
Setelah mendapatkan ijin dari kedua orang tuanya dan sang kakak, Jiang Xia Yan pun mulai mempersiapkan beberapa ramuan dan pil untuk dibawah ke kaisaran Ru.
Karena tak tahu berapa lama dia berada dikekaisaran Ru maka diapun menyuruh keempat pelayan pribadinya untuk mengurus semua hal yang berkaitan dengan rumah tangga pertama selama dia tak ada.
“ Chyou….”
“ Jika ada hal penting atau mendesak dan aku belum kembali….”
“ Kamu bisa menggunakan ini….”,
ucap Jiang Xia Yan sambil memberikan Chyou sebuah potongan liontin yang dia kenakan saat ini.
Sebelum kembali, ayahanda kaisar Ru Xie Chang sempat memberikannya sebuah kalung dengan liontin yang bisa dibelah jadi dua.
Liontin kalung tersebut bukan liontin biasa melainkan liontin yang sudah diberi mantra sihir dimana jika setengah dari liontin tersebut dipanggil maka sang pemiliki akan bisa merasakannya .
Dia berharap, sewaktu Jiang Xia Yan kembali ke kaisaran Ming dia bisa memberikan setengah dari liontin tersebut kepada keluarganya.
Dengan harapan gadis itu bisa merawat sang putra sampai benar – benar sembuh seperti sedia kala tanpa gadis itu harus mengkhawatirkan kondisi keluarganya.
“ Baik nona….”
“ Akan saya ingat selalu….”, ucap Chyou patuh.
Diapun segera menyimpan sebagian liontin beserta mantra pemanggil kedalam kantong pribadinya dan akan digunakan jika kondisi didalam kediaman genting.
Meski saat ini kondisi dalam kediaman keluarga Jiang sudah tenang, tapi dia juga tak bisa lengah terhadap musuh yang belum semuanya habis dia basmi.
Pagi – pagi buta, Jiang Xia Yan sudah pergi kedalam hutan yang berada tak jauh dari kediaman keluarga Jiang.
Yuyun dan lima prajurit kekaisaran Ru yang melihat kedatangan Jiang Xia Yan langsung memberi hormat dan segera mengajak gadis itu pergi dengan cara berteleportasi ke kaisaran Ru.
Namun, perjalanan kali ini tampaknya tak berjalan dengan mulus. Baru saja keluar kakinya menginjak tanah kekaisaran Ru tiba – tiba sudah ada serangan membabi buta datang kearah mereka.
Srattt…..sratttt….wushhhh….
Bola api tiba – tiba saja datang menyerang mereka secara bertubi – tubi, namun semuanya masih bisa ditepis oleh kelima prajurit kekaisaran Ru yang diperintahkan untuk mengawal perjalanan Jiang Xia Yan.
Tak lama kemudian, sekelompok orang berpakaian hitam bersenjata menyerang mereka secara membabi buta.
Trang….trang…trang…
Sethhh…sethhh….wush…
Bug….bug…bug….
Bunyi pedang saling bergesakan, saling hantam dan saling serang mewarnai pertempuran pada pagi buta tersebut.
Jiang Xia Yan masih bisa mengatasi para penjahat yang rata – rata memiliki tingkat kultivasi dilangit ketujuh tersebut dengan mudah hingga tiba – tiba ada sinar terang menghantamnya membuat tubuhnya terdorong hampir satu meter.
“ Sial !!!....”
“ Mereka ternyata menggunakan ilmu sihir….”, batin Jiang Xia Yan geram.
Untungnya Yuyun sigap dan bisa membunuh beberapa penyerang yang memiliki ilmu sihir hingga Jiang Xia Yan bisa terhindar dari bahaya.
Setelah para pengguna ilmu sihir telah tewas, Jiang Xia Yan pun bisa dengan mudah menghabisi yang lainnya karena tingkat kultivasi mereka masih berada dibawahnya.
“ Mari nona….”
“ Kaisar sudah menunggu kita….”,
ucap Yuyun dan langsung membawa pergi Jiang Xia Yan melalui teleportasi menuju kedalam istana.
Karena masih pagi buta jadi suasana istana masih sangat sepi sehingga Yuyun bisa menggunakan jalur ini untuk mencegah kejadian buruk jika ada yang berusaha untuk kembali menyerang mereka.
“ Apa yang terjadi ?....”, tanya Ru Qian dengan tatapan penuh selidik.
Melihat isyarat yang diberikan oleh Yuyun, Ru Qian pun segera menyuruh sang istri untuk membawa Jiang Xia Yan ke tempat dimana kaisar Ru Xie Chang berada.
Sementara dirinya segera membawa Yuyun dan kelima prajurit yang ditugaskan untuk menjemput Jiang Xia Yan ke ruang kerjanya untuk diinterogasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Meski tak mengetahui secara pasti, tapi Jiang Xia Yan memiliki firasat jika sekelompok orang yang menyerangnya adalah orang yang sama dengan yang menyebabkan kaisar Ru Xie Chang terluka.
Setelah membaca mantra dan ruang rahasi terbuka, Aidi Wu pun kembali keluar meninggalkan Jiang Xia Yan untuk mengobati sang anak.
Merasa ada sosok asing yang masuk kedalam ruangan, perlahan kaisar Ru Xie Chang membuka kedua matanya.
“ Cantik….”,
Itulah tanggapan pertama yang didapatkan oleh kaisar Ru Xie Chang begitu kedua matanya terbuka sempurna.
“ Apakah kamu yang berhasil menyembuhkanku ?....”, tanya kaisar Ru Xie Chang dengan nada dingin.
Meski dia terpesona akan kecantikan gadis muda yang ada dihadapannya itu, tapi ego kaisar Ru Xie Chang yang tinggi membuat wajahnya tampak datar dan suara serta ekspresi yang keluarpun terlihat sangat dingin.
" Bagaimana kondisi anda Yang Mulia ?....”
“ Apa sudah ada perkembangan ?....”, tanya Jiang Xia Yan lembut.
“ Cukup bagus….”, ucap kaisar Ru Xie Chang masih dengan nada datar.
Jiang Xia Yan pun langsung mengecek nadi kaisar Ru Xie Chang untuk melihat perkembangan kondisi tubuhnya saat ini.
Pada awalnya Jiang Xia Yan terlihat tersenyum lebar mengetahui jika kondisi kaisar Ru Xie Chang sudah cukup membaik sesuai dengan prediksinya.
Tapi tiba – tiba keningnya berkerut cukup dalam waktu dia merasa jika detak jantung kaisar Ru Xie Chang seperti orang yang habis jogging, membuatnya sedikit cemas.
“ Ada apa dengannya ?....”
“ Kenapa detak jantungnya sangat cepat ?....”, batin Jiang Xia Yan dengan tatapan menyelidik.
Kaisar Ru Xia Chang yang mendapatkan tatapan langsung dari Jiang Xia Yan dari jarak yang sangat dekat membuat detak jantungnya semakin tak beraturan.
Untung saja dia masih bisa menyembunyikan rona merah wajahnya hingga tak sampai malu karena terlalu gugup berdekatan dengan gadis cantik seperti ini.
“ Kenapa disaat seperti ini jantungku tidak bisa diajak kompromi….”, batin kaisar Ru Xie Chang sedikit kesal.
Jiang Xia Yan yang awalnya sedikit cemas, tapi setelah dia melihat daun telingga kaisar Ru Xie Chang memerah diapun tersenyum simpul.
“ Aku tak menyangka kaisar yang terkenal kejam ini bisa malu dan gugup berdekatan dengan seorang wanita….”, batin Jiang Xia Yan merasa lucu.
Tak ingin membuat kaisar Ru Xie Chang semakin gugup dan detak jantungnya semakin tak terkendali, Jiang Xia Yan pun melepaskan pegangan tangannya dan mulai sibuk untuk meracik obat buat pasiennya tersebut.
“ Hufttt…..”, kaisar Xie Chang terlihat lega waktu Jiang Xia Yan perlahan mulai menjauh darinya untuk merebus obat untuknya.
“ Ada apa denganku ?....”
“ Kenapa aku bisa segugup ini waktu berdekatan dengannya….”, batin kaisar Ru Xie Chang sambil mengusap dadanya yang masih berdebar meski tak sehebat tadi.
Kaisar Ru Xie Yan terlihat meruntuki dirinya sendiri yang tak berhasil mengontrol emosinya hingga membuatnya malu dipertemuan pertama mereka.
Setelah merebus obat, Jiang Xia Yan pun segera membawa obat tersebut agar bisa diminum kaisar Ru Xie Chang selagi hangat.
“ Ada apa dengan kakinya ?...”
“ Apa dia terluka ?....”,
Batin kaisar Ru Xie chang cemas waktu melihat jika Jing Xia Yan berjalan sedikit aneh.
“ Silahkan diminum Yang Mulia….”, ucap Jiang Xia Yan sambil menyerahkan semangkuk obat yang baru saja selesai direbusnya.
Setelah meminum obat yang sangat pahit itu, kaisar Ru Xie Chang pun langsung turun dari atas batu giok salju dan berjongkok diahadapan Jiang Xia Yan.
“ Apa yang anda lakukan ?....”,
Tanya Jiang Xia Yan terkejut waktu kaisar Ru Xie Chang tiba – tiba mengangkat bagian bawah gaun yang dikenakannya dan menatap kakinya.
“ Kenapa kamu tak memakai pakaian dalam ?....”,
Tanya kaisar Ru Xie Chang sambil meletakkan kaki Jiang Xia Yan dengan kasar sambil memalingkan muka.
“ Awww….”, jerit Jiang Xia Yan waktu kakinya dihetakkan sedikit keras.
Pakaian dalam dijaman ini selain memakai pakaian berlapis, para gadis biasanya akan memakia semacam celana panjang (legging) dan kaos kaki agar kakinya tak terlihat.
Namun untuk wanita muda, biasanya masih ada yang menggunakan celana panjang atau rok tipis putih sebagai lapisan paling dalam bajunya.
Biasanya diera ini juga pakaian wanita terdiri lima sampai sembilan lapis yang ada didalam tubunya, termasuk pakaian dalam tipis berwarna putih tersebut.
“ Itu karena terburu – buru maka aku tak sempat memakainya….”, ucap Jiang Xia Yan berbohong.
Aslinya dia malas menggunakan pakaian berlapis – lapis yang baginya sangat merepotkan dan sedikit berat jika dia gunakan untuk beraktivitas.
“ Sebaiknya kamu obati lukamu sebelum bertambah parah….”, ucap kasiar Ru Xie Chang sambil menyembunyikan wajahnya yang masih memerah menahan malu tersebut.
Mendenagr hal itu, Jiang Xia Yan pun langsung duduk dilantai dan mengamati luka yang ada dikakinya tersebut dengan intens.
“ Sial !!!....”
“ Ini beracun….”
“ Kenapa aku tak menayadarinya tadi….”, guman Jiang Xia Yan menggerutu.
Diapun segera mentotok beberapa bagian titik dikakinya agar racunnya tak menyebar sambil mengeluarkan salep dan meminum pil dari kantong peralatan pribadi yang dibawanya.
Kaisar Ru Xie Chang hanya bisa membulatkan kedua matanya melihat betis putih mulus yang ada dihadapannya itu.
Membuat desiran aneh didalam tubuhnya yang selama ini belum pernah dia rasakan sebelumnya sambil menggerutu “ Bagaiamana bisa gadis itu tak memiliki rasa malu memamerkan kakinya dihadapanku…”.