Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PEMUSNAHAN


Meski sudah sempat turun salju, biasanya mendekati awal tahun baru cuaca di ibukota kekaisaran Ming akan berubah menjadi cerah.


Dan beberapa hari ini cuaca memang benar – benar cerah seperti yang terjadi pada tahun – tahun sebelumnya.


Tapi siapa yang menyangka jika malam  ini tiba – tiba ada badai salju yang langka menerjang kawasan ibukota kekaisaran Ming sehingga mampu menutup semua akses jalan di ibukota.


Tidak ada lagi pejalan kaki dan kios yang buka. Semuanya mengunci diri didalam rumah sambil melihat angin dingin yang menggigit bertiup tajam membawa salju yang kasar di udara.


Didepan pintu utama kediaman pangeran Ming Qianfan, lentera yang tergantung mulai bergoyang dengan kasar kesamping kiri dan kanan mengikuti hembusan angin.


Kedua penjaga yang sedang bertugas terlihat memegang labu anggur untuk menghangatkan tubuh mereka sambil bergosip.


“ Aku tidak menyangka jika akan ada wangfe baru masuk kedalam kediaman ini…”, ucap salah satu penjaga dengan wajah heran.


“ Ini tidak bisa disebut menikah, tapi lebih tepatnya dijual….”, ucap temannya menimpali.


“ Mungkin saja nanti wangfe baru ini, jika Yang Mulia bosan akan diberikan kepada kita….”, ucapnya dengan senyuman jahat.


“ hey…ada anak pangeran Ming Qianfan ada didalam rahimnya. Jika kamu tak menginginkan nyawamu maka lanjutkanlah….”, ucap temannya memperingati.


Keduanya yang sudah setengah mabuk mulai tertawa terbahak – bahak. Hari ini adalah hari pernikahan antara pangeran Ming Qianfan dengan wangfe barunya jadi penjagaan dikediaman sedikit diperlonggar.


Meski bukan pernikahan yang diinginkan, nyatanya suasa hati pangeran Ming Qianfan yang cukup baik sehinga para penjaga dan pelayannya bisa berpesta malam ini.


Namun, senyum keduanya pudar waktu merasa ada air hangat yang menetes diwajah mereka secara bersamaan.


Begitu mengusap pipi, keduanya terbelalak waktu menyadari cairan merah berbau anyir tersebut adalah darah segar yang menetes dari atas.


Dan, ketika mendongak, keduanya melihat ada seorang penjaga yang menatapnya dari atas dengan darah menetes dari tenggorokannya.


“ Awas !!!....”, teriak salah satu penjaga dengan lantang.


Belum sempat menghindar, seketika cahaya perak melintas cepat dihadapan mereka dan sesuatu yang panas menyembur dari tenggorokannya yang telah putus dari badannya.


Bug….


Tubuh tanpa kepala itu pun langsung roboh diatas tanah yang diselimuti salju.


Temannya yang terkejut tak mampu menghindar dan merasakan jika dadanya terasa sangat perih dan panas kemudian diapun juga ikut jatuh ke tanah dengan darah segar mengalir dari jantungnya.


Setelah kedua penjaga tumbang, dari atap rumah puluhan orang mulai melompat kebawah dengan pakaian serba hitam dengan penutup kepala yang hanya menyisakan kedua mata yang bergerak liar menyapu keadaan sekitar.


Setelah melakukan gerakan tangan, sang pemimpin segera menyelinap tanpa suara kedalam kediaman pangeran Ming Qianfan.


Didalam kamar pangeran Ming Qianfan, Jiang Xiuying duduk ditepi tempat tidur dengan tubuh gemetaran.


Sedangkan pangeran Ming Qianfan berbaring disofa empuk yang ada didepannya sambil ditemani oleh dua orang pelayan cantik yang sedang menyuapinya kudapan dan memijit tubuhnya.


Bahkan tak segan – segan ketiganya menunjukkan kemesraan melalui kata – kata maupun tindakan yang membuat Jiang Xiuying merasa malu.


Pada awalnya Jiang Xiuying sangat berharap bisa menikah dengan pangeran kedua Ming Shin, seorang pemuda yang berbakat dan juga sangat tampan.


Tapi siapa yang menyangka jika dia pada akhirnya harus jatuh ketangan paman kekaisaran pangeran kedua MIng Shin yaitu pangeran Ming Qianfan.


Dan sebagai istri resminya, dimalam pernikahannya dia dipermalukan oleh wanita murahan yang ada dikediaman tersebut dengan kedok sebagai pelayan.


Jiang Xiuying yang merasa malu sekaligus marah terus saja mengutuk Jiang Xia Yan dalam hatinya dan semakin memupuk kebencian terhadap adik ketiganya itu secara membabi buta.


“ Kamu seharusnya sangat senang telah mengandung benih pangeran ini….”


“ Jika tidak….”


“ Maka kamu tak akan melewati malam ini dengan mudah….”, ucap pangeran Ming Qianfan dengan nada mengejek.


Mendengar hal itu, tubuh Jiang Xiuying semakin gemetaran karena mengingat kembali rasa sakit yang dialaminya pada waktu berada dalam kuil Guandong.


Melihat Jiang Xiuying ketakutan, ada rasa puas dalam hati pangeran Ming Qianfan.


Dia sangat menyalahkan Qianyi kenapa bisa melakukan hal ceroboh sehingga Jiang Xiuying bisa mengantikan Jiang Xia Yan.


Mengingat hal tersebut membuat hati pangeran Ming Qianfan menjadi tak senang.


Maka dari itu diapun kembali berkata yang bisa membuat wanita muda dihadapannya semakin gemetaran.


“ Tenang saja, aku tak akan memperlakukanmu dengan buruk….”


“ Setelah anak pangeran ini lahir….”


“ Para penjaga selama ini telah mengalami banyak hal buruk selama bertugas dikediaman…”


“ Karena kamu istri pangeran….”


“ Maka sudah sepantasnya kamu menghibur mereka…..”, ucap pangeran Ming Qianfan terkekeh.


Sementara Jiang Xiuying yang mendengar ucapan tersebut sangat marah karena merasa harga dirinya benar – benar direndahkan.


“ Bagaimana bisa dia akan memberikanku kepada para penjaganya begitu aku melahirkan anaknya !!!….”


“ Aku bukan p*****r !!!....”


“ Seharusnya Jiang Xia Yan lah yang pantas menjadi p*****r seperti itu !!!....”, batin Jiang Xiuying penuh kemarahan dan dendam kepada adik ketiganya semakin dalam.


Waktu pangeran Ming Qianfan sedang menikmati ekpresi ketakutan dan putus asa dari Jiang Xiuying tiba – tiba tubuh dua pelayan yang sedang menghiburnya gemetar, membuatnya menautkan kedua alisnya heran.


Belum juga pangeran Ming Qianfan bertanya, salah satu pelayan yang tadi menyuapinya buah tiba – tiba saja jatuh kedalam pangkuannya dan langsung mengalungkan kedua tangannya.


Pangeran Ming Qianfan yang mengira jika pelayan tersebut tak sabar untuk memuaskannya tersenyum senang.


Tapi dia tidak tahu jika diam – diam pelayan tersebut mengambil jepit rambutnya dan langsung menusukkanya di tenggorokan pangeran Ming Qianfan.


Pangeran Ming Qianfan berteriak dengan keras dan langsung membanting tubuh pelayan yang menyerangnya tersebut.


Melihat temannya dibanting, satu pelayan yang tadinya memijit kaki pangeran Ming Qianfan mulai melancarkan serangan.


Pangeran Ming Qianfan yang memiliki ilmu kultivasi meski tak terlalu tinggi segera menghajar kedua pelayan yang berusaha untuk menyerangnya itu hingga mereka langsung meninggal ditempat.


Melihat secara langsung aksi percobaan pembunuhan itu, Jiang Xiuying yang panik dan ketakutan langsung bersembunyi dibawah meja.


Setelah berhasil bangkit, denagn nafas tersenggal dan menahan rasa perih yang ada pangeran Ming Qianfang segera mencabut jepit rambut yang ditusukkan tepat kelehernya itu hingga darah segar menyembur keluar dengan sangat deras.


“ Penjaga !!!....”


“ Ada pembunuh !!!....”, teriak pangeran Ming Qianfan lantang.


Seorang penjaga datang dengan cepat begitu teriakan pangeran Ming Qianfan terdengar lantang dari dalam kamar.


“ Pergi dan periksa darimana asal mainan ini !!!....”, ucap pangeran Ming Qianfan sambil menendang tubuh kedua mayat wanita yang ingin membunuhnya tersebut dengan kasar.


“ Baik….”, ucap penjaga itu membungkuk hormat.


Saat pangeran Ming Qianfan hendak berbalik, tiba – tiba ada kilatan perak menembus dadanya, tepat kearah jantunganya.


Membuat darah segar tersembur keluar dengan deras. Tubuh pangeran Ming Qianfan menjadi tak stabil, setelah beberapa langkah diapun langsung terjatuh dengan sempurna tanpa nafas.


Ujung pedang berkilau dimalam hari memantulkan noda darah yang sangat panjang.


Teknik yang digunakan oleh pembunuh ini sangat terampil, seperti penyembelih hewan yang hanya membutuhkan satu gerakan untuk membuat lawan langsung mati seketika.


Penjaga itu melirik seorang gadis yang bersembunyi dibawah meja dengan mata menyipit “ Apakah kamu Jiang Xiuying ?....”.


Jiang Xiuying merasa sangat senang karena ternyata seseorang yang membunuh pangeran Ming Qianfan merupakan penyelamatnya.


“ Apakah kamu dikirim oleh kakak kedua ?....”, tanya Jiang Xiuying dengan kedua mata berbinar cerah.


Penjaga itu tak mengatakan apa – apa dan langsung membalikkan badan berjalan keluar ruangan.


Jiang Xiuying yang yakin jika lelaki tadi ada suruhannya Jiang Yong segera mengambil beberapa emas dan perak yang tergeletak diatas meja dan membungkus dengan gaun pengantinnya.


Tepat pada saat dia membuka pintu, tubuhnya hampir terjatuh saat kakinya tersandung seorang penjaga yang telah tewas dengan bersimbah darah.


Dalam kegelapan malam, dapat  Jiang Xiuying lihat banyak bayangan hitam bergerak cepat dan diakhiri dengan suara teriakan yang membuat tubuhnya seketika merinding ketakutan.


Kediaman pangeran Ming Qianfan terlihat sangat menakutkan malam ini karena angin serta salju yang turun deras


membuat semua orang tak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi diluar sana.


Tapi, bau anyir yang sangat kuat menyelimuti udara kediaman pangeran Ming Qianfan malam ini.


Perlahan, salju yang semula putih bersih sekarang sudah berganti warna menjadi merah darah seperti aliran sungai yang mengalir deras.


Melihat hal tersebut Jiang Xiuying yang tak kuat menahan rasa takut dan bau anyir yang menyengat langsung tak sadarkan diri ditempat kejadian.