
Aula utama istana mulai sedikit berisik akibat ucapan yang diberikan oleh pangeran Ming Qianfan kepada kaisar Ming Qin.
Untuk sesaat, tatapan yang diberikan oleh semua orang kepada Jiang Xia Yan sangatlah aneh.
Ada yang terlihat bersukacita atas kemalangan yang diterima gadis itu namun tak sedikit juga yang berasa bersimpati terhadapnya.
Ekpresi Jiang Shing tenggelam setelah dia mengikuti arah pandang pangeran Ming Qianfan yang tertuju kepada putri kesayangannya.
Mendengar kata – kata pangeran Ming Qianfan, beberapa urat biru ditubuhnya seakan mau meledak seketika.
Jiang Shing adalah pejabat yang setia, tapi dia juga bisa melawan pangeran Ming Qianfan dengan seluruh tubuh dan nyawanya tanpa rasa takut jika itu harus dia lakukan untuk melindungi putrinya.
Bahkan sekarang Xiao Mei sudah memberikan tatapan tajam kearah pangeran Ming Qianfan seperti seekor induk yang siap menerkam siapa saja yang berusaha menyakiti anaknya.
Tubuh kaisar Ming Qin menegang, dia sama sekali tak menyangka jika Jiang Shing dan Xiao Mei akan memberikan perlawanan secara terang – terangan seperti itu kepadanya.
Seperti seorang yang siap melepaskan anak panah pada musuhnya, itulah arti tatapan tajam suami istri keluarga Jiang tersebut.
Kaisar Ming Qin tersenyum sangat dalam dan tidak dapat diprediksi dengan tatapan tajam menghunus langsung kearah keluarga Jiang.
“ Wanita muda mana dari keluarga Jiang yang disukai oleh adik laki –laki ?....”, ucap kaisar Ming Qin penuh perhatian.
Semua orang terlihat sangat gugup menunggu jawaban apa yang akan diberikan oleh pangeran Ming Qianfan atas pertanyaan kaisar tersebut.
Jiang Xiuying tak bisa lagi menahan kegembiraan hatinya. Diapun tersenyum lebar menunggu kemalangan adik ketiganya.
Tapi senyum lebar itu tak berlangsung lama saat tiba – tiba perutnya terasa sangat sakit yang teramat sangat.
“ Achhhhh !!!.....”, teriak Jiang Xiuying lantang.
Tak kuat menahan rasa sakit yang ada, Jiang Xiuying pun jatuh kelantai sambil berguling – guling untuk meredakan rasa sakit yang mendera.
“ Apa yang terjadi ?....”
“ Ying’er !!!....”, ucap Qianyi panik melihat anaknya kesakitan seperti itu.
Qianyi pun segera membawa anaknya kedalam pelukannya dengan panik agar Jiang Xiuying tidak kembali berguling – guling dilantai hingga membuat namanya menjadi buruk.
“ Akhirnya…pertunjukan dimulai….”, batin Jiang Xia Yan senang.
Jiang Xiulin menarik sedikit gaun ibundanya dengan hati bergejolak dan tanpa sadar dia melihat kearah dimana adik ketiganya berada.
Melihat kakak keduanya sedang memperhatikannya, Jiang Xia Yan memberikan sedikit senyuman kepada Jiang Xiulin sebelum akhirnya dia berbalik menghadap kearah ibunya.
“ Apa yang terjadi dengan kakak tertua ibu ?....”
“ Mungkinkah dia keracunan ?....”, ucapan keras Jiang Xia Yan tentu saja menarik perhatian semua orang, terutama kaisar Ming Qin.
“ Keracunan ?....”, kepanikan mulai melanda aula utama istana tersebut.
Melihat kepanikan yang terjadi, Jiang Xia Yan pun semakin memperburuk keadaan yang ada dengan bertingkah seolah – olah panik.
“ Mungkinkah ada pembunuh yang menyusup dalam pesta ?....”, ucap Jiang Xia Yan sambil menoleh kekanan dan ke kiri dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Kali ini bukan hanya para wanita yang memiliki eskpresi ketakutan, para pria dan kaisar Ming Qin pun mulai terlihat cemas.
Saat ini banyak tamu penting hadir dalam perjamuan, jika ada penyusup maka kekaisaran akan berada dalam bahaya.
Para penjaga diluar sudah mulai masuk dengan pedang panjang ditangan mereka. Pandangan mereka sangat tajam, seperti harimau sedang mencari mangsa.
Jiang Xia Yan mengandalkan kekuatan ucapannya untuk mengalihkan perhatian dan fokus semua orang terhadap ucapan pangeran Ming Qianfan sekaligus membuat adik kaisar Ming Qin sekarang terlihat seperti orang bodoh.
“ Sungguh cerdik….”, batin Feng Mo Tian yang berdiri disudut ruangan karena tak ingin bergabung dengan keluarganya.
Menyadari jika kekacauan ini tak akan berlangsung lama maka Jiang Xia Yan pun melanjutkan rencananya dan berbisik kepada ibunya.
“ Ibu…”
“ Lebih baik mencari tabib istana sekarang…”
“ Kakak tertua terlihat sangat kesakitan saat ini….”, ucap Jiang Xia Yan dengan wajah diselimuti kekhawatiran yang dalam.
Xiao Mei yang tersadar akan ucapan anaknya terlihat menatap Qianyi tak senang. Dia sangat geram bagaimana bisa adik iparnya itu tak melakukan apapun disaat putrinya kesakitan seperti itu.
Dengan gagah, Xiao Mei pun bergegas maju kedepan dan membungkuk hormat dengan kedua tangan terkepal kedepan kepada kaisar Ming Qin untuk menolong keponakannya yang sedang kesakitan tersebut.
Mendengar kakak iparnya meminta kaisar untuk memanggil tabib istana, secara spontan Qianyi pun berteriak histeris dari tempatnya.
“ Tidak !!!...”
“ Tidak boleh ada tabib yang memeriksa Ying’er !!!....”, teriaknya lantang.
Atensi semua orang langsung beralih dan menatap Qianyi dengan tatapan menyelidik kenapa wanita itu menolak untuk dipanggilkan tabib istana padahal kondisi anaknya sangat mengkhawatirkan seperti itu.
Qianyi yang menyadari kesalahannya, diapun kembali berucap untuk meralat ucapan yang dilontarkan sebelumnya.
“ Istri…istri pejabat ini mengatakan bahwa Ying’er tak ingin merepotkan tabib istana….”
“ Dan…lebih baik tak merusak suasana pesat dan hati semua orang…”
“ Untuk itu, istri pejabat ini akan mundur bersama Ying’er….”, ucap Qianyi terbata – bata.
“ Kata – kata macam ini !!!....”
“ Apakah suasana pesta lebih penting dari nyawa putrimu !!!....”, ucap Xiao Mei pedas.
Semua orang setuju dengan ucapan Xiao Mei, bagaimana bisa Qianyi sebagai ibu kandungnya malah tak menghiraukan kesehatan putrinya sendiri.
Bahkan dia juga menentang kakak iparnya yang berniat menolong Jiang Xiuying yang masih terlihat sangat kesakitan dilantai.
Jiang Quon sekali lagi merasa tertampar wajahnya. Jika bisa, dia tak ingin memiliki hubungan apapun dengan wanita bodoh yang beberapa hari terakhir ini selalu membuat masalah untuknya.
“ Nyonya pertama Jiang berkata benar…”
“ Sakit yang dialami nona muda tertua Jiang memang sesuatu yang harus segera ditangani…”
“ Perjamuan tidak sepenting hidup seseorang….”
“ Dan ini berlangsung di istana…..”
“ Tentu saja kami akan bertanggung jawab penuh akan hal ini sehingga tidak beredar rumor buruk diluar….”
Kali ini permaisuri Ming yang berbicara membuat Qianyi tak bisa langi untuk membantah.
Jiang Xiuying yang sangat takut jika masalah kehamilannya diketahui banyak orang memilih untuk bertahan.
“ Aku baik – baik saja….”, ucapnya dengan wajah pucat dan bibir membiru akibat menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Melihat jika bibi kedua dan kakak tertuanya hendak melarikan diri, Jiang Xia Yan pun tak akan melepaskannya dengan mudah.
“ Kakak tertua….”
“ Masalah ini tidak hanya terkait denganmu saja….”
“ Tapi melibatkan keselamatan semua orang yang berada dalam aula utama ini…”
“ Jika kamu benar – benar diracuni….”
“ Itu berarti seorang pembunuh telah berhasil menyusup dan semua orang sedang dalam bahaya sekarang…”
“ Bahkan jika kamu tak perduli dengan nyawamu sendiri….”
“ Bukankah seharusnya kamu juga memikirkan nyawa Yang Mulia….”, ucap Jiang Xia Yan Tajam.
Mendengar semua kata yang diucapkan oleh adik ketiganya, Jiang Xiuying hampir saja muntah darah setelah Jiang Xia Yan membawa nama kaisar dalam ucapannya.
Dengan tegas, kaisar pun segera memerintahkan seseorang untuk memanggil tabib istana agar apa yang dialami oleh nona muda tertua Jiang bisa diselidiki dengan jelas.
Mendengara hal itu, wajah Jiang Xiuying semakin pucat pasi. Begitu juga dengan Qianyi yang terus meruntuki perbuatan Jiang Xia Yan hingga membuatnya terjebak dalam masalah ini.
Sementara itu dalam hati Jiang Xia Yan merasa sangat puas melihat kekhawatiran, ketakutan dan kemarahan yang ditujukan oleh bibi kedua dan kakak tertua kepadanya.
" Tenang saja bibi\, malam ini aku akan membuat b*****n itu bertanggung jawab....", Jiang Xia Yan terlihat berbicara tanpa mengeluarkan suara.
Qianyi yang bisa membaca gerak bibir Jiang Xia Yan semakin geram dan menatap tajam gadis itu seoalh - olah ingin membunuhnya saat ini juga.
Melihat ekpresi bibi keduanya yang dianggap sangat lucu, Jiang Xia Yan pun memberikan senyuman mencemoh.
Tapi tentu saja senyuman itu hanya singkat dan sekarang dia kembali dengan wajah penuh kekhawatiran sambil menatap kakak tertuanya dengan iba.