Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang

Pembalasan Dendam Putri Jenderal Perang
PENASARAN


Hari yang cerah baru saja dimulai dan Jiang Xia Yan masih perlu merencanakan segalanya karena bukanlah hal yang mudah untuk membalas dendam dan melindungi keluarga pertamanya dalam waktu bersamaan.


Permainan catur telah disiapkan dan bidak juga sudah melangkah selangkah demi selangkah sesuai dengan rute yang telah ditetapkan.


Wudao Jia masih ramai seperti dulu, apalagi baru – baru ini ada sekelompok penari keliling yang baru saja masuk kesana membuat pendapatan rumah bordil ini naik drastis.


Penari keliling ini adalah sekelompok wanita muda yang sangat cantik dan pandai sekali melontarkan kalimat rayuan yang bisa membuat para lelaki terbang melayang keatas awan.


Para lelaki yang haus belaian kasih sayang yang ada di ibukota langsung bergegas menuju Wudao Jia begitu kabar tersebut sampai ditelingga mereka.


Wudao Jia yang memang sudah ramai menjadi semakin bertambah ramai seiring masuknya wanita baru.


Para pria memiliki hasrat yang besar dengan hal – hal yang segar dan baru. Secara naluriah mereka akan langsung menyingkirkan sesuatu yang lama karena bosan.


Para penghuni Wudoa Jia menatap iri terhadap para penari yang baru datang tersebut karena telah menjadi primadona Wudao Jia dalam waktu singkat.


Seorang wanita gemuk dengan dandanan mencolok dan emas dikedua tangan dan lehernya tampak menyambut pelanggannya yang hampir satu bulan ini rutin menemuinya.


“ Tuan Yin hari ini anda tidak akan memilih nona muda Han Wu Ying lagi kan ?...”, tanya wanita gemuk tersebut genit.


Dia sangat berharap Yinhang kali ini datang dan mencoba penari baru yang masuk kedalam Wudoa Jia dengan harapan laki – laki muda yang royal itu akan tiap hari datang ke tempatnya sehingga pundi – pundi uangnya akan terus bertambah.


“ Masih aturan lama yang sama….”, ucap Yinhang dengan wajah datar.


“ Tuan muda Yin adalah orang yang penuh kasih sayang….”


“ Benar – benar anugerah bagi nona Han Wu Ying….”, ucapnya iri.


Wanita gemuk itupun segera naik keatas untuk memanggil Han Wu Ying agar bersiap menyambut tamu langganannya tersebut.


Semua orang yang datang ke Wudao Jia rata – rata akan mencari wanita muda baru setiap harinya, tapi tidak dengan Yinhang yang setia pada satu wanita.


Saat ini Han Wu Ying terlihat menyerah dengan Yinhang. Jika sebelumnya dia masih ingin menakhlukkan lelaki muda tersebut tapi sekarang dia sama sekali tidak memiliki mood yang bagus untuk itu.


Dia bahkan tak perlu repot – repot untuk merias wajahnya dan hanya berjalan menuju meja sambil menuangkan secangkir teh untuk pelanggannya tersebut.


“ Nona ini sangat berterima kasih kepada tuan Yin karena telah memilih Han Wu Ying seperti biasa….”


“ Kalau tidak, bagaimana Han Wu Ying bisa makan dalam situasi yang buruk ini….”, ucapnya dnegn nada datar.


Saat ini banyak pelanggannya lari kearah para penari yang baru saja datang di Wudao Jia sehingga pemasukannya perhari pun menurun secara drastis.


Dan hanya Yinhang yang masih setia datang kepadanya meski hanya duduk sambil melihat permainan musiknya.


Melihat ekspresi Yinhang yang sedikit serius dibandingkan biasanya dan terlihat seperti ingin berbicara sesuatu hal yang penting membuat Han Wu Ying pun duduk terdiam didepannya.


“ Ini bukan aku….”, ucap Yinhang membuka percakapan.


Melihat raut wajah kebingungan yang ditunjukkan oleh Han Wu Ying, Yinhang pun berusaha untuk menjelaskannya.


“ Orang yang memberimu uang bukanlah aku….”


“ Tuanku akan datang kesini dua hari lagi dan memberimu banyak uang dengan syarat kamu tidak menerima tamu sampai tuanku datang….”, ucap Yinhang menyampaikan pesan yang diberika oleh Jiang Xia Yan kepadanya.


“ Siapa tuanmu ?....”, tanya Han Wu Ying bersikap waspada.


“ Untuk saat ini….”


“ Hanya ini yang bisa aku sampaikan….”


“ Jadi, untuk sementara jangan terima pelanggan lain….”, ucap Yinhang datar.


“ Tuan….”


“ Aku tidak tahu siapa tuanmu…”


“ Tapi aku adalah wanita Wudao Jia….”


“ Jika aku tak menerima pelanggan….”


“ Bagaimana aku bisa hidup….”, ucap Han Wu Ying sambil tertawa.


Melihat Yinhang hanya terdiam, Han Wu Ying pun terlihat sedikit geram.


“ Tuanku adalah orang yang baik….”


 Jadi, kamu tidak perlu takut….”, ucap Yinhang menjelaskan.


Mendengar ucapan Yinhang, suasana hati Han Wu Ying menjadi lebih baik dan diapun kembali berkata “ Kenapa aku harus mempercayaimu….”


Tak menjawab pertanyaan Han Wu Ying, Yinhang langsung menambahkan satu kantong tael emas kedalam wadah yang ada dihadapannya.


Seketika senyum merekah diwajah Han Wu Ying. Dia cukup penasaran siapa gerangan tuan dibalik Yinhang yang sangat royal tersebut.


Salju halus turun malam ini membuat langit yang pada awalnya cerah menjadi gelap tanpa adanya bulan dan bintang yang menyinari.


Setelah kedatangannya, Xiao Mei mengurungnya didalam kamar. Wanita itu terus menanyainya dengan detail mengenai apa saja yang dia lakukan selama berada dikekaisaran Ru.


Sebagai ibu tentu saja Xiao Mei merasa khawatir gadisnya yang masih polos berada dinegara tetangga sendirian.


“ Disana tidak terjadi apa – apa bu….”


“ Ibunda jangan cemas….”, ucap Jiang Xia Yan untuk kesekian kalinya berusaha menangkan wanita yang telah melahirkannya itu.


“ Benarkah ?....”


“ Apakah kaisar Ru Xie Chang benar – benar baik terhadapmu ?....”, Xiao Mei masih saja merasa curiga tapi dia tak mendapatkan apapun dari sang putri bagaimana kerasnya dia mendesak.


Melihat jika hari sudah semakin larut, Jiang Xia Yan pun pamit undur diri dengan alasan kondisinya sangat lelah pasca kembali dari kekaisaran Ru.


“ Baiklah….”


“ Istirahatlah lebih awal….”, ucap Xiao Mei hangat.


Jiang Xia Yan bersama Lin dan Chyou pun melangkah menuju halaman kediamanannya sendiri sambil membahas apa saja yang terjadi selama dirinya tak berada dirumah.


“ Jadi, mereka bernita menjebak kakak….”, ucap Jiang Xia Yan tajam.


Entah kenapa dia merasa aneh, seharusnya yang menjebak kakaknya adalah cucu Gui Momo jika dia melihat lagi memori ingatannya terdahulu.


Tapi karena Gui Momo telah tewas, maka dia anggap masalah ini akan berlalu begitu saja dan kakaknya aman.


Dia sama sekali tak menyangka jika suratan takdir itu masih ada tapi dengan orang dan cara yang berbeda.


Maka dari itu Jiang Xia Yan pun mulai mengatur strategi agar niat busuk nyonya besar Jiang tersebut bisa kembali lagi kepada dirinya.


“ Kurasa ini saatnya aku menghilangkan kakak kedua….”


“ Tampaknya surga benar – benar mendukung rencanaku….”, batin Jiang Xia Yan tersenyum licik.


Karena terlalu lelah, Jiang Xia Yan pun menyuruh keempat pelayannya untuk kembali ketempatnya dan beristirahat lebih awal.


“ Hmmm…dia lagi….”, batin Jiang Xia Yan sambil menghembuskan nafas dengan kasar.


Nyala api lilin didalam kamarnya sedikit berkedip dan dapat dia lihat ada seseorang yang duduk miring didepan mejanya.


Seluruh tubuhnya seperti menyatu dengan kegelapan malam dan hanya meninggalkan garis emas yang terlihat bercahaya dibeberapa bagian pakaian yang dikenakannya.


Salah satu tangannya terlihat mengepal dan satu lainnya membalik – balikkan buku militer yang ada diatas mejanya dengan malas.


Mengetahui jika gadis yang ditunggunya telah datang, diapun sedikit mendogak menampakkan wajah tampannya yang bersinar dibawah cahaya lilin yang meneranginya.


“ Kenapa kamu pulang sangat larut ?....”, tanyanya protes.


Laki – laki muda itu sekarang sudah seperti seorang suami yang merasa tidak puas karena istrinya pulang terlambat kerumahnya.


“ Sepertinya aku tak mengundangmu, tuan muda Feng….”, ucap Jiang Xia Yan dengan nada datar dan dingin.


“ Aku sudah lama menunggumu disini….”


“ Dan aku lapar sekarang….”, ucapnya seperti seorang suami yang sedang merajuk.


Mendengar hal tersebut Jiang Xia Yan pun menatap Feng Mo Tian jengah dan sedetik kemudian dengan nada datar dan dingin diapun kembali berkata “ Enyahlah sekarang juga !!!.....”.