuh amarah.


Dia sama sekali tak menyangka jika perjuangan selama puluhan tahun akan berakhir seperti ini. Bukan hanya dia diasingkan keistana dingin, tapi sang putra juga sudah menjadi buronan saat ini.


Ingin rasanya selir Hien mencakar wajah cantik permaisuri Yihua hingga menjadi cacat, tapi niatnya tersebut langsung terhenti waktu melihat para pengawal segera menyeretnya paksa keluar kediaman.


Semua selir yang melihat kemalangan selir Hien merasa senang karena selama ini kaisar Ming Qin sangat sayang dengan wanita tersebut dibandingkan yang lainnya sehingga banyak yang iri hati dan merasa tak puas akan hal tersebut.


Dengan ditemani salah seorang pelayan pribadinya, selir Hien pun berangkat menuju istana dingin dan meninggalkan segala macam kemewahan yang telah didapatkannya selama ini.


Selama perjalanan selir Hien hanya bisa termenung dan dia sangat berharap jika putranya atau Ru Tang bisa membawanya kabur.


Dia jelas sangat tahu bagaimana sifat permaisuri Yihua yang tentunya tak akan membiarkan dirinya hidup tenang selama masa pengasingan lima tahun disana.


Wanita nomor satu dikekaisaran Ming tersebut pasti akan menyiksa hidupnya atau bahkan mengambil nyawanya.


Dan selir Hien tak mau hal buruk tersebut menimpah dirinya. Setelah pengorbanan besar yang dia lakukan tentunya wanita itu tak akan pernah mau hidup sengsara seperti itu.


Sementara ditempat lain, Han Wu Ying yang mendengar jika selir Hien telah diasingkan diistana dingin selama lima tahun merasa sangat bahagia.


Meski dia tak bisa membalaskan dendam keluarganya dengan kedua tangannya sendiri, melihat bahwa bibinya itu akan hidup menderita selama lima tahun kedepan tentu membuat Han Wu Ying merasa sangat puas.


Sementara itu, Han Shan Yang telah dibawa ke tempat aman oleh Jiang Xia Yan pada malam kejadian berlangsung.


Dia tak ingin kehilangan orang berbakat seperti adik Han Wu Ying tersebut sehingga langsung mengamankannya begitu rencananya dijalankan.


Han Shan Yang dipindahkan ke semua pertambangan emas milik Jiang Xia Yan yang berada di kota Jingzao.


Disana jarang ada pendatang sehingga Han Shan Yang akan merasa aman dan tak mungkin bisa dideteksi oleh pangeran kedua Ming Shin dan Ming Ming.


Jiang Yu yang baru saja mengikuti pengadilan pagi keluar dari istana menuju ruang kerjanya dengan tubuh gemetar.


Baru saja dia mencecap kebahagiaan setelah pernikahan kini keluarga besar istrinya kehilangan status kebangsawanan mereka.


Bukan hanya kehilangan status, Mo Feng juga harus menjalani hukuman penggal bersama para pejabat lainnya yang mendukung pangeran kedua Ming Shin dibalik layar, keluarga mertuanya juga harus menyerahkan semua asset keluarganya kepada negara.


Tentu saja kondisi keluarga besar Mo tersebut sekarang lebih mengenaskan jika dibandingkan dengan kondisi keluarga besar Jiang saat ini.


Nyonya besar Jiang langsung pingsan setelah mendengar kabar tersebut. Sementara Mo Lian terlihat sangat sedih mendengar jika ayahnya akan dihukum penggal dan keluarga besarnya mengalami kemalangan tersebut.


Yang paling bahagia disini adalah Ruo Xinxin.  Wanita yang sudah hilang kewarasannya akibat putrinya menikah dan diperlakukan buruk serta keputusan sang suami untuk mengangkat dan memasukkan seorang selir langsung tertawa dengan keras sambil menari – nari melihat kemalangan suami dan keluarga besarnya.


Dia terus saja menari sambil tertawa terbahak – bahak sepanjang hari tanpa bisa dicegah oleh semua orang.


Untung saja Ruo Xinxin sudah dipindahkan dihalaman belakang kediaman keluarga ketiga sehingga apa yang dilakukannya tak sampai terdengar kediaman utama.


Ketegangan dan kesedihan menyelimuti seluruh keluarga besar para pejabat yang bersekutu dengan pangeran kedua Ming Shin.


Bahkan Feng Ting langsung memutuskan hubungan dengan kedua anak tiri dan selirnya Muro Nan karena tak ingin gelar kebangsawanannya dicabut dan asetnya disita oleh negara.


“ Suamiku…..”


“ Tolong jangan usir kami….”


Dia terus bersujud dikaki suaminya agar lelaki itu tak memutuskan hubungan dengan dirinya dan kedua anaknya serta mengusirnya dari kediaman Feng.


“ Apa kamu kira aku bodoh !!!....”


“ Anak tak tahu diri itu sudah kuperingatkan berkali – kali agar jangan terlibat konflik didalam istana…”


“ Tapi apa yang mereka berdua lakukan….”


“ Mereka malah berani datang kepertemuan tertutup itu....”, ucap Feng Ting penuh amarah.


Muro Nan terus bersujud sambil memegangi kaki Feng Ting berharap lelaki itu mau mengampuninya dan kedua anaknya kali ini.


Bruakkk…


Tubuh Muro Nan terbentur kursi waktu Feng Ting menendang tubuh wanita itu dengan kasar karena emosi.


“ Ayah !!!....”


“ Kenapa kamu menyakiti ibu !!!....”, teriak Feng Heng lantang.


Bughhh….


Bughhh….


Bughhh….


Feng Tiang memukul dan menendang anak ketiganya dengan brutal waktu pemuda itu terus meneriakinya karena tak terima ibunya disakiti.


“ Tampaknya aku terlalu baik terhadap kalian selama ini….”


“ Pengawal !!!.....”


“ Seret wanita dan kedua anaknya keluar kediaman dan jangan biarkan mereka menginjak kakinya dikediaman ini lagi !!!....”, teriak Feng Ting penuh amarah.


Muro Nan dan kedua anaknya tak bisa melawan para penjaga milik ayahnya yang sudah terlatih tersebut hingga ketiganya dapat dilempar keluar kediaman dengan mudah.


Warga yang kebetulan lewat segera menonton pertunjukan bagus tersebut sambil mencemoh karena banyak orang yang tak suka dengan sikap arogan Muro Nan dan kedua anaknya selama ini.


Pagi ini para warga menyaksikkan banyak kejadian menyedihkan ini setelah nama – nama pejabat yang berkubu dengan pangeran kedua Ming Shin ditempel dipapan pengumuman pagi ini sebagai pemberontak.


Rata – rata keluarga pejabat yang akan dihukum penggal keesokan harinya itu adalah keluarga bangsawan yang sombong dan sering berbuat semena – mena terhadap orang lain sehingga membuat banyak orang cukup bahagia melihat penderitaan mereka.


Jiang Xia Yan yang mendengar kehebohan tersebut merasa sangat senang. Apalgi waktu dia mendengar jika Song Noywen mulai saat ini akan hidup menderita.


Selain kehilangan status kebangsawanannya keluarga besar Song juga kehilangan kekayaannya akibat disita oleh negara.


“ Chyou….”


“ Bawa Yinheng bersamamu….”


“ Pastikan Song Noywen berakhir di rumah bungga malam ini….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Demi membalaskan dendam sang pemilik tubuh, Jiang Xia Yan tak akan membiarkan Song Noywen lolos begitu saja dari karma ini.


Dia akan memastikan bahwa gadis yang telah menjadi otak terbunuhnya dua orang anak dan diri Jiang Xia Yan dalam kehidupan sebelumnya terbayar tunai.


Jiang Xia Yan akan memastikan dengan kepalanya sendiri jika Song Noywen akan lebih menginginkan kematian daripada hidup menderita dan terhina.


Tapi Jiang Xia Yan juga akan memastikan bahwa gadis itu tak akan bisa mati dengan mudah dan akan terus menjalani siksaan selama hidupnya.


“ Dirumah bungga, aku harap dia bisa membayar semua kejahatan yang telah dia lakukan selama ini dan dalam kehidupan dimasa lalu….”, guman Jiang Xia Yan tersenyum bahagia.